Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 82 : Penangkapan Dewi


__ADS_3

"Baik, Saya bersedia mengantar Bapak-bapak polisi ke kediamannya!"


"Pak Bara, Saya pamit. Katakan kepada Nathan kalau saya ikut Polisi ke Bogor!"


"Tapi ... !"


"Tidak apa-apa! Jangan khawatir! Saya akan baik-baik saja!"


"Hati-hati!"


Abah dan beberapa polisi pun langsung bergerak ke kediaman keluarga Kartono. Abah membawa mobil sendiri, dan dua mobil polisi berjalan mengekor di belakang mobil Abah.


____


____


____


Sampai di Bogor, Abah langsung membawa polisi-polisi itu ke kediaman Kartono. Nampak Faiz sedang menjemur gabah. Dia bingung dengan kedatangan polisi serta pamannya.


"Faiz, Dimana ayahmu?"


"Paman!" Faiz sempat bingung, "Ada paman!"


"Yah! Yah! Ada Paman Aang!" panggil Faiz.


Mendengar teriakkan putranya, tentu Kartono dan istrinya keluar. Dia sangat terkejut dengan kedatangan polisi dan adiknya.


"Ada apa ini?" tanya Kartono bingung.


"Kang, Dimana Dewi?" ketus Abah.


"Dewi. Dewi tidak ada di rumah! Memangnya ada apa?"


"Dewi menyuruh orang untuk menculik Michelle! Dan Akang tahu, Itu adalah suatu tindakan kriminal!"


"Ck, Mana buktinya anakku menculik Michelle?"


"Pak Polisi! Tolong tunjukkan bukti rekaman video itu!"


"Iya, Pak!"


Pak polisi memberikan bukti kepada Kartono. Video pengakuan dua penculik itu menyebutkan nama Dewi, anaknya. Kartono, istrinya dan Faiz sangat terkejut.


"Ya Allah, Apa ini? Jadi tindakan ini yang Dewi pilih!" batin Kartono.

__ADS_1


"Kakang tahu. Akibat dari perbuatan Dewi. Sekarang Michelle dan bayinya kritis di Rumah Sakit!"


"A-pa?" Mereka semua nampak terkejut. Terutama Salma. Istri Kartono, Ibu kandung Dewi.


Hiks .. Hiks .. Hiks


"Apa yang kamu lakukan, Nak?" isak Salma.


"Sekarang dimana anak itu? Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!" ujar Abah.


"Dewi nggak ada di rumah!" ujar Kartono.


"Kakang jangan coba-coba untuk melindunginya! Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!"


"Maaf saya menyela, Pak. Apa yang dikatakan Pak Aang memang benar! Bu Dewi harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Karena setiap perbuatan jahat, pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung!" Polisi angkat bicara, "Jadi tolong, Bapak jangan menghalang-halangi proses penyelidikan!"


Kartono nampak kesal.


"Saya tahu dimana dia, Pak!" ujar Faiz tiba-tiba. Kartono membelalakkan matanya. Dia tidak percaya kalau Faiz akan memberitahukan keberadaan adiknya pada Polisi.


"Faiz!"


"Biar, Yah! Biar Dewi mempertanggung jawabkan perbuatannya!" ucap Faiz.


"Faiz." Salma terisak. Dia tidak mampu melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.


Mereka berjalan kaki ke sebuah rumah. Letaknya tidak terlalu jauh. Berjalan kaki melewati sepuluh rumah. Dewi nampak terkejut dengan kedatangan Polisi, Abah dan Faiz. Dan dia hendak kabur.


Namun polisi sudah menodongkan senjata ke arah Dewi. Membuat dia tidak berkutik. Polisi meringkusnya.


Kartono dan istrinya menyusul dari arah belakang. Sebagai orang tua, mereka juga tidak mau terjadi sesuatu dengan putrinya. Mereka berusaha untuk menahan kepergian Dewi, yang akan dibawa oleh Polisi.


