
"Jadi benar yang dikatakan Tante Ningsih mengenai kehamilan kamu?"
"Alhamdulillah, Mas. Doa kita dikabulkan oleh Allah,"
"Jadi maksud kamu, kita akan menjadi orang tua?" tanya Nathan masih belum percaya.
"Iya, Mas. Alhamdulillah,"
"Rabbi hab lii min ladun kadzurriyyatan thayyibatan innaka samii'uddu'aa.”
"Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Mu seorang anak yang baik dan sesungguhnya Engkau maha mendengar Do'a.” (QS Ali Imran: 38)
"Alhamdulillah," ucap Pak Bara.
"Mas Nathan kok kenal Bi Ningsih?" tanya Michelle. Nathan mengulas senyum bahagia.
"Karena yang membantu kelancaran acara pembukaan Cafe adalah Bang Byan," jawab Nathan.
"Jalan Allah itu memang indah!" ujar Umi.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
"Abah!" Nathan langsung menyalami punggung tangan mertuanya.
"Nathan, Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah sehat, Bah!"
"Abah sehat?" tanya Nathan.
"Alhamdulillah Abah juga sehat. Duduklah!"
"Bara!" Abah menepuk pundak sahabat lamanya.
"Sehat, Kang?"
"Sehat, Kau sendiri? Semakin muda saja Kau!" gelak Abah.
"Ah, Akang bisa saja! Aku juga sehat, Kang!" jawab Bara.
"Silahkan duduk!"
"Terima kasih,"
"Duduk sini, Bah!" Umi berdiri, dan memberikan kursinya kepada sang Suami.
"Nathan, Abah mau minta maaf! Abah salah. Mungkin sikap Abah ini tidak baik, tapi, Abah melakukan ini karena ingin menyelamatkan keluarga besar Abah saja. Tapi Abah sudah menyakiti Michie terlalu dalam. Abah menyesal!" sedih Abah.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bah. Apa yang Abah lakukan, karena Abah sangat menyayangi Michelle!" ujar Nathan.
"Apakah Kau sudah tahu kalau istrimu sedang hamil?" tanya Abah kemudian.
"Iya, Bah. Nathan sudah tahu, bahkan sebelum Michelle mengatakan Nathan sudah tahu, Bah! Itulah kenapa Nathan kemari!"
"Kau tahu darimana?"
"Ibunya Bang Byan. Mereka menjadi tamu istimewa di grand opening Cafe baru Nathan, Bah!"
"Kau membuka Cafe?"
"Alhamdulillah, Bah! Sebenarnya Nathan juga ingin mengundang Abah dan keluarga. Tapi ponsel Michie tidak aktif!" Abah menoleh ke arah putrinya.
__ADS_1
"Iya, ponsel Michie ada di Abah. Maafkan Abah. Abah memang keterlaluan!"
"Tidak, Bah. Apa yang Abah lakukan karena Abah sangat menyayangiku kan!" Michelle menggenggam tangan Abahnya.
"Maafkan Abah, Michie!" Abah mengusap lembut kepala putrinya.
"Iya, Bah!"
"Jadi Apakah Akang merestui hubungan mereka?" tanya Bara. Semua mata menoleh kepada Abah. Berharap Abah merestui hubungan Nathan dengan Michelle kembali.
"Iya, Kalian akan terus bersama. Demi anak yang ada di dalam kandungan Michelle. Bagaimanapun Anak itu membutuhkan figur dan kasih sayang ayahnya!"
"Alhamdulillah," ucap mereka serentak. Nathan dan Michelle sangat bahagia. Tidak henti-hentinya mereka bersyukur kepada Zat Yang Maha Agung.
"Terimakasih, Bah! Terimakasih untuk semuanya! Michelle sangat menyayangi Abah!"
"Iya, Nak. Abah juga sangat menyayangi kalian. Abah ingat apa yang pernah kamu katakan pada Abah. Allah sangat mencintai para pelaku maksiat yang gemar bertaubat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa bersalah. Apa yang kamu katakan benar, Nak!"
