
Belum pukul 9 malam, semuanya sudah laris terjual. Sepertinya para pelanggan cocok dengan masakan Chef dan Mba Retno. Nathan dan Michelle sangat bahagia.
Sebelum isya, cafe sudah tutup. Semua karyawan membersihkan meja dan sedikit merapikannya. Semua piring kotor dan barang-barang lain juga sudah dicuci bersih oleh karyawan.
Nathan menyuruh Mba Retno untuk membawakan sisa makanan yang masih bagus untuk dibawa pulang karyawan. Mereka nampak sangat senang ikut bekerja di Cafe milik Nathan. Bukan hanya baik, Nathan juga sangat menghormati dan menghargai karyawannya. Tidak membedakan antara atasan dan karyawan. Bagi Nathan mereka seperti keluarga.
"Capek?" tanya Nathan kepada istrinya yang nampak kelelahan, dan sedang duduk di sofa.
"Sedikit," jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu mau makan apa?"
"Ehm, Aku sepertinya ingin makan siomay deh, Mas!"
"Siomay!"
"Iya, Mas. Siomay. Ini anak kamu lho Mas yang mau," ucapnya tersenyum, "Tapi makannya ditempat, jangan dibawa pulang!"
"Oh, Kamu mau makan berdua dengan suamimu ini!" goda Nathan.
"Ya kalau Mba Retno mau ikut kita ajak saja!"
"Ehm, nggak usah. Biar Mba Retno pulang naik taksi saja!" sahut Mba Retno yang baru keluar dari dapur.
"Semuanya sudah beres dan bersih. Para karyawan juga sudah pulang! Lebih baik Mba pulang juga!"
"Biar Nathan antar, Mba!"
"Nggak usah. Memangnya Mbakmu ini anak kecil!" cebiknya. Michelle terkekeh geli.
"Kalian butuh waktu berdua, dan Mba juga nggak mau merusak momen penting kalian!"
"Mba yakin?"
"Iya, yakin lah. Sudah nggak apa-apa. Kalian pergi saja!" suruh Mba Retno.
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati ya Mba!"
"Iya." Tubuh Mba Retno sudah tidak terlihat lagi. Dia sudah masuk taksi yang dipesannya lewat aplikasi.
"Ayo!" ajak Nathan kepada istrinya untuk masuk ke mobil.
Untunglah mereka membawa baju dan sudah mandi juga di Cafe. Jadi mereka tidak perlu pulang ke rumah.
"Kita ke Jalan Ahmad Yani. Di sana ada yang jualan siomay yang cukup enak!"
"Benarkah, Mas?"
"Iya, Sayang."
__ADS_1
Nathan melajukan mobilnya ke jalan tersebut. Rasanya sudah tidak sabar ingin makan siomay. Berkali-kali Michelle menelan salivanya.
"Ayo, Sayang!" ajak Suaminya turun dari mobil.
"Wah, ramai juga ya, Mas!"
"Iya, Sayang. Ayo!"
Mereka memilih duduk di meja depan, sambil menonton orang berlalu lalang. Temaram lampu berkelap-kelip, membuat suasana semakin syahdu.
"Pak, pesen siomay dua ya!"
"Baik, Pak. Ditunggu ya!"
sepuluh menit menunggu akhirnya pesanan datang juga. Pelayan menyajikannya di meja. Bau wangi sambal kacang sudah membuat Michelle ingin segera menikmatinya.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Michelle langsung menyantap Siomay itu dengan lahap.
"Apa itu bawaan bayi?" batin Nathan karena melihat istrinya begitu menikmati siomay yang tersaji dihadapannya. Kemudian dia tersenyum.
"Setelah ini kita pulang ya! Kamu tidak boleh terlalu kecapean, Sayang!"
"Ehm, tapi Aku nggak capek Mas. Justru habis ini aku ingin beli permen kapas, Mas!"
"Hah, permen kapas?"
"Iya, Mas."
"Ya, nggak tahu. Aku hanya ingin makan permen kapas!" berengutnya.
"Duh, Apa ini yang namanya ngidam? Kenapa Michelle jadi sensitif banget sih?" batin Nathan, "Hah, tidak apalah. Toh dia sedang mengandung anakku!"
"Baiklah. Nanti kita keliling beli ya! Sekarang habiskan dulu siomaynya!"
"Iya, Mas."
Michelle menikmati siomay yang tersaji di hadapannya. Setelah habis dan membayarnya, Nathan pun kembali melajukan mobil menuju tempat yang menjual permen kapas.
Sepanjang perjalanan mereka belum juga menemukan apa yang dicarinya. Nathan sampai bingung harus mencarinya dimana lagi.
Michelle nampak murung. Suaminya jadi tidak tega. Dia pun memutar arah ke selatan, dimana di sana ada tontonan pasar malam. Pasti di sana ada yang menjual permen kapas. Pikir Nathan.
Dan syukurlah, memang ada beberapa pedagang yang menjual permen kapas ditontonan tersebut. Nathan jadi lega, melihat istrinya tidak muram lagi.
"Makanlah!"
Dengan hati riang, Michelle menikmati permen kapasnya. Seperti anak kecil, dia bersorak bahagia. Suaminya terkekeh geli melihatnya.
__ADS_1
Namun baru memakan satu suap, dia menghentikan makannya. Suaminya jadi bingung sendiri.
"Kenapa? Kok nggak dihabiskan? Apa nggak enak?" Michelle menggeleng. Nathan mengernyitkan alisnya.
"Kenapa?"
"Sudah nggak ingin lagi!"
"Apa?"
"Mas yang makan ya?"
"Tapi aku nggak suka, Sayang!"
"Ayolah, Mas. Anak kita ingin kamu memakannya!"
"Duh, Bagaimana ini?" Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ah, daripada nanti ngambek, lebih baik aku turuti kemauannya."
"Iya, Aku makan."
"Nah gitu dong!" kemudian dia melenggang pergi begitu saja.
Jam menunjukkan masih pukul setengah sembilan. Nathan mengajak istrinya berjalan-jalan sebentar melihat keramaian pasar malam. Michelle begitu bahagia.
Hanya setengah jam saja, Nathan mengajak istrinya berkeliling. Karena hari juga sudah malam. Dia tidak mau terjadi sesuatu dengan istri dan calon buah hatinya.
"Ayo kita pulang!"
"He'em, Mas."
Pakde Kartono begitu murka, setelah mengetahui Michelle pulang bersama suaminya ke Kota. Dia sangat kesal dengan adiknya, karena sudah tidak mau menuruti perintahnya. Dan itu tidak baik untuk kelangsungan hidup keluarganya sendiri.
"Jika Aang mulai melawanku, besar kemungkinan dia tidak akan menuruti perintahku lagi. Dan ini semua gara-gara Nathan!" geram Kartono.
"Bukankah sudah aku bilang, Yah. Dari awal Ayah harus tegas!" ucap Dewi, "Sekarang Apa rencana Ayah?"
"Ayah harus apa? Nggak mungkin juga Ayah datang ke Kota dan menarik Michelle untuk pulang! Pamanmu bisa marah besar, Wi!"
"Lalu ayah akan membiarkannya begitu saja?" Kartono nampak terdiam. Dia bingung harus melakukan apa.
"Jika memang demikian, biar Dewi yang akan mengambil tindakan!"
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Sudah, Ayah tenang saja! Ini urusan Dewi!" Dewi tersenyum licik.
__ADS_1
To be continued ...