
Hiks ... Hiks ... Hiks
"Dia meninggal. Saat aku datang, tubuhnya sudah dingin. Dia tidak tertolong lagi, Mas! Kemana saja kamu saat Vino dimakamkan? Vino meninggal, Mas! Bahkan kamu tidak pulang! Tega kamu, Mas! Jahat kamu! Hiks ... Hiks ... Hiks!" Indah memukuli dada suaminya.
"Kamu adalah penyebab anakku mati! Kamu pembunuh! Pembunuh anak mu sendiri!" teriak Indah ke arah suaminya.
"Kamu pasti bohong!" Kevin tidak percaya, "Kamu bohong kan?" syok itulah yang dirasakan Kevin sekarang.
"Kamu tunggu saja surat dari pengadilan! Aku ingin kita berpisah!" ujar Indah.
Maniknya menoleh ke arah Nathan.
"Ayo, Nath! Kita pergi!" Indah mengajak Nathan untuk meninggalkan Kevin yang masih berdiri mematung.
Hingga mobil mereka tidak nampak lagi, Kevin masih berdiri mematung. Dia tidak menyangka apa yang sudah dia lakukan menyebabkan kematian anaknya. Menyesal? Itulah yang sekarang dia rasakan di dalam hati.
Kevin menangis saat perjalanan pulang ke rumahnya. Dia melihat kembali kamar yang Ia gunakan untuf mengurung anaknya.
"Vino, Maafkan ayah, Nak! Ayah bersalah!" Kevin memungut pakaian putranya dan memeluknya dengan erat. Seolah-olah pakaian itu adalah putranya.
"Vinooooo, maafkan Ayah!" isaknya.
Hiks ... Hiks ... Hiks
Sementara di mobil, Indah terus saja menangis. Dia tidak menyangka dia berani mengambil keputusan itu. Harusnya dia ambil keputusan itu saat Kevin mulai berlaku kasar padanya.
"Terimakasih banyak, Nath! Kamu sudah berusaha melindungi ku!" ujar Indah.
"Sama-sama. Apa yang kamu lakukan sudah benar! Kamu harus kuat Indah! Demi Vano!"
"Iya. Aku pasti kuat!" ucap Indah sambil tersenyum.
Rencananya hari ini, Indah akan pulang ke rumah orangtuanya. Karena Indah merasa sudah sangat merepotkan keluarga Nathan. Dia juga merasa nggak enak, tinggal di rumah orang tua mantan kekasihnya.
Setelah berpamitan dengan Rahadi, Yunita dan Mba Retno, mobil Nathan melaju meninggalkan kediaman itu. Vano melambaikan tangan mungilnya, anak laki-laki itu sangat senang berkumpul dengan keluarga hangat seperti mereka.
Mobil Nathan berjalan dengan kecepatan tinggi menuju rumah orang tua Indah. Saat Indah dan Vano baru turun dari mobil, kedua orang tua Indah nampak terkejut dengan kedatangan mereka. Apalagi melihat Indah putrinya terlihat kurus dan tidak terawat. Membuat kedua orang tua itu menangis pilu.
Namun orang tua tetaplah orang tua. Seburuk apapun perilaku anaknya, Pak Burhan beserta istri masih mau menerima kedatangan putri dan cucunya. Apalagi Indah adalah anak semata wayang mereka.
Mereka begitu bahagia melihat kedatangan anak dan cucunya. Setelah sekian purnama mereka tidak bertemu, akhirnya mereka dipertemukan kembali oleh takdir yang Kuasa. Indah yang merasa bersalah dan menyesal, dia langsung berhambur ke pelukan kedua orangtuanya.
Dia menyesal karena dulu pernah menyakiti hati sang ayah dan Ibu. Tidak menuruti kemauan sang ayah, dan juga menentang keinginan sang ayah membuat Indah dihinggapi rasa penyesalan yang mendalam.
"Assalamu'alaikum!"
"Walaikumsalam," jawab mereka.
"Indaaaaah!"
"Ibuuuuuu!" Indah terisak merasa bersalah. Dia berhambur memeluk sang Ibu.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak pernah mengunjungi Ibu dan Ayah, Nak! Apakah kau sudah tidak perduli dengan kami lagi?" tanya sang Ibu. Indah menoleh ke arah ayahnya.
"Indaaaaah!" Ayahnya terisak.
"Ayaaaaaah. Maafkan Indah, Yah, Bu!" secara bersamaan mereka berpelukan bertiga.
"Maafkan Indah, Yah, Bu! Indah bersalah. Indah takut jika Indah pulang ke rumah, ayah dan Ibu akan mengusir Indah," isaknya dengan deraian air mata.
"Semarah-marahnya kami, kami tidak mungkin tega mengusir kamu, Ndah!" ucap Ibunya.
"Maafkan Indah, Yah, Bu! Indah bersalah! Indah banyak dosa sama Ayah dan Ibu!" ucapnya tergugu.
"Apakah kau tahu, kami begitu merindukanmu! Kami selalu menanti kedatangan mu!" ucap Ayah.
