
Sembilan Bulan
Hari berganti hari, Bulan berganti bulan. Baru kemarin-kemarin Michelle dan Nathan menggelar acara tujuh bulanan. Kandungan Michelle sudah berumur sembilan bulan saja.
Sambil mengusap-usap perutnya, dia bersholawat. Dia berharap buah hatinya menjadi cikal bakal yang Soleh. Yang bisa membuat kedua orang tuanya bangga.
Tringggggg ...
Notifikasi pesan masuk. Michelle membuka pesan tersebut, ternyata dari sang suami. Dia tersenyum senang.
"Sayang jangan lupa minum obat dan vitaminnya setelah makan!"
Perhatian-perhatian kecil yang diberikan sang suami, membuat bertambah daftar kebahagiaannya. Kemudian jari lentiknya mengetikkan sesuatu, membalas pesan dari sang suami.
"Iya, Mas. Aku selalu mengingat nasehatmu! Kamu juga jangan telat makan ya, Mas. Meskipun sedang sibuk. Kamu tidak boleh telat makan. Harus bisa menjaga diri!" pesan tersebut Michelle kirimkan untuk suaminya.
Capek berbalas pesan dengan sang suami. Dia pun masuk ke dalam. Ibu dan ayah sedang berbincang hangat.
"Michie, sini!" Ibu menepuk tempat kosong disebelahnya. Michelle tersenyum, kemudian mendekat ke arah kedua mertuanya.
"Bu, Michelle sepertinya ingin makan bakso. Kita beli bakso yuk, Bu!" ajaknya.
"Biar ayah saja yang beli. Lagian kamu sedang hamil besar!" ujar Ibu.
"Tapi Michelle pengennya makan di tempatnya, Bu!"
"Sudah, anterin saja, Bu! Kasihan kan, nanti cucu Ibu ngiler lho!" ucap Ayah.
"Oya, sudah. Ibu mau siap-siap dulu!" Ibu bergegas ke kamar mengganti bajunya.
"Ayah ikut juga yuk?" ajak Michelle pada ayah mertuanya.
"Nggak usahlah, Nak. Ayah kalau bepergian keluar, suka nggak kuat sama angin. Gampang masuk angin!"
__ADS_1
"Beneran Ayah nggak mau ikut?"
"Iya. Kamu dan ibu saja yang pergi!"
"Oya, sudah."
"Ayo, Michie!" Ibu sudah siap dengan gamis panjang dan jilbabnya, "Lho ayah nggak ikut?"
"Nggak, Bu. Ibu dan Michie saja!" ucap Ayah, "Biar Ayah tunggu rumah!"
"Oh, ya sudah. Nanti biar kita bungkuskan baksonya buat Ayah!"
"Iya, boleh tuh!"
"Kami pergi ya, Yah!"
"Assalamu'alaikum!"
"Walaikumsalam."
_____
_____
"Kita ke Jalan Ahmad Yani, Pak! Kedai bakso ya, Pak!"
"Iya, Neng!"
Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Karena sopirnya tahu sedang membawa penumpang yang sedang hamil besar, dan ibu-ibu separuh baya. Jadi dia harus lebih berhati-hati.
Selama lima belas menit, taksi mereka tumpangi sudah sampai di jalan Ahmad Yani. Setelah membayar ongkos taksi mereka pun turun. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
Mereka memesan dua porsi bakso dan dua gelas teh hangat. Dokter tidak menganjurkan Michelle untuk banyak minum air es. Karena tidak baik untuk wanita hamil. Ia ingat nasehat itu dari dokter dan suaminya.
__ADS_1
Nampak mereka sangat menikmati makanannya. Apalagi saat siang hari seperti ini, memang makan bakso adalah pilihan yang tepat.
Selesai menghabiskan satu porsi bakso, Michelle membayarnya dikasir. Sedangkan Ibu mertuanya menunggu di depan kedai.
"Yuk, Bu!" Michelle keluar sambil menaruh dompetnya di dalam tas.
"Sudah bayar, Nak!"
"Sudah, Bu."
"Kita mau kemana lagi?"
"Ke supermarket dulu kali ya, Bu!" ujarnya, "Semua keperluan rumah sudah habis. Kita mampir sebentar ya, Bu! Membeli yang penting-penting dulu! Biar sisanya Mas Nathan! Nggak kuat juga kalau kita belanja banyak, nanti siapa yang mau bawa?"
"Iya, itu terserah kamu saja, Nak!" jawab Ibu mertuanya.
Mereka pun sedikit berjalan kaki, karena memang ada supermarket yang letaknya tidak jauh dari kedai bakso. Hanya melewati lima ruko untuk sampai ke sana.
Mereka membeli barang-barang kebutuhan pokok saja. Tidak lupa Michelle membeli stok buah dan sayur. Karena memang persediaan di kulkas sudah habis.
Setelah membayar barang-barang belanjaannya, mereka pun duduk sebentar di depan Supermarket. Sambil menunggu taksi yang Michelle pesan.
Sebuah mobil sedan warna hitam berhenti tepat di depan mereka. Michelle pikir itu adalah taksi yang ia pesan. Dia pun mendekat ke arah taksi tersebut.
Dua orang bertubuh besar keluar dari mobil tersebut. Dan tiba-tiba menyeret tubuh Michelle agar masuk ke dalam. Michelle meronta meminta tolong. Sementara ibu berlari ke arah mereka, dan memukulkan tasnya ke arah pria bertubuh besar itu.
Namun karena tubuh ibu yang tidak seberapa, di dorong saja, wanita tua itu sudah terjungkal ke belakang. Michelle berteriak memanggil ibunya. Mobil berwarna hitam itu mulai melaju meninggalkan Ibu mertuanya yang jatuh.
"Michelle!" teriak Ibu mertuanya. Tidak satupun orang yang datang untuk menolong, karena kejadiannya terlalu cepat.
Panik, itulah yang sekarang Ibu Nathan rasakan. Menantunya dibawa seseorang yang tidak dia kenal.
To be continued ...
__ADS_1
☄️☄️☄️☄️
Ayo dukung terus karya ini! Dengan kasih like dan komentar yang banyak. Juga gift nya juga ya...🥰🥰🥰