
Hari ini Mba Retno sedang sibuk di dapur. Dia sedang mengolah bahan makanan yang ada di kulkas pribadinya. Jari-jari lentiknya bermain dengan adonan dan alat-alat memasak. Entah apa yang akan dibuat.
"Assalamualaikum!" Nathan mencium punggung tangan ayah dan ibu secara bergantian.
"Walaikumsalam,"
"Sepertinya Ayah dan Ibu sedang santai?"
"Eh, iya nih, Nath. Kami memang sedang bersantai membicarakan mu!" gelak Ibu.
"Ibumu bisa saja," timpal Ayah.
"Memangnya apa yang Ibu dan Ayah bicarakan tentang aku?"
"Banyak, Nak," kekeh Ayah, "Bagaimana penjualan rumahmu?"
"Alhamdulillah, orang yang baru saja melihat rumah Nathan, istrinya sangat menyukai rumah Nathan. Dan harganya juga cocok, mereka pun langsung setuju untuk membeli rumah Nathan,"
"Alhamdulillah. Ibu ikut senang, Nak!"
"Terimakasih, Bu. Ini juga berkat doa Ibu dan Ayah,"
"Oya, Apakah kau sudah mendengar kabarnya Michie?" tanya Ibu.
"Belum, Bu," jawab Nathan, "Michie belum memberi kabar apapun. Berkali-kali Nathan telepon, ponselnya nggak aktif."
"Lho, kok begitu! Apakah keluarganya sudah tidak memperbolehkan kalian berhubungan lagi?"
"Sudahlah, Bu. Jika memang keputusan mereka seperti itu, Apa boleh buat! Sekarang yang harus Nathan lakukan adalah bangkit dari keterpurukan. Dia harus memulainya lagi dari nol. Dan kita sebagai orang tua harus mensupport dia supaya bersemangat dan gigih mencari rezeki,"
"Iya, Yah. Ibu mengerti. Tapi, seharusnya Michie memberitahukan kabarnya kepada kita. Malah justru nggak ada kabarnya sama sekali," cebik Ibu.
"Bu, sudah ya. Ibu jangan su'udzon dulu. Nathan yakin kok, pasti Michie akan memberi kabarnya kepada kita," tutur Nathan.
"Lalu bagaimana proses perceraian kalian? Biasanya kalau sudah diajukan ke pengadilan, kalian berdua harus datang untuk sidang. Kenapa justru tidak ada kabarnya sama sekali?" cibir Ibu. Nathan nampak berfikir. Apa yang dikatakan Ibu, ada benarnya juga. Harusnya memang sudah dipanggil oleh pengadilan, tapi belum ada kabar apapun.
"Sudahlah, Bu. Aku rasa kita tunggu kabar saja," tutur Nathan.
"Huft."
"Heran deh," gerutu Ibu.
"Sudahlah, Bu,"
"Sudah jadi!" seru Mba Retno seraya membawa baki berisi makanan.
"Wah, Kamu buat apa sih, Ret? Baunya enak sekali," puji Ibu. Tercium bau lezat pada makanan yang dibawa oleh Mba Retno.
"Retno bikin cheese stick Mozarella dan nasi biryani kambing. Cobain deh!" Retno meletakkan satu piring cheese stick ke meja.
"Ini untuk Ibu dulu!" satu porsi nasi biryani dengan daging goreng, Ia serahkan dulu kepada sang Ibu tercinta.
"Ini cheese sticknya. Tunggu! Retno ambilkan nasi biryani kambingnya untuk Ayah dan Nathan!" Retno kembali ke dapur dan membawa dua piring lagi untuk ayah dan Nathan. Satu porsi nasi Biryani yang menggugah selera dengan daging kambing goreng dan bawang goreng sebagai taburannya.
"Sepertinya enak, Mba. Aromanya wangi!" puji Nathan.
"Tentu saja. Ayo silahkan dicicipi!"
"Ehm, enak banget, Mba,"
"Apa ada yang kurang? Bumbunya atau apanya gitu!"
"Ini enak sekali, Retno. Bumbunya sangat pas. Ibu yakin jika dijual di Cafe pasti laku keras,"
__ADS_1
"Iya, Mba. Ini enak banget," puji Nathan lagi.
"Cobain cheese sticknya dong!"
"Wah, cheese sticnya juga enak, Nak," puji Ayah.
"Alhamdulillah, jika kalian suka," senang Retno. "Nath, mungkin nasi biryani cocok untuk menu andalan cafe. Pelanggan tinggal pilih saja. Ada nasi biryani kambing, nasi biryani ayam, dan nasi biryani empal goreng. Bagaimana Nath?"
