Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 116 : Ketegasan Michelle


__ADS_3

"Ndah, kenapa melamun?" sebuah suara mengagetkannya.


"Eh, Din! Kamu ngagetin aja!" ujar Indah.


"Lagian kamu masih pagi udah ngelamun!" gelak Dina.


"Din, Aku mau tanya dong?"


"Boleh. Mau nanya apa?"


"Aku denger Pak Nathan itu pemilik cafe ini, Apa itu betul?"


"Iya, itu emang bener. Emang ada apa?"


"Mau tau aja!" ujarnya tersenyum, "Kok jam segini dia belum sampai di Cafe?"


"Ya mungkin di Cafe satunya! Biasanya sih Cafe ini dipegang sama Mba Retno. Kakaknya Pak Nathan! Mungkin karena Mba Retno sakit, paling Pak Nathan yang sering bolak-balik mampir ke sini! Kan dia pegang Cafe pusat. Cafenya lebih gede dari Cafe ini!"


"Hebat ya, Pak Nathan!" puji Indah.


"Kamu hanya boleh memujinya, tapi nggak boleh memilikinya. Karena Pak Nathan sudah memiliki istri!" ujar Dina terkekeh, "Dan kamu tahu, istrinya Pak Nathan itu sangat cantik!"


Aku tahu kok, tapi jika Nathan ingin kembali ke mantan kekasihnya, Aku nggak salahkan! batin Indah.


"Kenapa? Kamu naksir sama Pak Nathan?" ledek Indah.


"Iya, Nggaklah!" Indah tersipu malu.


"Jangan bermain api, Ndah! Nanti bisa terbakar!" ucap Dina.


Indah hanya tersenyum sinis.


*Harusnya aku yang berada di posisi Michelle, bukan Michelle.


Andai saja aku lebih sabar, pasti aku juga akan menjadi Nyonya Bos, nggak seperti sekarang hanyalah seorang kasir*.


°°°°°°°°


"Mas, kapan kita ke Rumah Sakit jenguk Mba Retno?" tanya Michelle.


"Mungkin siang ini ya, Sayang! Aku masih sibuk banget. Belum lagi ngurusin Cafe satunya!" ucap Nathan.


"Mas butuh bantuan? Kalau memang Mas butuh bantuan, Aku bisa kok bantu-bantu dikit!" melihat suaminya sibuk sendiri Michelle jadi nggak tega.


"Belum deh, Sayang! Tapi jika memang Mas butuh, Apa kamu bersedia membantu Mas? Kan kamu repot harus ngurus Agam segala!"


"Iya, nanti kita diskusikan bersama ya, Mas! Enaknya gimana, seperti apa! Insyaallah nanti ada jalannya kok!"


"Iya udah, Mas mau kerja dulu! Pokoknya nanti siang, Kamu siap-siap! Sebelum jam makan siang, Mas jemput kamu! Oke!"


"Oke,"


Setelah memberikan kecupan pada kening sang istri, Nathan pun berangkat bekerja. Michelle juga tidak lupa mengecup punggung tangan suaminya.


____

__ADS_1


____


Tidak terasa Nathan sudah berkutat di depan layar komputer hingga pukul 10 siang. Dia mematikan laptopnya, dan bersiap-siap untuk menjemput sang istri.


Michelle sudah menunggu kedatangan suaminya di teras rumah dengan menggendong Agam. Beberapa menit kemudian Nathan datang.


"Ayo kita langsung saja!" bergegas Michie menaiki mobil suaminya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke Rumah Sakit, memang Ayah dan Ibu membawa Mba Retno ke Rumah Sakit terdekat.


Sebelum sampai ke Rumah Sakit, Michie membeli buah-buahan segar di depan Rumah Sakit. Karena memang di depan Rumah Sakit terdapat banyak penjual buah-buahan dan kue.


Mba Retno di tempatkan di kamar rawat inap kelas satu. Di sana sudah ada Ibu dan Ayah yang menungguinya. Dan anak perempuan Mba Retno juga sudah ada di sana.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam," dijawab serentak oleh Ibu, Ayah, dan seorang gadis cantik berlesung pipi.


"Nayla, Kamu pulang?" tanya Nathan dan Michelle bersamaan.


"Iya, Om, Tante! Mendengar Ibu sakit, Nayla langsung pulang!" jawabnya.


"Alhamdulillah, Kamu sehat, Nay?" tanya Michie langsung memeluk Nayla.


"Alhamdulillah sehat, Tante!"


"Kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik!" puji Michelle.


"Ah, Tante bisa saja! Tante juga cantik kok. Dari dulu sampai sekarang cantiknya nggak hilang. Beruntung tuh Om bisa nikah sama Tante!" kekeh Nayla. Semuanya tertawa bahagia.


"Iya, Mas!" Michelle menyerahkan Agam ke gendongan sang Ibu.


