
Pakde Kartono terus menerus menekan Abah untuk mengurus surat perceraian Putrinya. Dari jauh Umi mendengarkan percakapan itu, namun Umi juga tidak kuasa untuk mencegahnya. Dia hanya kesal kepada suaminya yang tidak memiliki sikap tegas.
"Bah?" panggil Umi setelah Pakde Kartono dan Dewi pulang ke rumahnya.
"Iya, Umi,"
"Abah teh gimana? Kenapa Abah nggak melarang? Kenapa hanya pasrah saja?" kesal Umi.
"Mau bagaimana lagi, Umi? Abah teh merasa hutang budi dengan Kang Kartono. Sejak kecil, Kang Kartono yang membiayai Abah Sekolah hingga lulus kuliah. Abah hanya ingin membalas semua kebaikan Kang Kartono!" terang Abah.
"Tapi, bukan berarti Abah harus mengorbankan anak sendiri. Kasihan Michelle, Bah! Sudah cukup Abah mengorbankan Siti," kesal Umi.
"Mengorbankan bagaimana sih, Umi? Siti kan sudah bahagia dengan suaminya di sana," ujar Abah.
"Eh, Abah nggak tahu saja," ucap Umi hampir keceplosan, "Selama ini Siti sering curhat sama Umi. Dan Abah nggak pernah tahu apa-apa. Kalau terjadi sesuatu dengan anak-anak Umi, Umi nggak akan tinggal diam!" kesal Umi kepada Abah yang terlalu penurut dengan Kakak kandungnya. Umi pun memilih untuk pergi ke kamar dengan perasaan yang dongkol.
Dulu, pernikahan Siti anak pertama Abah, juga di atur oleh Pakde Kartono. Mereka menikah karena perjodohan. Padahal saat itu, Siti sudah memiliki tambatan hati. Tapi, karena watak Abah yang memaksa, terpaksa Siti menuruti kemauan sang Abah.
Siti menikah dengan anak dari teman karib Pakde Kartono. Siti diboyong kesana oleh suaminya. Sekarang mereka memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan.
Seringkali, Siti menelfon uminya sekedar menanyakan kabar atau bercerita masalah rumah tangganya. Itupun tanpa sepengetahuan sang suami. Dan sering juga Siti, menangis di telepon. Membuat Umi terkadang merasa geram, sedih dan iba. Saat akan mengadukan kepada Abah, Siti melarang Uminya untuk mengadukan masalahnya.
Michelle duduk bersandar di kursi menghadap jendela kamarnya. Memandang rembulan malam yang bersinar terang. Cahayanya sangat indah berkilau.
Michelle berharap masih ada asa untuk masa depannya kelak. Usianya masih dua puluh lima tahun. Menikah muda di usia dua puluh tahun adalah pilihannya. Dia sangat iri melihat rumah tangga kakaknya. Saat Abah menjodohkan dirinya dengan pria yang belum pernah ia temui, Michelle begitu saja mengatakan setuju.
Lima tahun menikah, dia belum dikaruniai anak hingga sekarang. Tiba-tiba ujian mendera di rumah tangganya. Namun, dia yakin bahwa semua kekhilafan jika benar-benar bertaubat maka Allah akan mengampuninya. Suaminya pun kembali ke pelukan.
Suaminya berubah menjadi orang yang baru. Bahkan orang yang sangat berbeda. Dia lebih taat kepada sang Maha Pencipta. Michelle sangat bahagia.
Michelle sangat yakin, bahwa masalahnya adalah suatu rencana yang Allah berikan, agar sebagai manusia dia dan suami bisa mengintropeksi diri. Setiap kenikmatan adalah Rahmat, dan setiap kepahitan adalah obat. Maka jika dia menelan dengan ikhlas dan ikhtiar maka penyakit hidupnya niscaya akan sembuh.
Tidak ada yang Kuasa selain Allah, sang Maha Pencipta. Dan, jika kita ingin menyelesaikan semuanya dengan baik, kita harus banyak berikhtiar dan bertawakal. Sesungguhnya semua masalah datang dari-Nya dan akan kembali kepada- Nya.
Michelle memohon, supaya jalannya dipermudah. Allah membukakan hati Abah, Pakde dan juga Dewi. Diberikan hidayah atas kesalahannya. Bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah. Memisahkan seorang istri dari suaminya adalah kesalahan besar.
__ADS_1
to be continued...
Kasih dukungan untuk karya ini. Dengan like, komentar, vote, bunga dan hadiah kopinya.
Author sangat berterimakasih atas dukungannya, Semoga yang mendukung dapat rezeki yang melimpah dari Allah. Amin.
Colek juga karya Author yang lain, Ada Kadarsih nih, cerita horor dari tanah Jawa.
Intip Yuk ...
# Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )
Lolongan serigala saling bersahutan, suara burung gagak terdengar jelas. Malam yang semakin temaram membuat hawa disekitarnya semakin mencekam. Angin berhembus kencang, menggoyangkan daun bambu yang menjuntai hingga tanah.
Kadarsih keluar dari bilik bambu milik Nyai Suketi. Maniknya melihat halaman sekitar. Kuduknya berdiri merinding, melihat gelapnya malam tanpa ada cahaya sebagai penerang. Karena memang, bilik bambu milik Nyai Suketi berada ditengah hutan. Jauh dari perkampungan.
"Darsih?" panggilnya seraya memegang bahu Kadarsih. Membuat Darsih terhenyak dari lamunan horornya.
"Iya, Nyai," sahut Darsih.
"Ganti pakaianmu dengan ini!" suruh Nyai Suketi.
