
Abah mendatangi rumah Pakde Kartono. Lama kelamaan, hati Abah mulai mencair. Ada rasa tidak tega terhadap putrinya. Apalagi memisahkan seorang istri dalam keadaan mengandung.
"Aang?"
"Kang Kartono ada yang harus kita bahas!" ucap Abah.
"Duduklah!" suruh Kartono, "Ada apa?"
"Kang, Michelle sedang mengandung. Dan sebagai orang tua, Aku tidak tega melihatnya terus bersedih!"
"Jadi Michie hamil?" ujarnya sambil memilin janggutnya yang panjang.
"Iya, Kang," jawab Aang, "Sebagai orang tua, Aku nggak tega memisahkan dia dengan suaminya. Dia butuh suaminya disaat sedang hamil,"
"Aang, Janganlah kamu lemah!"
"Tapi yang menjadi korban adalah anakku, Kang!"
"Dewi juga menjadi korban!" geram Kartono.
"Lalu mau Kang Kartono bagaimana? Aku nggak tega melihat putriku menderita. Apalagi sekarang dia sedang mengandung. Dan anak yang ada di dalam kandungannya membutuhkan figur seorang ayah,"
"Kita kembali ke rencana awal, Ang. Setelah Michie melahirkan, suruh dia bercerai!"
"Tidak, Kang. Aku nggak tega!" ujar Aang, "Karena keegoisan ku, nasib dua putriku nggak jelas,"
"Bukankah Michie menikah juga dijodohkan seperti Siti!" ucap Kartono.
"Tapi, bedanya Nathan sudah berubah, Kang. Dan Hendra?"
"Memangnya Kau tahu Nathan sudah berubah?" sinis Kartono, "Ingat, Ang. Kau jangan naif. Bisa saja itu kedok Nathan supaya Kau mau menerimanya kembali! Kau harus ingat, laki-laki yang sudah merasakan kenikmatan dunia, dia tidak akan secepat itu melepaskan kenikmatan tersebut!"
"Tapi aku percaya apa yang dikatakan putriku,"
"Hah, Aku kecewa denganmu. Kau adalah adikku. Dan selama ini aku sudah mengorbankan segala-galanya untukmu. Apakah ini balasanmu?"
"Bukan begitu maksudku, Kang. Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku dan calon anaknya. Apakah tidak ada cara lain selain perceraian?"
"Terserah Kau sajalah! Aku sudah tidak mau mengurusi urusanmu!" ucap Kartono. Kemudian berlalu masuk ke dalam begitu saja.
Abah tahu kalau Pakde Kartono pasti sedang marah. Dia pun langsung pergi dari rumah Pakde Kartono.
Sedari tadi Dewi mendengarkan percakapan Abah dan juga ayahnya. Dewi tidak senang dengan apa yang baru dia dengar. Jika Michelle sampai hamil dan melahirkan, itu berarti dia gagal membuat sepupunya menderita.
Dewi masuk ke kamarnya. Dia nampak sangat marah, dan meremas semua pakaiannya. Ingin rasanya dia berteriak. Namun tidak mungkin dia lakukan. Karena sekarang dia sedang berperan menjadi seorang wanita yang teraniaya. Yang tidak berdaya. Dan membutuhkan perlindungan kedua orangtuanya.
"Aku tidak akan membiarkan Michie bahagia. Dia harus merasakan penderitaan seperti apa yang aku rasakan. Mereka tidak boleh bersatu kembali!" kesal Dewi.
Michelle duduk di taman belakang sambil bersantai. Sesekali dia mengelus perutnya, dan mendoakannya. Saat memulai berdo'a, tanpa terasa air matanya menetes. Dia berusaha untuk mencegahnya, tapi, entah kenapa hatinya begitu sensitif.
Suara mobil Abah terdengar masuk ke pekarangan rumah. Terdengar derap langkah kaki, mendekat ke arah dirinya. Abah sudah berdiri di depannya.
"Michelle!" panggil Abah. Sebagai seorang anak yang berbakti, Michelle masih menghormati orang tua yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Bah," sahutnya sambil menyeka air matanya.
Michelle mencium tangan keriput itu dengan takzim. Dia sadar satu hal. Mungkin semua orang tua di dunia ini menginginkan anak-anaknya bahagia. Seperti Abah. Abah juga menginginkan anak-anaknya bahagia. Namun cara yang Abah tempuh sudah keliru.
"Ini," ucap Abah menyodorkan ponsel milik putrinya.
"Apa ini, Bah?"
"Telfon lah suamimu. Nathan berhak untuk mengetahui kehamilanmu!" ucap Abah. Seperti mimpi di siang bolong. Michelle tidak berhenti bersyukur dan mengucapkan Alhamdulillah.
"Terimakasih, Bah!" ujarnya mencium kembali tangan keriput itu.
__ADS_1
"Telfon lah!" suruh Abah mengusap puncak kepala anaknya. Michelle menganggukkan kepalanya dengan bahagia. Abah berlalu pergi meninggalkan Michelle. Dia ingin memberikan Michelle waktu untuk mengobrol dengan suaminya.
Ternyata Umi dan Kak Siti menguping pembicaraan Abah dan Michelle. Mereka juga ikut bahagia. Mereka keluar, dan langsung memeluk tubuh Michelle dengan sayang.
"Umi, Teteh!" senang Michelle.
"Telfonlah suamimu! Ayo cepat!" suruh Siti.
"Iya, Teh. Michie juga mau menelfonnya!"