Hiks ... Hiks .. Hiks
"Maafkan Indah, Ayah! Indah salah!"
"Kenapa kau kurus sekali? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ibu.
Indah menatap manik hitam itu. Ia dilanda perasaan bersalah yang luar biasa. Kini dia sangat menyesal.
"Sudah, sudah! Ayo kita masuk dulu! Nanti kita cerita di dalam!" ajak Ayah.
Manik ayah menoleh ke arah anak kecil yang ada di belakang Indah. Dan itu pasti adalah cucunya. Tapi kabar terakhir yang dia dengar, kalau Indah memiliki dua anak. Lalu kemana anak yang satunya?
"Apakah ini cucu ayah?" tanya Pak Burhan, ayah Indah.
Bocah berusia 5 tahun itu menurut. Dia menyalami punggung tangan kakek neneknya.
"Ah, cucu Kakek!" senang Pak Burhan.
"Kakek!" Vano berhambur ke pelukan sang Kakek, kemudian bergantian memeluk neneknya.
Kebahagiaan terpancar di keluarga itu. Nathan juga ikut bahagia melihat Indah berkumpul lagi dengan keluarganya.
Setelah memeluk sang cucu, manik Burhan beralih ke pria yang berdiri mengantarkan Indah. Burhan begitu terkejut melihat pria yang berdiri di sebelah putrinya.
"Bukankah kamu, Nathan?"
Burhan ingat dengan Nathan. Dulu saat mereka satu kuliah. Putrinya Indah pernah menjadi bagian hidup Nathan. Nathan pun sering bertandang ke rumah Indah. Saat itulah Burhan kenal baik dengan Nathan.
Namun setelah mereka tidak bersama lagi, Nathan jarang ke rumah Indah. Bahkan sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di sana lagi.
Burhan tidak menyangka kalau dia bisa bertemu dengan Nathan kembali. Bahkan Nathan yang sekarang dia temui sungguh berbeda dengan Nathan yang dulu sering bertandang ke rumahnya.
Nathan tersenyum, kemudian mencium punggung tangan lelaki tua itu, "Iya Pak. Saya Nathan!"
"Wah, kamu berbeda sekali. Kamu tampan banget! Bapak sampai pangling!"
Nathan terkekeh, "Bapak bisa saja!"
__ADS_1
"Bagaimana kabar, Pak Burhan?" tanya Nathan.
"Alhamdulillah sehat. Saya sehat!" jawab Burhan.
"Eh, kenapa kita masih diluar? Ayo masuk dulu!"
"Ah, tapi saya harus pulang! Ini juga sudah sore!"
"Ayolah mampir dulu! Sudah lama juga Saya tidak bertemu kamu! Masuklah dulu! Nanti kita cerita-cerita!" ajak Burhan.
"Tapi sebentar lagi Maghrib!"
"Sudah, sholat Maghrib disini saja!" ujar Burhan.
"Iya, Nak. Sholat Maghrib disini saja. Nanti sekalian makan malam disini!" bujuk Bu Henny, istri Burhan.
"Tapi ... !"
"Jangan tapi-tapian! Anggap saja ini adalah rasa terimakasih kami kepada Nak Nathan karena sudah mengantarkan Indah dan Vano kesini!" gelak Burhan.
"Iya, Om. Om makan malam saja disini! Nanti sholat bareng sama Vano! Iya, Om! Please!" mohon Vano.
"Ehm, baiklah!" akhirnya Nathan ikut bergabung dengan mereka. Sholat Maghrib berjamaah, dan juga makan malam bersama.
____
____
Sementara Michelle di rumah, dia sudah menyiapkan makan malam yang istimewa untuk sang suami. Dia tata sedemikian rupa di meja makan agar terlihat menarik.
Hingga sholat isya, sang suami tidak kunjung pulang. Dia mencoba untuk menelfon mertuanya. Tapi mertuanya bilang, Nathan sudah pulang dari tadi sore. Dan dia mengantar Indah ke rumah orang tuanya dulu.
Huft ...
Michelle menghela nafasnya.
"Kemana sih, Mas Nathan? Dia bilang hanya mengantarkan Indah pulang ke rumah orang tuanya. Tapi sampai sekarang belum pulang juga!" Michelle sedikit kesal pada suaminya.
Baru saja ghibah dalam hati, sang suami pulang. Michelle langsung menyalami punggung tangan suaminya. Dan membantu sang suami melepaskan jaketnya.
Michelle sedikit terperanjat, "Mas pakai baju siapa?" tanya Michelle.
"Oh, ini. Ini bajunya Pak Burhan. Dan Pak Burhan itu ayahnya Indah!" jawab Nathan.
"Apa?"
Sejak kapan mereka akrab?
Kenapa aku merasa hubungan Mas Nathan dengan Indah bukan hanya sekedar teman kuliah saja! Apakah dulu mereka memliki hubungan spesial?
Sepertinya ayah Indah sangat mengenal Mas Nathan!
__ADS_1
To be continued ...