
"Sayang, Ini aku buatkan susu hangat untukmu!" Nathan menaruh satu gelas susu hangat di atas meja.
"Terimakasih banyak, Mas!" dengan terampil jari lentik istrinya menari-nari diatas keyboard, selama beberapa menit tangan terampil Michelle mengetik di atas keyboard, "Sudah selesai!"
"Benarkah? Kok cepet banget!"
Michelle hanya mengulas senyum, "Coba saja periksa. Barangkali ada yang salah!"
Tidak ada satupun angka yang salah maupun terlewatkan. Michelle melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Bahkan terbilang sangat cepat.
"Wow, ini benar-benar luar biasa! Semuanya betul. Kau memang hebat, Sayang!"
"Alhamdulillah kalau tidak ada yang salah," jawab Michelle.
"Terimakasih Kamu mau membantuku!"
"Sama-sama!"
°°°°°°°°°°
Satu bulan berlalu Indah bekerja di Cafe Nathan. Namun sikap Nathan memperlakukan Indah sama dengan karyawan yang lain. Dan itu membuat Indah jengkel dan marah.
Indah sengaja mengambil libur, karena Ia ingin langsung mendatangi Nathan di Cafe pusat. Karena setelah Mba Retno tidak bisa mengurus Cafe tempat Indah bekerja, sekarang Nayla anak perempuan Mba Retno yang menggantikannya. Dan itu tidak membuat Indah leluasa bertemu dengan Nathan. Dia pun nekad ingin mendatangi Nathan di Cafenya.
Nathan keluar dari Cafe seperti biasa jam empat sore, dan itu sudah hal yang harus dilakukannya setelah mendapat aksi protes dari sang istri. Dia menurut saja tanpa menyela.
__ADS_1
Sampai diparkiran, Nathan dikejutkan dengan kedatangan Indah. Tiba-tiba dia datang dan memeluk Nathan dari belakang. Tentu Nathan sangat kaget.
"Nathan, aku nggak bisa menyimpan perasaan ku lagi! Aku harus mengatakannya kepadamu!"
"Indah apa yang kamu lakukan?" Nathan mendorong tubuh Indah. Tidak terlalu kasar, tapi itu membuat tubuh Indah terhuyung ke belakang.
"Aku masih sayang kamu, Nath! Aku mohon jadikan aku istri keduamu!" mohon Indah kepada Nathan.
"Indah, Kau sudah gila ya! Aku sudah punya istri, Ndah! Aku minta maaf, aku nggak bisa!" ucap Nathan.
"Nath, Aku tahu kamu masih sayang sama aku. Buktinya kamu mau membantuku!"
Nathan geleng-geleng kepala, "Ndah, Berbuat baik kepada sesama dalam Islam merupakan kewajiban, apalagi sesama muslim. Berbuat baik kepada orang lain hakikatnya adalah berbuat baik pada diri sendiri, begitu juga sebaliknya. Karena kebaikan itu akan kembali pada diri sendiri secara langsung ataupun tidak!" tutur Nathan.
"Tapi, Nath!"
"Kamu tega, Nath!"
"Tolong kamu mengerti? Saya sudah beristri, dan saya sangat menyayangi istri dan anak saya!"
"Tapi aku masih sayang sama kamu, Nath!"
"Terimakasih atas perasaan kamu! Tapi sekali lagi Aku minta maaf, Aku nggak bisa membalas perasaan kamu! Aku sudah tidak ada perasaan apa-apa dengan kamu, Ndah! Jadi Aku minta maaf!" Nathan langsung menaiki mobilnya dan meninggalkan Indah sendiri.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Walaikumsalam," jawab Indah dengan suara yang parau.
Indah menatap kepergian Nathan dengan nanar dan perasaan yang campur aduk. Antara kesal, marah dan penyesalan. Andai saja dulu dia mau bersabar, pasti kini dia masih bersama dengan Nathan.
Sesal pun percuma, karena tidak akan memperbaiki semuanya. Indah pun pergi dengan tangan kosong, dan tentunya perasaan malu yang luar biasa.
Nathan sampai di rumah sudah disambut oleh jagoan kecilnya. Agam sudah pintar berinteraksi dengan Ayah dan bundanya. Sesekali bocah yang usianya baru 3 bulan sudah pintar terkekeh, membuat Nathan semakin gemas melihat tingkah lucu putranya.
Bukan hanya bisa terkekeh, Agam juga sudah pintar menggapai benda apapun yang menarik perhatiannya. Membuat Ayahnya semakin gemas.
"Cuci tangan dulu, Yah! Nanti boleh gendong!" ultimatum itu yang setiap hari keluar dari mulut istrinya.
"Siap, Ibu Ratu! Ayah langsung mandi dan bersih-bersih!" ucap Suaminya, disusul gelak tawa istrinya. Agam ikut-ikutan tertawa bahagia.
Selesai mandi, Nathan sudah tidak sabar ingin menggendong putranya. Baru keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk, dia langsung membopong tubuh gempal Agam. Agam sih senyum-senyum saja saat sang Ayah membopongnya dan memutar-mutar tubuh bocah itu.
"Ayah ganti baju dulu, nanti masuk angin!" suruh istrinya.
"Iya, Sayang!" belum juga meletakkan Agam ke tempat tidur, handuk yang melilit pinggang Nathan sudah terlepas dari tempatnya. Sontak Michelle terkejut, kemudian tergelak melihat aksi konyol suaminya.
"Ih, Ayah ada-ada saja!" kekeh Michelle.
To be continued ...
°°°°°°°°
__ADS_1
Hey² para Readers semuanya, novel ini hampir selesai ya. Yuk baca novel karya Cahyaning Fitri yang lainnya, banyak pilihannya dengan genre yang berbeda-beda.
I love you full.....😘😘😘😘