"Sini sama Nenek," senang Ibu mertuanya.


"Tante, biar sama Nayla saja! Agam kan belum kenal sama Nayla. Sekarang biar Agam kenal sama Nayla!" ujarnya.


"Terimakasih ya, Nay! Tante masuk dulu!" Agam pun sudah berpindah ke gendongan Nayla.


_____


_____


Pasangan suami istri masuk ke dalam ruangan Mba Retno. Mba Retno mempersilahkan Nathan dan Michelle masuk. Dia nampak sangat senang melihat adik dan iparnya datang.


"Masuklah, Nathan, Michie!" ujar Mba Retno.


"Mba sakit apa? Maaf Michie baru tahu, itupun Mas Nathan yang ngasih tahu. Ayah dan Ibu nggak kasih kabar pada kami!" ucap Michelle panjang lebar.


"Mba sengaja nggak ngasih tahu kamu dulu. Karena Mba tahu kamu pasti sangat khawatir!"


"Tentu aku khawatir. Kita kan satu keluarga!"


"Mba cuma kelelahan saja. Mungkin karena usia Mba yang sudah tidak muda lagi. Membuat tubuh Mba tidak sekuat dulu!" jelas Mba Retno.


"Kalau begitu untuk sementara Mba tidak usah bekerja dulu. Michie sangat takut jika terjadi sesuatu sama Mba!"

__ADS_1


"Terimakasih ya. Kalian memang adik-adik Mba yang pengertian!"


"Mba Retno sementara fokus dulu dengan kesembuhannya Mba! Biar Cafe menjadi urusan Nathan!"


"Iya, Nath. Mba akan fokus dengan kesembuhan Mba! Terimakasih atas perhatian kalian semua!"


Cukup lama mereka berbincang-bincang dengan Mba Retno, hingga waktu merambat semakin siang, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang, Michelle mampir dulu ke kantin RS. Membelikan makan siang untuk Ayah, Ibu dan Nayla yang menjaga Mba Retno di ruangannya.


____


____


"Sayang, Aku mau ke Cafe! Ikut nggak?" tanya suaminya saat di mobil.


"Boleh,"


"Aku harus membereskan pembukuan Cafe. Sepertinya banyak yang harus aku bereskan!"


"Apa Mas butuh bantuanku?"


"Boleh, kalau kamu nggak capek!" ujar suaminya.


"Nanti saat di depan, Aku mampir ke minimarket dulu ya, Mas! Ada sesuatu yang mau aku beli!"


"Oke,"


Sampai di depan minimarket, Michelle meminta turun. Dan menyuruh suaminya untuk jalan ke Cafe dulu. Awalnya Nathan menolak, tapi setelah Michelle meyakinkan akhirnya Nathan jalan ke Cafe lebih dulu.


Beberapa menit kemudian, Michelle selesai membeli beberapa barang keperluan sang buah hati. Bergegas dia menyusul suaminya ke Cafe. Jarak antara minimarket dan Cafe tidak jauh, tinggal menyebrang saja, Ia sudah sampai di Cafe suaminya.


Para karyawan yang bekerja di sana, dan mengenal baik Michelle menyambutnya ramah. Mereka merasa heran karena tiba-tiba istri Bos juga ikut serta, dan tentu dalam hati mereka bertanya-tanya.


"Assalamualaikum!" Michelle membuka pintu, dia terkejut karena di ruangan suaminya ada Indah sedang duduk di sana.


"Indaaaah!"


"Michelle," Indah juga tidak kalah terkejutnya dengan Michelle. Dia tidak menyangka kalau Nathan datang bersama Istrinya.


"Kemarilah, Sayang!" Nathan melambaikan tangannya ke arah sang istri.


"Kok Indah ada disini!" ucapnya.


"Iya, Sayang. Ternyata Indah kasir baru di Cafe kita!" jelas suaminya. Tentu Nathan tidak mau istrinya salah paham dengan adanya Indah.


"Iya, Michelle. Begitulah!" jawab Indah nampak gugup.


"Oh begitu. Ehm, tapi sebaiknya Mba nggak masuk ke ruangan ini. Biasanya ruangan ini hanya diperuntukkan untuk pemilik Cafe dan keluarganya! Mba Indah bisa keluar sekarang. Maaf ya!" ucap Michelle masih dalam batas kesopanan.


"Oh, iya, Maaf! Saya datang kesini hanya ingin menyapa Nathan, dan ingin mengucapkan terimakasih karena saya sudah diterima di Cafe sini!" jawabnya.


"Baiklah, Maaf ya, Mba Indah!" ujar Michelle.


Ada sedikit kesal dihati Indah. Meskipun Michelle menyuruhnya untuk pergi dengan sangat sopan. Indah pun pergi dari ruangan Nathan dengan sedikit menyimpan kekesalan hatinya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2