"Abah!" sedih Michelle.
"Sudah, Jangan menangis! Kembalilah kepada suamimu, raih kebahagiaanmu!"
"Terimakasih, Bah!" isak Michelle tidak bisa menahan lagi rasa kebahagiaannya.
"Nathan, Jaga Michelle baik-baik. Kamu sudah pernah mengecewakannya. Jangan pernah ulangi lagi! Dia terlalu berharga untuk disakiti!"
"Tidak akan, Bah! Nathan sadar, Nathan pernah melakukan kesalahan. Nathan berjanji akan menjaga Michelle dengan sepenuh hati!"
"Iya,"
"Alhamdulillah, Akhirnya kalian bisa bersama-sama lagi!" senang Bara.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, Umi mengajak Bara dan Nathan untuk makan siang di sana. Hari ini Bi Ijah sengaja memasak banyak makanan, agar tamu majikannya bisa ikut makan siang di rumah. Keceriaan memenuhi ruang makan keluarga Abah.
Dewi mengepalkan tangannya, meremas ujung bajunya. Dia sangat marah dan sangat kecewa. Usahanya untuk menghancurkan Michelle sudah gagal. Dan itu membuat dendam dan dengkinya bertambah.
"Ayah!" teriak Dewi.
"Ada apa, Nak?"
"Ada apa sih, Wi?" kesal Faiz terkejut karena teriakan adiknya.
"Lihatlah di rumah Paman, Yah, Kak! Akhirnya Paman merestui hubungan Michelle dan suaminya. Lalu, Bagaimana dengan nasib anakmu yang malang ini, Yah, Kak Faiz?" tangis Dewi.
"Sekarang aku sudah hancur. Masa depanku juga hancur. Dan waktuku juga tidak lama lagi. Dewi akan mati gara-gara penyakit terkutuk ini. Yang setiap hari menggerogoti tubuh Dewi!"
"Hiks ... Hiks ... Hiks."
"Lalu, Mau kamu apa Dewi?"
"Aku nggak mau mereka hidup bahagia. Aku ingin Michelle bercerai. Rasanya terlalu sakit, jika setiap hari Dewi melihat kemesraan mereka!"
"Dewi. Sudah jelas kamu yang salah. Kenapa kamu harus menyalahkan orang lain!" garam Faiz. Faiz sudah tahu bahwa adiknya memang yang menularkan penyakit berbahaya itu. Bukan Nathan. Justru Dewi melimpahkan semua kesalahan itu kepada Nathan.
"Kakak ngomong apa sih? Kenapa justru membela Michelle? Aku ini adikmu!"
"Karena Kau memang yang bersalah! Hanya wanita murahan yang memiliki penyakit AIDS! Dan itu berarti Kau wanita yang selalu bergonta-ganti pasangan!" hardik Faiz.
"Kenapa Kakak justru menyudutkan ku? Harusnya disaat seperti ini Kakak mendukung ku!" isak Dewi.
"Kak, Aku tidak akan seperti ini, jika kalian perduli dengan ku. Tapi apa? Yang kalian banggakan selalu Michelle. Yang kalian perhatikan selalu Michelle!" isak Dewi.
"Kalian selalu membandingkan Dewi dengan Michelle. Hatiku sangat sakit, sehingga Dewi harus pergi dari rumah! Dewi bergaul dengan orang yang salah. Tetapi Orang itu mau memberikan tempat untuk tinggal dan bernaung. Tapi kalian sebagai keluarga, Apa yang kalian lakukan? Bahkan kalian tidak mencari ku sama sekali!"
__ADS_1
"Dewi!" isak ibunya.
"Apakah Dewi salah, Bu, Yah?"
"Sudah cukup Dewi! Berhentilah menyalahkan orang lain!" ketus Faiz.
Dewi hilang kendali. Dia mengambil pisau yang ada di meja. Dia berusaha untuk memotong nadinya. Ibu menjerit ketakutan. Sedangkan Kartono berusaha untuk melepas pisau yang ada di genggaman anaknya.
