
Setelah sholat subuh, Michelle merasakan rasa mual yang luar biasa diperutnya. Dia mengeluarkan semua isi perutnya yang masih kosong, terasa rasa pahit pada lidahnya. Nathan terbangun, ketika mendengar istrinya terus muntah di kamar mandi.
"Sayang, Kamu tidak apa-apa?"
"Perutku mual banget, Mas!"
"Apa nanti siang kita ke Dokter saja? Bukankah selama kamu hamil, kamu belum pernah periksa ke Dokter, Sayang?"
"Iya, Mas."
"Iya, Sudah. Nanti siang kita ke Dokter!"
Nathan membantu istrinya untuk duduk di tempat tidur. Dia mengelus perut sang istri yang masih rata. Menciumnya berkali-kali. Bahagia. Itulah yang sekarang Nathan rasakan.
Penantiannya selama bertahun-tahun akhirnya dikabulkan oleh Allah, disaat pernikahannya diujung tanduk. Dia sangat bersyukur, Anaknya adalah anugerah terindah yang diberikan Allah kepadanya.
"Oya, Sayang. Kita ke Cafe sebentar, kemudian langsung ke Rumah Sakit!"
"Iya, Mas. Terserah Mas saja!"
"Iya, Sudah. Mas mau sholat subuh dulu. Kamu sudah sholat?"
"Sudah, Mas."
Sekali lagi Nathan mengusap perut sang istri. Rasanya begitu tenang saat tangannya menyentuh perut istrinya.
"Sudah sana sholat!" suruh istrinya. Bergegas Nathan mandi dan bersih-bersih.
Mereka berangkat ke Cafe bersama-sama. Semua karyawan seperti biasa sudah berkumpul di Cafe. Melaksanakan tugasnya masing-masing. Mereka saling bekerjasama satu sama lain. Ada yang membersihkan. Ada yang hilir mudik meletakkan makanan di etalase kaca. Ada juga yang menata buku menu di masing-masing meja. Mereka terlihat sangat kompak.
Nathan nampak tersenyum, saat sudah ada orang yang menunggu di depan Cafe. Michelle menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Mereka adalah pelanggan pertama cafe. Dan harus dilayani sebaik mungkin.
Kemudian pelanggan kedua. Michelle ingin menyambutnya, tapi, sang suami melarang. Nathan tidak mau istrinya kecapean. Michelle pun memilih untuk pergi ke toilet.
Ternyata, pelanggan tersebut adalah Bang Byan. Melihat kedatangan Byan, Nathan menyambutnya dengan hangat. Dan Byan tidak datang sendiri. Dia datang bersama dengan seorang wanita cantik.
"Tasya?" panggil Michelle yang baru keluar dari kamar mandi.
"Michelle." Tasya tidak percaya bertemu dengan Michelle kembali. Mereka saling berpelukan. Melepas rindu.
"Gimana kabar, Lo?"
"Alhamdulillah, gue baik." jawab Michelle, "Dan, Lo?"
"Gue baik banget." ujarnya tersenyum.
"Kok kalian bisa bersama?" tanya Michelle heran karena sahabatnya datang dengan Bang Byan.
"Kalian saling mengenal?" tanya Byan penasaran. Nathan juga nampak penasaran.
"Kami teman sekantor," jawab mereka serempak.
"Eh, Bang Byan. Kok Abang bisa datang bersama dengan Tasya?" Michelle mengernyitkan alisnya, "Kalian mempunyai hubungan?"
Glek ...
__ADS_1
"Nggak," jawab mereka serentak.
"Tapi, kenapa kalian bisa datang bersama?"
"Elle, Kamu duduk dulu! Biar aku jelaskan!"
"Duduk, Sayang!" ajak Nathan ke istrinya. Michelle duduk di sebelah sang suami. Menatap tajam ke arah mereka dengan penuh curiga.
"Kami tidak sengaja bertemu. Saat itu, mobil Tasya mogok. Dan Aku memberikannya tumpangan. Dari situlah kami saling mengenal. Iya kan, Sya!" ucap Byan.
"Iya, Michelle. Begitu!" timpal Tasya.
"Jika kalian ada hubungan juga nggak apa-apa. Tidak ada yang melarang juga kan?" gelak Michelle, "Tasya masih lajang. Dan Bang Byan sudah tidak ada istri. Aku rasa kalian cocok kok!"
"Ck, Lo jangan sembarangan deh!" ujar Tasya. Pipinya merah karena menahan malu.
"Oya, Kalian mau pesan apa?" tanya Nathan.
"Menu apa yang cocok untuk sarapan?" tanya Byan.