"Telfon lah, Nak! Mungkin Abahmu sudah diberi hidayah oleh Allah," ucap Umi membuat kedua putrinya terkekeh.
"Iya, Umi,"
"Dret .. Dret ... Dret!" sudah berkali-kali Michelle menghubungi ponsel suaminya, namun belum juga diangkat.
"Bagaimana?"
"Belum diangkat juga," jawab Michelle.
"Iya, sudah. Kamu harus bersabar, Nak!'
"Iya, Umi. Mungkin Mas Nathan sedang dalam perjalanan,"
"Sudah sholat dhuhur, Yah?" tanya Nathan keluar dari Masjid.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, mereka beristirahat di masjid untuk melaksanakan shalat dhuhur. Di dalam hati, Nathan selalu berdzikir menyebut asma Allah. Supaya diberikan kemudahan untuk membujuk Ayah mertuanya.
"Sudah, Nak,"
"Sebaiknya kita langsung melanjutkan perjalanan, Nathan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Michie, Yah!" senang Nathan.
"Iya, Nak. Ayah mengerti," ucap Ayah tersenyum.
Mobil Nathan berjalan pelan, saat akan mesuk ke halaman rumah Michelle. Kebetulan Ratna baru pulang kuliah. Dia nampak tidak asing dengan mobil yang akan masuk ke pekarangan rumahnya.
Nathan menurunkan kaca jendelanya, dan menyapa Ratna yang berdiri terbengong. Dia tersenyum manis melihat mimik Ratna seperti itu.
"Ya Allah, Mas Nathan?" seru Ratna.
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam," senang Ratna.
"Teteh?" panggil Ratna dengan berteriak keras. Dia berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak.
"Teh Michie!" teriaknya lagi.
"Ada apa sih Ratna?" kesal Umi mendengar teriakkan Ratna membuat telinga Umi panas.
"Ada Mas Nathan," ujarnya sambil menunjuk ke arah luar.
"Nathan,"
"Iya, Mas Nathan datang kesini," jawab Ratna lagi.
"Ada apa sih, Ratna?" tanya Michelle yang baru saja menyelesaikan sholat dhuhurnya.
"Teh, itu di depan ada Mas Nathan dan Ayahnya,"
"A-pa?"
"Temui, Nak!" suruh Umi.
"Ada apa sih?" tanya Siti.
"Siti panggil Abah kamu di perkebunan. Katakan ada tamu dari Jakarta,"
__ADS_1
"Baik, Umi,"
"Katakan pada Bi Ijah untuk membuat minuman!" suruh Umi kepada Ratna.
"Baik, Umi,"
Michelle dan Umi keluar untuk menemui tamu. Betapa bahagianya hati Michelle bertemu dengan suaminya kembali. Dia menghambur ke pelukan suaminya.
"Mas Nathan!"
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam," jawab Michelle tersipu malu. Saking bahagianya dia lupa menjawab salam.
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Alhamdulillah sehat, Mas," jawab Michelle, "Mas sendiri?" cemas Michelle. Suaminya terlihat agak kurusan. Namun tidak mengurangi ketampanan dan kegagahannya.
"Alhamdulillah berkat doa kamu. Mas sehat," jawabnya.
"Ehm ... Ehm!" suara dehem Pak Bara. Seketika mereka menunduk malu.
"Ayah, Apa kabar?" Michelle menyalami punggung tangan mertuanya.
"Alhamdulillah sehat," jawab Bara, "Kamu sehat?"
"Alhamdulillah sehat,"
"Pak Bara, Nathan! Ayo silahkan duduk!" suruh Umi.
"Terimakasih, Umi,"
"Umi sehat?" tanya Pak Bara.
"Alhamdulillah sehat, Pak Bara," jawab Umi, "Kok istrinya nggak diajak?"
"Iya, Umi. Sekarang ibunya Nathan lagi bantu-bantu Retno di cafe," jawab Bara.
"Cafe?" heran Michelle, "Mas jadi membuka cafe?"
"Iya, Michie. Mas berhasil membuka Cafe. Masih baru sih, tapi, Insyaallah menjadi ladang rezeki buat kita dan orang lain! Untuk sementara yang menghandle Mba Retno,"
"Alhamdulillah," senang Michie, "Akhirnya apa yang kamu cita-citakan terkabul juga, Mas!"
"Iya, Alhamdulillah,"
Beberapa menit kemudian, Bi Ijah datang membawa baki berisi minuman dan cemilan.
"Mas Nathan, Senang rasanya bisa melihat Mas lagi!" kekeh Bi Ijah.
"Saya juga senang, Bi," jawab Nathan, "Bagaimana kabar Bibi?"
"Kalau Bibi mah sehat! Justru Neng Michie yang sedih terus. Jadinya Dede bayi yang ada di dalam perutnya ikut sedih!" ucap Bi Ijah.
"Ih, Bi Ijah apaan sih?" Michelle tersipu malu.
"Jadi benar yang dikatakan Tante Ningsih mengenai kehamilan kamu?"
"Alhamdulillah, Mas. Doa kita dikabulkan oleh Allah,"
"Jadi maksud kamu, kita akan menjadi orang tua?" tanya Nathan masih belum percaya.
"Iya, Mas. Alhamdulillah,"
"Rabbi hab lii min ladun kadzurriyyatan thayyibatan innaka samii'uddu'aa.”
"Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Mu seorang anak yang baik dan sesungguhnya Engkau maha mendengar Do'a.” (QS Ali Imran: 38)
to be continued ...
__ADS_1