
"Bagaimana, Nak?" tanya Bara kepada putranya yang terlihat sangat lesu. Disamping Ayah ada Ibu dan Mba Retno yang penasaran ingin tahu ceritanya.
"Nathan sudah menceraikan Michie, Yah," lirih Nathan.
"A-pa?" kaget Ibu dan Mba Retno. Berbeda dengan Bara, dia nampak tenang, menguasai hatinya.
"Kok kamu menceraikan istrimu sih, Nat? Memangnya Michelle mau kamu ceraikan?" tanya Mba Retno.
"Nathan nggak ketemu dengan Michelle, Mba. Michelle sedang nggak di rumah," ujarnya, "Tapi, saat Nathan datang ke rumah Abah. Abah sudah mempersiapkan surat perceraian untuk Nathan tandatangani," terang Nathan.
"Kok gitu? Orang tua macam apa itu?" kesal Mba Retno, "Mana ada sih orang tua menginginkan perceraian anaknya!".
"Sudahlah, Retno. Itu sudah menjadi keputusan keluarga mereka," tutur Ayah, "Kamu harus ingat, Bagaimana Nathan mengkhianati pernikahannya. Semua orang tua, pasti menginginkan kebaikan untuk putra-putrinya!"
__ADS_1
"Iya sih, Yah. Tapi Nathan kan sudah bertaubat. Dia juga sudah mendapatkan karmanya!" ucap Mba Retno.
"Retno, kamu diam saja. Apakah kamu tidak merasa kasihan kepada adikmu? Lihatlah, dia sedang dalam keadaan terpuruk!" tutur Ibu, "Jangan buat Nathan semakin terpuruk. Kita sebagai keluarga harus memberikan dukungan dan semangat!"
"Iya, Bu. Maafkan Retno," lirihnya.
"Malam ini, tidurlah disini!" suruh Ibu, "Ibu tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja,"
"Terimakasih, Bu!" lirih Nathan.
"Baik, Bu. Retno akan membersihkan kamar Nathan. Cuma ganti sprei saja kok. Kamarnya sudah bersih, karena setiap hari kan selalu Retno sapu," ucap Retno.
Nathan nampak tidak bersemangat membuka pintu kamarnya. Kamar yang tidak terlalu besar, dan tidak juga terlalu kecil. Kamarnya dulu, saat dia masih belum menikah. Meskipun sudah lama tidak ditempati, namun masih terlihat rapi dan bersih.
__ADS_1
Dia baringkan tubuhnya di atas kasur busa yang empuk. Sambil memandang langit-langit kamarnya, bibir Nathan tidak berhenti berdzikir. Setetes air bening mengalir disela maniknya.
"Maafkan aku Michelle, aku tidak bisa mempertahankan pernikahan kita. Apa yang dikatakan Abah benar. Kamu berhak bahagia dengan laki-laki yang baik, Soleh dan taat beragama. Tidak seperti aku. Aku hanyalah seorang pendosa, yang tidak pantas untuk dicintai. Kau sudah terlalu baik untukku. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan mu!" monolognya. Tidak terasa matanya terpejam.
Disepertiga malam, Nathan terbangun. Dia mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud. Hatinya terlalu rapuh untuk saat ini. Dia memohon kepada Sang Khalik untuk menguatkan hatinya. Supaya dia kuat dan tabah menjalani takdir yang digariskan oleh Allah.
Selesai sholat tahajud, dia melanjutkan dengan sholat subuh. Ada ketentraman sendiri di hati Nathan. Pikirannya pun sedikit tenang. Tapi, keyakinannya kepada Sang Pencipta tidak akan luntur.
...'Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.' - QS. Al Baqarah ayat 216...
...Sabar adalah perbendaharaan surga yang tidak diberikan oleh Allah kecuali bagi hamba yang mulia di sisi-Nya. - Imam Abu Hasan Asy'ari...
...Jika kamu mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Jika ia kembali, maka ia milikmu. Namun jika tidak kembali, ketahuilah maka dia bukan milikmu." - Ali bin Abi Thalib...
__ADS_1
..."Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya." - QS Ath-Thalaq 8...
to be continued...