
Malam ini Nathan harus begadang. Baby Agam tidak mau tidur, bayi kecil itu terjaga sampai dini hari. Nathan merasa kasihan melihat istrinya yang kelelahan karena menyusui. Dia pun gantian menjaga baby mungil itu.
"Cup, Cup, Sayang! Ayo tidur! Ini sudah malam, Sayang!" ucapnya. Nathan menggendong anaknya dengan sayang, "Kasihan Bunda kamu, Nak! Lihat Bunda kelelahan!"
Selama dua jam menggendong, akhirnya Agam terlelap. Nathan meletakkan bayinya di dalam box bayi. Kemudian dia ikut terlelap di samping istrinya.
____
____
Keesokan harinya,
Sayup-sayup Michelle mendengar suara adzan. Dia terbangun. Dia membangunkan suaminya yang sudah terlelap.
Manik suaminya terlihat sangat merah. Lingkaran matanya menghitam. Mungkin tadi malam sang suami terjaga karena Agam tidak kunjung tidur. Dia tersenyum, dan membangunkan sang suami dengan lembut agar bangun dan melaksanakan sholat subuh.
Nathan berusaha untuk membuka matanya. Rasanya sangat mengantuk, tapi, mendengar suara istrinya yang lembut membangunkan, dia menjadi semangat lagi.
"Sholat subuh dulu, Sayang!" ucap Michelle sambil mengecup bibir sang suami.
"Ehm, Aku masih ngantuk! Tapi aku nggak boleh meninggalkan sholat! Terimakasih istriku!" ujarnya sambil membalas kecupan sang istri.
"Sudah sana mandi terus sholat subuh!"
____
____
Selagi Agam masih tertidur. Michelle membantu Mba Retno menyiapkan sarapan. Meskipun sudah memiliki anak, dia tidak mau hanya duduk bersantai di rumah. Dia juga memiliki kewajiban untuk mengurus suaminya.
Michelle masuk ke kamar dengan membawa susu sapi. Tadi baru saja pengantar susu mengantarkannya ke rumah.
Suaminya tertidur pulas. Sehabis sholat subuh, Nathan tidur kembali. Michelle jadi tidak tega melihat suaminya kurang tidur.
"Mas, Bangun!"
"Hem," Nathan menggeliatkan tubuhnya.
"Mas ke Cafe nggak?"
"Iya, Sayang! Aku harus kerja! Sudah satu Minggu lebih kan, Aku nggak ke cafe!"
"Kalau begitu, ayo bangun! Nih aku bawain susu hangat!"
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Sayang!"
Hoam ...
Michelle terkekeh geli. Rupanya sang suami ngantuk berat. Berkali-kali dia menguap.
"Kalau masih ngantuk, nggak usah berangkat satu hari lagi kan nggak apa-apa, Mas?"
"Jangan dong, Sayang! Kasihan Mba Retno! Nanti pelanggan kita pada kabur kalau Cafe nggak buka terus!" ujarnya, "Lagian nih ya, Sekarang tanggung jawab aku kan bertambah satu lagi! Jadi aku harus semangat dong cari rezeki buat kamu dan Agam!"
Michelle tersenyum. Seiring berjalannya waktu, suaminya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Dan semua adalah berkat doa yang selalu dia panjatkan kepada Sang Maha Pencipta.
"Doakan Mas ya! Semoga cita-cita kita untuk segera memiliki rumah tercapai! Biar kita nggak numpang terus di rumah Ayah dan Ibu!"
"Iya, Mas. Michelle berdo'a terus kok!"
"Ya sudah, Aku mau siap-siap!"
Sementara itu, Michelle menyiapkan segala keperluan sang suami di atas kasur. Dari baju, celana dan **********.
____
____
Mereka sarapan dalam suasana yang gembira. Apalagi Abah, dia paling bahagia. Sedangkan Umi membantu Michelle memandikan Baby Agam.
"Pelan-pelan saja, Nak! Yang penting hati-hati, jangan sampai kena mata!" tutur Umi.
"Iya, Umi!"
Umi juga mengajari Michelle cara merawat bayi dengan benar. Sedikit demi sedikit, Michelle sudah mulai mahir. Bahkan sekarang dia bisa memberikan ASI eksklusif pada buah hatinya. Rasanya bahagia sekali, seorang Ibu bisa memberikan ASI eksklusif pada buah hatinya.
____
____
Selesai dimandikan, Baby Agam terlihat sudah segar dan wangi khas bayi. Bayi mungil itu sudah tampan. Saat Nathan akan berangkat bekerja, dia begitu gemas dengan baby-nya. Dia begitu enggan untuk meninggalkannya.
"Mas berangkat dulu ya, Sayang!" Dia menciumi pipi gembil anaknya.
"Hati-hati ya, Mas!" Michelle mencium punggung tangan suaminya.
"Ayah berangkat kerja ya, Sayang! Doakan ayah agar semuanya lancar!"
__ADS_1
"Amin." sahut Michelle.
°°°°°°°
Lain dengan Michelle, lain pula dengan Dewi. Setelah semua tahanan tahu Dewi memiliki penyakit mematikan. Mereka enggan untuk berdekatan dengannya. Dengan kasar mereka mendorong tubuh Dewi agar menjauh.
Badan Dewi semakin lemah. Apalagi dia sempat tidak meminum obatnya selama satu bulan. Membuat virus itu semakin menggerogoti tubuhnya. Daya tahan tubuhnya semakin lemah.
____
____
Hari ini Ayah, Ibu dan Faiz datang menjenguk. Dewi begitu bahagia. Dia menangis di hadapan mereka, dan menyesali semua perbuatannya.
Salma menangis sedih. Dia merasa gagal menjadi seorang Ibu. Karena dirinyalah nasib putrinya sangat menderita. Dia berharap keluarga Michelle mau mencabut laporannya. Agar hukuman Dewi bisa dikurangi.
"Jaga diri kamu baik-baik! Kami akan berusaha membujuk Paman supaya Paman Aang mencabut tuntutannya dan dia mau membayar jaminan untuk membebaskan mu!" ucap Kartono.
"Apa Ayah yakin, Paman akan melakukan itu?" tanya Dewi.
"Semoga ya, Nak, Dia masih mempunyai hati untuk memaafkan semua kesalahan kamu!" ujar Kartono lagi.
"Iya, Yah. Tolong Ayah segara menemui Paman!" Kartono menganggukkan kepalanya.
To be continued ...
Mana dukungannya?????😘😘😘
Vote ...
Vote ...
Vote ...
Vote ...
Vote ...
Vote ...
Vote ...
Vote ...
__ADS_1
Vote ...