"Oh, kami ada bubur ayam spesial. Ada sandwich dan burger juga. Roti isi ayam juga ada. Silahkan Abang mau pesan yang mana!" Nathan menyodorkan buku menu ke arah Byan.
"Tasya, Kamu mau pesan apa?"
"Ehm, Saya mau sandwich saja, Mas. Kalau minumnya, Saya mau jus jeruk saja deh!"
"Samain saja deh!"
"Oke. Saya sudah mencatatnya. Silahkan tunggu sebentar!"
"Oya, Michelle. Sekarang kamu tinggal dimana? Aku ke rumah kamu yang dulu, Kamu sudah nggak disana?"
Byan hanya menjadi pendengar yang baik bagi mereka berdua yang sedang asyik mengobrol.
"Iya, Sya. Aku sudah pindah. Waktu itu ada sedikit masalah. Alhamdulillah masalahnya sudah selesai. Sekarang aku tinggal di rumah mertua. Selain ada seseorang yang menjaga aku saat hamil, Aku juga bisa bertukar pikiran dengan ibu mertua dan ayah mertuaku!"
"Jadi kamu sedang hamil?"
"Alhamdulillah." Michelle tersenyum bahagia. Berkali-kali dia mengusap perutnya.
"Ah, senangnya. Selamat ya! Aku ikut senang kalau begitu. Akhirnya apa yang kamu inginkan selama ini terkabul!"
"Alhamdulillah."
"Aku tuh merasa kehilangan kamu. Setelah kamu sudah nggak kerja di sana!"
"Kalau ada waktu mainlah ke rumah mertuaku!"
"Oh, itu pasti. Kapan-kapan aku main ke rumah kamu!" gelak Tasya, "Kalau Cafe ini, Milik kamu?"
"Ini usaha suamiku, Sya!"
"Wah, keren! Aku akan mengajak teman-teman kita untuk makan disini! Aku juga akan mengajak Bu Maya untuk datang ke sini!"
"Boleh tuh!"
__ADS_1
Setelah kepulangan Byan dan Tasya, Nathan langsung mengajak istrinya untuk memeriksakan diri ke Dokter. Semakin cepat semakin baik. Itu yang ada dipikiran calon ayah tersebut.
"Ini janinnya ya, Pak, Bu! Sehat kok!" ucap Dokter kepada pasangan suami-istri itu. Michelle nampak sangat bahagia melihat janin yang ada diperutnya.
"Setiap pagi saya sering mual, Dok. Apakah kondisi tersebut normal?"
"Normal kok, Bu. Awal kehamilan memang seperti itu. Tapi setelah tiga atau empat bulan, gejala seperti itu akan hilang dengan sendirinya! Nggak usah khawatir ya, Pak, Bu!"
"Oh, begitu, Dok!"
"Ini anak pertama ya, Pak, Bu?"
"Iya, Dok. Ini anak pertama kami!"
"Setiap bulan harus kontrol ya! Jangan telat makan. Dan perbanyak makan buah dan sayur! Susu juga."
"Baik, Dok."
"Saya berikan vitamin, obat anti mual dan obat penguat kandungan. Diminum ya, Bu!"
"Iya, Dok."
"Oya, Dok. Saat hamil muda, Apakah saya boleh mengajak istri berhubungan?" tanya Nathan tanpa rasa malu. Dokter tersenyum. Sedangkan wajah istrinya merah, karena menahan malu.
"Ck, Mas."
"Boleh kok, Pak. Tapi harus hati-hati dan jangan keseringan! Kasihan istri Anda!"
Nathan hanya terkekeh geli. Sedangkan Istrinya tersenyum tipis.
"Baiklah, Dok. Terimakasih banyak!"
"Sama-sama, Pak!"
Mereka keluar dari ruangan Dokter, menuju tempat pengambilan obat. Setelah obatnya diambil, mereka pun langsung memutuskan untuk pulang. Nathan melihat istrinya juga sudah kelelahan.
"Kita langsung pulang ya!"
"Tapi bagaimana dengan cafe?"
"Setelah aku mengantarmu pulang. Aku balik lagi ke Cafe. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal di rumah?"
"Iya, nggak apa-apa dong, Mas. Kan ada ibu dan ayah yang menemani aku di rumah!"
"Baiklah. Ayo kita pulang sekarang!" Michelle mengangguk.
Mobil Nathan sampai di depan halaman rumah bercat putih dan biru tersebut. Ibu heran, karena anak dan anak menantunya pulang cepat.
"Aku habis memeriksakan kandungan Michelle, Bu!"
"Oh, pantes kalian pulang cepat!"
Mereka terkekeh.
To be continued ..
__ADS_1