Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 68 : Tamu dari Bogor


__ADS_3

Empat bulan berlalu. Perut Michelle terlihat sudah buncit. Nathan melarang istrinya untuk ikut ke Cafe setiap hari. Dia tidak mau istrinya kecapean karena sering bolak balik ke Cafe.


Seminggu sekali barulah istrinya diizinkan untuk datang ke Cafe. Sebenarnya, Michelle sangat bosan. Di rumah pun tidak ada yang bisa dia kerjakan. Semua pekerjaan disabotase mertuanya. Sekarang, dia hanya diperbolehkan untuk duduk dan bersantai.


"Sayang, Ini Ibu bawain buah untuk kamu. Makan ya!" suruh Ibu mertuanya.


"Terimakasih, Bu. Michelle berasa seperti anak kecil saja," gelaknya.


"Iya, Nggak apa-apa dong. Ibu ingin manjain kamu. Sekali-kali manjain menantu kesayangan ibu."


"Terimakasih ya, Bu. Sudah menjadi ibu mertua yang baik untuk Michelle!"


"Kamu ini apaan sih? Ibu tuh sudah menganggap kamu seperti anak ibu sendiri. Ibu tuh sayang sama kamu!" Michelle tersenyum mendengarkan penuturan ibu.


Setelah sholat ashar, Michelle duduk di teras. Mendengarkan ayat-ayat Allah yang dikumandangkan lewat HP-nya. Dia tempelkan di perutnya yang sudah mulai membuncit.


Ada pergerakan di dalam sana. Belum begitu aktif. Tapi Michelle bisa merasakan rasanya kuat sekali.


"Alhamdulillah ya Allah, memberikan hamba kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Hamba bersyukur, karena Engkau masih menyayangi keluarga kecil hamba!" ucap Michelle sambil mengusap-usap perutnya.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


----


----


 


Michelle begitu terkejut, melihat siapa yang datang.


"Abah, Umi, Teteh!" serunya. Menyalami keluarga yang begitu dirindukan.


"Michelle."


"Ya Allah. Kalian datang dengan siapa?" heran Michelle.


"Nih, Umi kamu. Dia begitu kangen sama kamu. Merengek minta kesini terus!" ujar Abah.


"Silahkan masuk!" ajak Michelle menggandeng tangan Uminya.


"Bu, Lihat siapa yang datang!" seru Michelle.


----


----


 


"Eh, Ada tamu rupanya!" sapa Ibu.


"Apa kabar, Bu Bara?"


"Alhamdulillah sehat." Ibu memeluk besannya. Sangat bahagia.


"Ada tamu rupanya!" Bara baru keluar kamar. Dia habis menunaikan sholat ashar, mendengar di depan ramai suara orang, dia pun langsung keluar kamar. Menyapa tamu-tamu yang dirindukannya.


"Kang!"


"Bara!"


"Gimana kabar, Akang?"


"Alhamdulillah, seperti yang kau lihat! Sudah semakin tua, tapi, jiwa masih muda dong!" kekeh Abah.


"Benar juga, Kang. Kita tidak boleh kalah sama yang muda. Apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai cucu dari Michelle dan Nathan!"


Hahahaha ...


"Benar juga!"


"Iya, Abah. Abah tuh harus sehat, biar bisa gendong cucu dari Michelle!"


"Ah, Umi. Abah merasa sehat kok! Lihat nih!" Abah memperlihatkan otot-otot tangannya. Mereka semua tergelak.


"Ini Siti kan?"


"Iya, Saya Siti, Tante!" Siti menyalami ibu mertua adiknya.


"Wah, Kamu tambah cantik saja!" kekeh Ibu, "Kok anaknya nggak diajak?"


Degh ...


Siti mengulas senyum tipis. Ingin menangis, Dia berusaha untuk menguasai dirinya.


"Siti dan suaminya sudah bercerai. Dan anak-anak ikut ayahnya," sahut Umi.


"Kok bisa? Sayang sekali kan!"


"Itu karena suaminya menikah lagi tanpa sepengetahuan Siti!"


"Ya Allah, Kasihan sekali kamu, Nak. Yang sabar ya!"


"Terimakasih, Tante!"


"Eh, sebentar. Saya akan buatkan minuman dulu!" Ibu beranjak dari tempat duduknya, menuju dapur. Membuat minuman dan cemilan. Michelle langsung menyusul ibu mertuanya ke dapur, untuk membantu. Awalnya ibu menolak, menyuruh Michelle duduk saja. Tapi Michelle bersikeras ingin membantu. Terpaksa Ibu mengalah.


Ibu membuat minuman, sementara Michelle menyiapkan cemilan. Untung Mba Retno menyisakan risoles, lumpia dan kroket kentang di kulkas. Dia tinggal menggorengnya saja.


Minuman dan cemilan disajikan di depan meja. Mencium aromanya yang sangat lezat, Abah langsung mencicipi makanan tersebut.


"Enak. Siapa yang buat?"


"Oh, Ini Mba Retno yang buat, