Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 64 : Ngidam


__ADS_3

Abah syok mendengar Kakaknya tega mengatakan itu semua. Abah berusaha untuk mengatur nafasnya. Michelle membantu sang Abah untuk duduk, dan mengambilkan air minum.


"Cepatlah kembali ke Jakarta. Ajak istrimu! Masalah disini, biar Abah yang menyelesaikan semuanya!" tutur Abah.


"Tapi, Bah ... !"


"Percayalah, Michie. Abah tidak akan kenapa-napa! Justru Abah khawatir jika kamu terlalu lama disini!" ucap Abah.


"Iya, Nak. Apa yang dikatakan Abah memang benar! Kalian jangan khawatir, Tadi Pakde hanya menggertak saja!" ucap Umi.


"Baiklah, Michie akan bersiap-siap untuk kembali ke kota Jakarta!"


"Iya, Nak!"


Malam itu juga Michie ikut pulang dengan suaminya. Setelah berpamitan dengan Abah dan Umi serta Teh Siti dan juga Ratna, mobil mereka pun meninggalkan kediaman Abah.


Disepanjang perjalanan, Nathan ltidak berhenti bersyukur. Ternyata hari ini dia diperbolehkan mertuanya untuk membawa sekaligus sang istri. Tidak henti mulutnya mengucapkan syukur.


"Capek nggak?" tanya Nathan kepada istrinya.


"Nggak kok, Mas," jawab istrinya. Pak Bara mengulas senyum melihat kemesraan diantara mereka.


Selama satu jam perjalanan mereka sudah sampai di Jakarta. Sebelum pulang ke rumah, Nathan memberhentikan mobilnya di depan supermarket.


"Kita mampir ke Supermarket dulu ya!"


"Mau beli apa, Mas?"


"Minuman. Kamu mau ikut?"


"Boleh,"


"Ayah di mobil saja, Nath!"


"Baik, Yah. Tunggu sebentar ya, Yah!" Bara menganggukkan kepalanya.


Nathan mengambil trolly, dan mendorongnya masuk ke dalam. Michelle mengekor dibelakang.


"Kita mau belanja apa, Mas?"


"Susu hamil, Sayang!"


"Oh." Michelle tersenyum. Ternyata suaminya mengajaknya ke Supermarket mau membeli susu untuk dirinya.


"Kamu mau yang coklat, vanilla atau strawberry?"


"Coklat saja, Mas."


"Oke, aku ambil yang coklat 10 kardus."


"Kok banyak banget?"


"Ya buat stock di rumah."


Setelah membeli susu, Michelle meminta kepada suaminya untuk membeli buah juga. Beberapa hari ini nafsu makannya memang berkurang. Dan Michelle mencukupi kebutuhan nutrisinya dari buah-buahan.


"Kamu mau buah apa?"


"Pisang dan apel saja, Mas!"


"Oke, kita ambil pisang, apel, jeruk, pir dan mangga!"


"Wah, ini kebanyakan, Mas!".


"Nggak apa-apa. Kan biar calon anak kita sehat." Michelle kembali tersenyum. Dia tidak menyangka, Nathan sebegitu perhatian dengan dirinya. Apalagi setelah mengetahui dirinya sedang mengandung buah cintanya. Berkali-kali Michelle tidak berhenti bersyukur kepada Allah atas anugerah terindah di dalam hidupnya.

__ADS_1


Selesai berbelanja mereka pun memutuskan untuk pulang. Nathan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah. Michelle nampak heran, karena mobil yang suaminya kendarai tidak menuju ke arah rumahnya melainkan ke rumah mertuanya. Nathan bisa melihat kebingungan istrinya.


"Nanti aku jelaskan!" ucap Nathan seraya memegang erat tangan istrinya.


Mobil mereka sudah sampai di halaman rumah mertuanya. Mereka disambut hangat oleh Ibu dan Mba Retno. Apalagi setelah melihat Michelle ada diantara mereka. Ibu dan Mba Retno langsung memeluk Michelle secara bergantian.


"Ya Allah, Akhirnya kamu kembali, Nak. Ibu seneng melihat kamu lagi!"


"Iya, Bu. Michelle juga seneng banget, bisa melihat ibu dan Mba Retno lagi!" ujarnya tersenyum.


"Michie, Selamat ya! Mba dengar katanya kamu hamil. Mba benar-benar senang banget!"


"Terimakasih, Mba. Ini semua karena doa kalian yang tidak berhenti untuk kebahagiaan kami."


"Subhanallah. Betapa beruntungnya Ibu mendapatkan menantu seperti kamu!" ucap Ibu seraya mencium kening menantunya.


"Sudah, Bu. Michie pasti capek. Biarkan Michie masuk dulu!"


"Oya, Maaf. Ibu lupa!"


"Ayo masuk, Sayang!" ajak Ibu mertuanya, "Kamu pasti belum makan malam. Nih tadi di Cafe, Retno memasak lobster asam pedas dan tumis cumi isi khusus buat kamu! Kamu makan ya!"


"Wah, terimakasih, Bu! Tapi, Michelle mual banget!" belum selesai ngomong, Michelle sudah berlari ke kamar mandi. Dan mengeluarkan semua isi perutnya.


Hoek .. Hoek ... Hoek


"Sayang, Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Nathan cemas.


"Perutku mual banget!"


"Apa kita ke Rumah Sakit saja?"


"Nggak usah, Mas. Ini memang gejala awal ibu hamil," ujarnya.


"Kamu nggak apa-apa, Michie?" tanya Ibu khawatir.


"Sini biar ibu olesi dengan minyak kayu putih!"


Dengan tulus Ibu mengolesi tengkuk, tangan dan kaki Michelle dengan minyak kayu putih. Michelle benar-benar beruntung memiliki kedua mertua yang sangat menyayanginya.


"Terimakasih, Bu!"


"Mba Retno, Maaf ya. Michelle bukannya nggak suka dengan masakan Mba. Entah kenapa akhir-akhir ini, semua makanan tidak ada yang masuk ke perut Michelle. Kalau melihat masakan, tiba-tiba perut Michelle mual dan ingin muntah!"


"Ya Allah, Michie. Nggak apa-apa. Mba ngerti kok! Memang wanita hamil ya seperti itu! Kamu nggak usah merasa nggak enak seperti itu, Mba ngerti banget kok! Apalagi Mba juga pernah ngalamin yang seperti itu!"


"Terimakasih ya, Mba!"


"Nathan, Bawa istrimu ke kamar. Pasti dia kelelahan!" suruh Ibu.


"Iya, Nath. Wanita hamil pasti mudah lelah!" timpal Ayah.


"Iya, Bu, Yah!"


"Ayo, Sayang. Kita ke kamar! Kamu harus istirahat yang banyak, jangan stres dan kelelahan!" ucap suaminya.


"Iya, Mas."


"Kami ke kamar dulu ya, Bu, Yah!"


"Iya, Nak!"



Nathan membawa istrinya ke kamar. Kamar itu adalah kamar Nathan saat dia belum menikah. Michelle pernah beberapa kali menginap dan tidur di kamar suaminya.

__ADS_1


Tidak terlalu besar, bahkan dibilang minimalis. Tapi cukup rapi dan nyaman. Tempat tidurnya juga tidak terlalu besar, muat untuk dua orang.


Di kamar terdapat lemari pakaian dan meja kecil. Anehnya dikamar tersebut ada dua buah koper tergeletak. Michelle nampak bingung. Karena kopernya dan koper milik suaminya ada di kamar itu.


"Lho, Mas ini koper aku!"


"Iya, Sayang. Itu memang koper kamu!"


Nathan mengulas senyum, dia duduk di samping istrinya. Menggenggam tangan istrinya dengan lembut dan mencium genggaman jemari itu.


"Sebenarnya aku pikir kita benar-benar akan berpisah. Aku pun sudah menjual rumah kita. Aku ingin membagi harta gono-gini untuk kamu. Dan sisanya untuk modal aku berbisnis. Namun ternyata Allah berkehendak lain!" terang suaminya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku menjual rumah itu tanpa persetujuan darimu!"


"Tidak apa-apa, Mas. Memang jika tujuannya untuk modal usaha kamu."


"Bukan hanya itu, Sayang. Aku juga berfikir, bahwa rumah itu memiliki kenangan yang buruk. Makanya aku menjualnya!"


"Tapi, Kau tenang saja. Aku sudah memiliki rencana lain!"


"Apa itu Mas?"


"Kemarin Ayah memberiku tanah sebagai waris. Niatnya untuk modal, tapi, Alhamdulillah rumah kita memiliki nilai jual yang tinggi. Jadi aku mengurungkan niat untuk menjualnya. Justru aku ingin membangun tanah itu untuk rumah impian kita!"


"Apa perlu Mas?"


"Iya dong, Sayang. Bagaimanapun aku harus memiliki planning untuk masa depan kita dan anak-anak kita kelak! Memiliki rumah yang luas dengan kamar yang banyak. Dan juga pekarangan rumah untuk tempat bermain anak-anak kita kelak!"


"Memangnya Mas ingin punya anak berapa?"


"Yang banyak dong, Sayang. Biar rame!" gelaknya.


"Dua saja Mas."


"Kurang rame, Sayang! Aku maunya enam."


"Astaga Mas, itu terlalu banyak!" berengut Michelle. Nathan terkekeh geli.


"Kita serahkan kepada Allah saja, Sayang. Apapun yang Allah berikan, kita jadikan sebagai rezeki dan anugerah yang indah untuk rumah tangga kita!"


"Iya, Mas."


"Eh, kamu mau makan apa? Nanti biar Mas siapkan!"


"Ehm, Aku mau buah saja, Mas. Aku lagi pengen makan mangga."


"Okeh, nanti aku kupaskan. Kamu mau mandi dulu, atau mau istirahat saja?"


"Mandi dulu dong, Mas. Badanku gerah!"


"Ehm, iya sudah. Kamu mandi dulu! Sambil menunggu kamu mandi, Nanti Mas kupaskan mangga untuk kamu!"


"Iya, Mas. Terimakasih ya!" senang Michie.


Michelle mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Ternyata Ibu mertuanya sudah menyiapkan air hangat di ember untuk Michelle mandi. Dia sangat beruntung memiliki Ibu mertua yang begitu perhatian kepadanya.


"Nggak baik, Nak. Wanita hamil mandi malam-malam. Ibu rebuskan air hangat untuk kamu mandi!"


"Terimakasih banyak, Bu!"


"Sama-sama."


Sedangkan Nathan sedang sibuk mengupas mangga di dapur. Setelah di kupas dan di cuci, Nathan memotong-motong mangga tersebut ke bagian paling kecil. Supaya istrinya tidak kesusahan saat akan memakannya.


to be continued ...

__ADS_1


Jangan lupa tap Like and Rate bintang limanya ya ...


__ADS_2