
Pasangan pengantin yang sedang dimabuk cinta, tidak berhenti untuk bergumam dan memuji keindahan pulau Dewata itu. Biasanya Tasya hanya berjalan-jalan disekitaran pantai. Tapi dengan suaminya, dia menjadi seorang penjelajah ulung.
Mereka sekarang sedang berada di pusat oleh-oleh. Berjalan kesana kemari, berburu barang-barang sebagai oleh-oleh untuk orang-orang tercinta. Fabyan hanya mengikutinya dari arah belakang.
Tasya berbelanja baju, celana, pernik-pernik, tas dan sebagainya. Dengan setia sang suami menemaninya.
"Hhhhhhhhhh, Aku capek, Mas!" ujarnya.
"Tentu saja kau capek! Dari tadi kau tidak beristirahat mencari oleh-oleh!" ujar suaminya.
"Hehehehe, habisnya aku gemes kalau melihat barang-barang bagus!" kekehnya.
"Iya sudah. Kamu disini saja. Aku cari minum dulu!"
"Baik, jangan lama-lama ya, Mas!"
____
____
Beberapa detik kemudian, Byan membawa dua botol air mineral. Satu ia berikan untuk istrinya, dan satu lagi untuk dirinya.
"Ah, segarnya!"
"Apakah sudah selesai belanjanya?"
"Sudah sih, Mas! Semua oleh-oleh khas Bali sudah aku beli. Sekarang, Ayo kembali ke hotel!"
__ADS_1
"Ehm, Baiklah. Kita kembali ke mobil travel tadi!"
Mereka pun langsung kembali ke hotel. Hari juga sudah Sore, mereka harus segera kembali ke hotel, untuk mandi dan bersih-bersih.
Sampai di hotel, Tasya langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Sementara Fabyan meletakkan semua barang-barang istrinya di dekat meja.
"Taruh situ saja, Mas! Nanti biar aku yang menatanya di tas!"
"Oke," sahutnya.
Tasya mengambil handuk. Dia ingin segera berendam di bathtub. Sepertinya berendam di bathtub bisa mengusir rasa lelah yang menggelayut dipergelangan kakinya.
Sedang asyik berendam, tiba-tiba Byan sudah bertelanjang masuk ke kamar mandi. Sontak Tasya begitu terkejut melihat suaminya bertelanjang seperti itu.
"Kenapa?" tanya suaminya, "Tidak usah heran begitu. Bukankah Kau sudah melihatnya kemarin!"
"Ish, memalukan! Kenapa justru dibahas sih?" Tasya tersipu malu. Byan terkekeh geli..
"Mandilah. Masa mau berjoget?" goda Byan.
"Tapi aku kan sedang mandi, Mas?"
"Bathtubnya kan muat dua orang! Jadi nggak ada salahnya kan, Aku mandi juga!"
"Iya, nggak salah sih!" Tasya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Byan memasukkan kakinya di bathtub, kemudian dia duduk di belakang Tasya. Meskipun kemarin Tasya sudah melihat suaminya bertelanjang, dia masih nampak sangat malu-malu. Pipinya memerah, dan dia berusaha untuk menyembunyikannya dari sang suami. Byan tahu apa yang dirasakan sang istri.
__ADS_1
"Kalau mau bertanya ya bertanya saja? Nggak usah malu-malu!" ujar suaminya.
"Siapa?"
"Kau ingin bertanya sesuatu yang besar kan?" bisik Byan mengerjai sang istri.
"Apa sih yang Mas bicarakan? Apanya yang besar?"
"Yang kemarin memasukimu!" bisiknya lagi sambil menahan tawanya.
"Ih, mesum!" dengan refleks, Tasya mencubit pinggang suaminya.
"Auw, sakit, Sayang!" pekik Byan terkekeh.
"Makanya jangan mesum!" gerutunya.
"Kan mesum sama istri sendiri! Memang nggak boleh?"
"Ehm, itu ... !" gagap Tasya.
Cup ...
Satu buah ciuman berhasil mendarat di bibir istrinya, ********** hingga dalam. Membuka rongga itu dengan mulutnya, saling menjelajahi satu sama lain dengan lidah. Memberikan sensasi yang aneh dan luar biasa.
Tangan suaminya tidak berhenti meraba dan menyentuh. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada sang istri agar lebih terangsang.
Tasya mencengkeram pinggiran bathtub saat suaminya melakukan penyatuan. Rasanya ada sensasi yang berbeda saat melakukannya di kamar mandi. Dan apa yang seharusnya terjadi akhirnya terjadilah.
__ADS_1
Byan membopong tubuh istrinya keluar dari bathub. Jika terlalu berendam, dia takut istrinya akan sakit. Byan memberikan kesempatan istrinya untuk beristirahat, sebelum melanjutkannya lagi nanti malam.
To be continued ...