"Jangan bawa putriku!" teriak Salma, istri Kartono.


"Dewiiiiiii!"


"Ibu, Tolong Dewi! Dewi nggak bersalah!" berontaknya.


"Dewiiiiiiiii!" Kartono memohon kepada Polisi untuk melepaskan putrinya.


"Tolong lepaskan anakku!" ujar Kartono.


"Lepaskan Aku! Aku nggak bersalah! Lepaskaaaaaaan!"


"Bawa dia ke mobil Polisi!" perintah Polisi kepada anak buahnya.

__ADS_1


"Baik, Ndan!"


"Ibuuuuuuuuu!"


"Ayaaaaaaaah!"


"Ya Allah, Dewiiiiii!" isak Salma.


Dewi pun dibawa ke kantor polisi untuk penyelidikan. Setelah kepergian mereka, Kartono sangat marah pada Abah dan Faiz. Dia tidak percaya Aang akan melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib.


"Keterlaluan kamu! Kamu tega melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib! Dia itu ponakan kamu sendiri! Dewi juga sedang sakit!" murka Kartono.


"Michelle juga anak kandung saya! Sekarang dia kritis karena perbuatan anak Akang!" Abah tidak kalah kesalnya, "Michelle disekap dan diculik, dia harus melahirkan di dalam gudang sendirian! Coba Akang bayangkan!"


"Harusnya Akang itu sadar! Dan bisa mendidik Dewi dengan baik!"


"Jadi maksudmu, Aku tidak becus mendidik anakku?" marah Kartono.


"Akang pikirkan sendiri!" Abah pun pergi dari tempat itu untuk kembali ke Jakarta.


"Aang, Aku belum selesai bicara!"


"Apa yang dikatakan Paman itu benar! Ayah nggak bisa melindungi orang yang bersalah. Dewi sudah melakukan tindakan kriminal, Yah!" ujar Faiz tiba-tiba. Membuat Kartono sangat geram.


PLAKKK ...


"Ya Allah, Ayah!" Salma terkejut dengan yang dilakukan suaminya pada Faiz.


Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi Faiz. Dari sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Tatapan ayahnya tajam dan menghunus. Tapi Faiz tidak merasa bersalah. Dia yakin apa yang dilakukannya benar.


"Tega kau bilang begitu! Dewi adalah adikmu! Adik kandung mu!"


"Michelle juga adikku, Yah! Meskipun tidak terlahir dalam kandungan yang sama! Kami masih memiliki ikatan persaudaraan! Bagaimanapun juga dia juga ponakan Ayah! Bagaimana bisa Ayah tidak perduli dengan keadaannya yang kritis di Rumah Sakit atas perbuatan Dewi yang keterlaluan!"


"Tindakan Dewi sudah termasuk kriminal, Yah! Menculik dan menyekapnya hingga melahirkan di tempat! Bukankah perbuatan itu sangat keji, Yah?" Faiz berusaha memberi pengertian pada Ayahnya yang sangat keras.


"Paman sudah berkorban banyak untuk keluarga kita, Yah. Jasa-jasanya pada keluarga kita tidak terhitung lagi. Kenapa justru keluarga kita yang menghancurkan semuanya? Apakah Ayah tidak malu? Faiz malu, Yah! Sangat malu!" lirihnya.


"Sudah, Yah, Faiz! Ayo kita ke Jakarta! Kasihan Dewi! Dewi butuh kita!" isak Salma.


Kartono nampak berfikir.


"Ayo, Bu! Kita siap-siap ke Jakarta!" ajak Faiz pada ibunya, dan meninggalkan Kartono yang masih dengan kekerasan hatinya.


°°°°°°

__ADS_1


Hey², Bantu Vote Beb ....🙏🙏


Semoga kalian suka dengan alur ceritanya, ...🥰🥰🥰


__ADS_2