"Faiz, berhentilah menghakimi adikmu!" teriak Kartono. Seketika Faiz berhenti.
"Lepaskan pisau itu, Wi! Jangan menyakitimu! Ayah nggak mau kehilanganmu, Nak! Kami sangat menyayangimu!"
"Lebih baik Dewi mati, Yah! Masa depan Dewi sudah hancur. Sebentar lagi Dewi juga mati!" isaknya tergugu.
"Lalu apa yang Kamu inginkan?"
"Dewi mau mereka bercerai. Jika mereka bersama lagi, Dewi akan terus melihat wajah Nathan, orang yang sudah menghancurkan masa depan Dewi! Apakah pantas jika Nathan diterima di keluarga besar kita, Yah?"
"Iya, Ayah akan berbicara dengan Pamanmu!"
"Benarkah, Yah?"
"Iya, Nak. Sekarang Kau buang pisau itu! Berbahaya, Nak!" tutur Ibu.
"Berjanjilah, Yah! Ayah mau kan membantu Dewi?"
"Iya, Nak. Ayah akan berusaha untuk berbicara dengan pamanmu!"
"Terimakasih, Yah!" di dalam hati, Dewi tersenyum puas. Dia sangat bahagia, Ayahnya bersedia membantu untuk berbicara dengan pamannya.
Hari itu juga Kartono datang ke rumah Abah. Mereka yang sedang menikmati makan siangnya sangat terkejut dengan kedatangan Kartono sambil berteriak.
"Aang!" teriak Kartono. Membuat semua penghuni rumah keluar.
"Kang, Ada apa? Jangan berteriak seperti itu, Kang! Nggak enak didengar oleh tetangga!" ucap Abah.
"Kau mau menjadi adik durhaka! Tidak mau mengikuti apa kata-kataku!" ketus Kartono.
"Maksud Akang apa sih?"
"Bukankah sudah aku katakan, Jangan sampai mereka kembali! Akan menjadi sebuah kesialan di keluarga kita, Ang!"
"Kang, Sudahlah! Aku tidak berhak lagi mencampuri urusan rumah tangga Mereka. Michie sedang hamil, dan anaknya membutuhkan figur seorang ayah! Aku tidak tega memisahkan istri dari suaminya. Dan memisahkan anak dari ayahnya!"
"Baiklah kalau begitu. Jika memang itu maumu, persaudaraan kita cukup disini saja!" marah Kartono, "Jangan menganggap aku sebagai Kakakmu lagi!" murka Kartono. Membuat Abah terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh kakaknya.
"Pakde, kenapa Pakde tega mengatakan itu?" ujar Nathan.
"Sudahlah. Hentikan bualanmu! Semua ini gara-gara Kau! Kau tidak akan aku biarkan lolos! Aku akan membuat kau membayar semuanya!" geram Pakde menunjuk jarinya ke arah Nathan. Michelle berusaha untuk mencegah suaminya menasehati Pakde Kartono. Menurut Michelle percuma menasehati orang yang sudah dibutakan oleh kebencian. Setelah marah-marah, Kartono berlalu pergi dari rumah Abah.
Abah syok mendengar Kakaknya tega mengatakan itu semua. Abah berusaha untuk mengatur nafasnya. Michelle membantu sang Abah untuk duduk, dan mengambilkan air minum.
"Cepatlah kembali ke Jakarta. Ajak istrimu! Masalah disini, biar Abah yang menyelesaikan semuanya!" tutur Abah.
"Tapi, Bah ... !"
"Percayalah, Michie. Abah tidak akan kenapa-kenapa! Justru Abah khawatir jika kamu terlalu lama disini!" ucap Abah.
"Iya, Nak. Apa yang dikatakan Abah memang benar! Kalian jangan khawatir, Tadi Pakde hanya menggertak saja!" ucap Umi.
"Baiklah, Michie akan bersiap-siap untuk kembali ke kota Jakarta!"
"Iya, Nak!"
__ADS_1
to be continued ...