Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 14 : Kamarahan Michelle


__ADS_3

"Tentu saja salah!" marah Nathan, "Kau masih istriku. Aku belum pernah menceraikanmu. Jadi, kalau Kau pergi aku harus tahu kemana dan dengan siapa Kau pergi!" ujarnya.


"Lalu, Bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Michelle. "Bisa kau jelaskan foto ini?" marah Michelle sambil menunjukkan foto di HP nya. Nathan membulatkan matanya.


"Dari mana Kau mendapatkan foto itu?" tanya Nathan.


"Kau tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya! Kau bisa menjelaskan semuanya?" marah Michelle, "Kau sudah berjanji kepadaku, tapi, kenapa Kau mengingkari janjimu sendiri, Mas?" teriak Michie.


"Katakan kepadaku? Siapa yang sudah mengirimkan foto itu kepadamu?" tanya Nathan dengan memegang bahu istrinya. Dengan kasar Michelle menepis tangan Nathan.


"Kamu tidak perlu tahu, Mas. Aku hanya butuh jawaban dari mu. Jadi, benar Kau memang menemui Dewi lagi?" Nathan hanya berdiri terpaku di sana.


"Dengan kamu diam, sudah menjelaskan semuanya! Kamu jahat, Mas! Kamu selalu berbohong kepadaku, padahal kita sudah bersepakat!" isaknya, "Aku capek, Aku lelah! Jika memang kamu sudah tidak menginginkan pernikahan ini lagi, sebaiknya kita memang harus berpisah!" ujarnya, membuat Nathan sangat terkejut.


Michelle kembali ke kamarnya, dia membereskan semua barang-barangnya. Dia memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Sambil terisak, dia menyeret kopernya keluar kamar.


"Kamu mau kemana?" tanya Nathan panik.


"Aku mau pergi!" marahnya.


"Tolong, jangan pergi!" pinta Nathan.


"Buat apa lagi?"

__ADS_1


"Tunggu sampai keadaan ayah baik-baik saja!"


"Sudah cukup kamu menyakitiku! Sudah cukup kamu membuatku menderita! Sekarang kamu bisa mengurus surat perceraian kita di pengadilan!" tegas Michelle. Michelle keluar dari rumah, dia memasukkan semua barang-barangnya ke mobil.


"Michie?" panggil suaminya. Namun Michelle tidak perduli dengan panggilan sang suami.


Di dalam mobil, Michelle terus menangis. Dia bingung harus pergi ke mana. Pulang ke rumah orang tuanya di kampung, dia belum siap untuk menceritakan semua masalah rumah tangganya ke Umy dan Abahnya.


Michelle berhenti di pinggir jalan. Dia memukul-mukul kemudi mobilnya dengan hati yang kesal. Dia tidak percaya pernikahanya dengan sang suami akan berakhir hari ini juga.


Dia teringat dengan kontrakan Tasya. Hanya tempat sahabatnya yang sekarang ada dipikirannya. Michelle membelokkan arah mobilnya ke kontrakan Tasya.


Dalam waktu dua puluh menit, dia sampai di depan pelataran kontrakan Tasya. Michelle memarkirkan mobilnya di depan rumah Tasya.


"Assalamualaikum?" isak Michelle mengucap salam.


"Walaikumsalam," jawab Tasya, membuka pintu rumahnya. Betapa terkejutnya dia, melihat Michelle dalam keadaan menangis sedih.


"Michie, Ada apa?" tanya Tasya cemas. Michelle berhambur memeluk tubuh sahabatnya. Tasya bisa melihat Michelle membawa koper. Dan dia yakin bahwa sahabatnya sedang bertengkar dengan sang suami.


"Ayo, Masuk dulu!" ajak Tasya. Michelle menurut dengan kata-kata Tasya. Dengan menarik koper, Michelle masuk ke rumah yang cukup sederhana, namun sangat nyaman dan bersih untuk ditempati.


Tasya menggandeng tangan Michelle untuk duduk, dan mengambilkan air minum untuk sahabatnya.

__ADS_1


"Minumlah dulu, biar agak tenang!" ucap Tasya.


"Terima kasih banyak, Sya. Lu, memang sahabat gue yang terbaik!" puji Michelle.


"Sekarang ceritakan! Ada apa?" tanya Tasya, mendudukkan pantatnya di samping Michelle, "Apakah masalah foto yang gue kirim ke Lu?"


"Iya," ucap Michelle menganggukkan kepalanya. Tasya merasa sangat bersalah, tapi, jika dia tidak menyampaikan kebenaran, dia juga ikut berdosa.


"Maafin gue ya! Seharusnya gue nggak mengirimkan foto itu!" sesalnya.


"Bukan masalah itu, Sya!"


"Lalu, Apa?"


"Nathan sudah mengingkari janjinya. Dia sudah berjanji nggak ketemu sama Dewi lagi sebelum semuanya jelas," jawab Michelle, "Tapi, Apa?" isaknya lagi.


"Dia kembali bertemu dengannya. Itu yang membuat diri gue sakit, Sya. Gue merasa tidak dihargai. Gue merasa diinjak-injak sebagai seorang istri. Dan pernikahan gue tidak ada harganya!" marah Michelle.


"Huft." Tasya menghela nafasnya panjang.


"Lu yang sabar. Serahkan semuanya kepada Allah," tutur Tasya, "Sekarang hapus air mata, Lu. Dan ambillah wudhu untuk menenangkan hati!"


Michelle pun beranjak dari tempat duduknya. Dia mengikuti saran dari sahabatnya. Mengambil wudhu, dan memulai sholat Maghrib.

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2