"Kita akan kemana, Nyai?" tanya Darsih, melihat Nyai Suketi membawa obor sebagai penerangan.
"Ikuti saja aku!"
Nyai membawa Darsih memasuki bagian dalam hutan. Hanya kegelapan demi kegelapan yang nampak didepan mata. Dia menelisik lebih jauh. Sekelebatan muncul, kemudian menghilang kembali. Entah apa itu. Darsih mengekor di belakang Nyai.
Hingga tibalah ditengah hutan terdalam. Ada tanah yang cukup lapang. Dimana di sana terdapat satu tempat air besar, terbuat dari tanah liat. Yang isinya air dan berbagai jenis bunga.
"Darsih, duduklah di sini!" surah Nyai Suketi. Darsih menurut seperti anak ayam yang mengikuti kata-kata induknya. Nyai membaca sesuatu, terlihat mulutnya komat-kamit, entah apa yang dibaca oleh Nyai. Selesai membaca sesuatu, dia menyiramkan air bunga ke tubuh Darsih, seraya mulutnya terus membaca sesuatu. Dan meniupkan ke tubuhnya.
Kadarsih merasakan tubuhnya sangat panas. Ada sesuatu yang masuk di dalam dirinya, entah apa itu. Dia berkeringat, saat panas itu terus masuk lewat ubun-ubun kepalanya, membuatnya berteriak dengan keras, seraya meremas ujung jaritnya. Tiba-tiba rasa panas berubah menjadi rasa dingin yang luar biasa. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tubuhnya kembali normal seperti sedia kala.
"Sekarang, Kau sudah menjadi muridku. Dan, Kau sudah melakukan ritual pertama!" ucap Nyai, "Besok adalah ritual kedua. Kau harus siap!" ucapnya.
"Baik, Nyai," jawab Darsih menganggukkan kepalanya. Mereka kembali ke bilik kayu sebelum subuh menjelang.
Disepanjang perjalanan pulang ke bilik, ada sesuatu yang aneh dipenglihatanya. Banyak sekelebatan yang hilir mudik didepannya. Bahkan ini sangatlah jelas. Mata Kadarsih membulat sempurna, saat makhluk bertubuh tinggi besar, berdiri di dekat pohon beringin dengan mata melotot tajam menatap ke arahnya. Tentu, Darsih sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat.
"Bukan hanya itu yang akan kau lihat!" ucap Nyai. Darsih mengalihkan pandangannya ke arah Nyai.
"Nanti akan ada makhluk lain yang akan kau lihat," imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Maksud, Nyai?"
"Itu adalah genderuwo, penunggu pohon beringin itu," jawab Nyai. Sontak Darsih bergidik ngeri.
Mereka kembali meneruskan perjalanan pulang keluar hutan. Daun bambu yang menjuntai ke tanah, semakin menjuntai. Seketika suara nyaring bertengger di pohon bambu itu. Mata Darsih bisa menangkap dengan jelas, sekelebat makhluk berpakaian putih, dengan mata yang hitam pekat, wajah yang pucat, terkekeh ke arahnya.
"Apa itu?" kejut Darsih.
"Kuntilanak," sahut Nyai datar tanpa menunjukkan ekspresi takut atau apapun.
"Kuntilanak?" merindingnya.
"Kita harus cepat pulang sebelum subuh menjelang!" ucap Nyai.
"Baik, Nyai,"
Darsih melangkahkan kakinya cepat, mengekor tepat dibelakang Nyai. Entah makhluk apa yang akan ditemuinya lagi, Darsih tidak tahu. Dia hanya berusaha untuk mempersiapkan diri untuk tidak takut kepada apapun.
Ritual Kedua
Darsih terbangun dari tidur, kala dia memimpikan kedua buah hatinya. Mereka datang dan memeluknya. Namun, keadaannya sangatlah memprihatinkan. Tubuhnya gosong, dan berbau daging panggang yang membuat perutnya seperti diaduk-aduk. Seketika dia terbangun dari alam bawah sadarnya.
Keringat dingin mengucur di dahi. Dia menyeka dengan punggung tangannya. Darsih bangkit dari tidur, kala mendengar suara anak-anak riuh di depan. Dia mengintip dari jendela kamar, dan melihat dari sembarang arah. Banyak anak-anak bertubuh kecil dengan kepala yang pelontos, raut mukanya sungguh menyeramkan. Mendekat ke arahnya.
Darsih beringsut dari tempatnya berdiri. Dia ketakutan ketika anak-anak itu mendekatinya. Semakin mendekat, dan sangat dekat. Saat, dirinya menutup mata untuk tidak melihat, anak-anak itu menghilang entah kemana. Darsih menarik nafasnya lega.
"Darsih?" panggil Nyai.
"Iya, Nyai," sahutnya, seraya mendekat ke sumber suara.
"Ikuti aku!" ajaknya.
Nyai Suketi mengajaknya ke sebuah ruangan yang sangat tertutup. Dia membuka gembok pintu itu. Pertanda bahwa ruangan tersebut jarang ia gunakan. Bahkan mungkin ruangan khusus yang tidak boleh seorangpun tahu ada apa didalamnya.
Mereka memasuki ruangan yang gelap. Nyai menyalakan lilin sebagai penerangnya. Cat dinding berwarna serba merah, dan kain penutup juga berwarna merah. Sungguh sangat mistis, batin Kadarsih sendiri.
Nyai menyuruh Darsih duduk di depannya. Dengan menyilangkan kedua kakinya, Darsih duduk tepat di depan Nyai Suketi. Nyai membakar menyan di atas cinglo ( tempat untuk membakar kemenyan ). Aroma kemenyan menyeruak hingga indera penciuman.
__ADS_1