"Wah, ide bagus, Mba. Nathan setuju banget,"
"Alhamdulillah kamu setuju, Nath. Nanti ada cemilannya juga, Nath. Setiap hari akan ada pergantian menu, jadi pelanggan tidak bosan,"
"Itu ide yang bagus, Mba,"
"Semoga kalian semua diberikan kesuksesan dan kelancaran oleh Allah,"
"Amin,"
Seorang wanita cantik sedang berdiri di dekat mobilnya. Dia terlihat sangat bingung kala mobilnya mengeluarkan asap begitu banyak. Saking paniknya, dia berjalan mondar-mandir di dekat mobil hingga meniup-niup asap tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang laki-laki kepada wanita tersebut.
"Eh, iya. Tolong Mas, mobil saya mogok dan mengeluarkan asap banyak!" ujar wanita itu panik.
"Boleh, saya lihat!"
"Boleh, boleh. Silahkan!" ujar wanita cantik itu.
Pria itu adalah Byan. Kebetulan mobilnya melintas, dan dari kejauhan melihat seorang wanita yang mengipasi asap mobil. Seketika terbitlah senyum dibibir manisnya.
"Sepertinya radiatornya bocor, Nona,"
"Saya akan hubungi orang bengkel langganan saya,"
"Duh, terus saya pulangnya bagaimana? Ini sudah malam banget," bingungnya.
"Iya, sudah. Nanti saya antarkan pulang,"
"Duh, nanti ngerepotin Masnya,"
"Nggak, saya nggak merasa direpotin kok,"
"Wah, terimakasih banyak, Mas," jawab wanita cantik itu mengualas senyum, "Oya, ngobrol dari tadi belum tahu siapa namanya. Perkenalkan nama saya Tasya. Nama masnya, siapa?"
"Panggil saja Byan,"
"Oh, Tasya panggil Mas Byan saja ya!"
"Terserah kamu saja," sahut Byan tersenyum tipis.
"Sebentar ya, Aku telepon dulu orang bengkel!"
"Iya, Mas. Maaf ya sudah merepotkan!"
"Nyantai saja,"
Setengah jam kemudian dua orang dari bengkel langganan Byan datang. Byan memperkenalkan orang-orang tersebut kepada Tasya. Tasya sedikit tenang, masalah mobilnya bisa teratasi.
"Pak ini harus dibawa ke bengkel!"
"Oh, berapa hari bisa diperbaiki?"
__ADS_1
"Mungkin besok sore sudah bisa diambil, Pak,"
"Baiklah. Nanti sore kami akan ke sana!"
"Oke! Mobilnya kami derek ya Pak!"
"Oh, Silahkan!"
"Tasya, mana kuncinya?"
"Ini mas," ucap Tasya menyerahkan kunci mobilnya.
"Ayo, akan aku antarkan pulang!" ajak Byan setelah mobil Tasya di bawa dengan mobil derek.
"Ehm ... !" Tasya nampak berfikir.
"Jangan khawatir! Aku bukan orang jahat kok!"
"Baiklah,"
Tasya pun naik ke mobil Byan. Byan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Melihat Tasya yang tidak tenang, Byan tersenyum geli.
"Kamu jangan khawatir. Saya bukan orang jahat!" ucap Byan terkekeh melihat wajah Tasya yang tegang.
"Iya, Mas," ucap Tasya memaksa untuk tersenyum, "Oya, Mas. Nanti mobil saya bagaimana?"
"Tenang saja! Mereka orang langganan saya Kok! Besok sore, kita ambil,"
"Besok sore?"
"Iya, besok sore," ucap Byan sambil fokus mengendarai mobilnya, "Kita lewat mana ini?"
"Ke Jalan Flamboyan 2,"
"Rumah kamu?"
"Bukan. Itu kontrakan," jawab Tasya tersenyum.
"Oh,"
"Nanti belok ke kanan, berhenti tepat di Nomor 114,"
"Okey,"
Mobil Byan berhenti tepat di rumah sederhana bertuliskan nomor 114. Rumah bercat biru dan putih. Sederhana namun terkesan sangat nyaman dan bersih. Tasya turun dari mobil.
"Terimakasih banyak, Mas,"
"Sama-sama," sahut Byan, "Oya, bolehkah aku minta nomor telepon mu?"
"Boleh. Ini!" Tasya memberikan kartu namanya kepada Byan.
"Mau mampir?" tawar Tasya.
"Nggak usah. Sudah malam juga. Mungkin lain kali,"
"Oh, begitu. Baiklah, Saya ucapkan terimakasih banyak, Mas Byan,"
"Sama-sama. Saya pulang dulu!"
"Bye,"
to be continued ...
__ADS_1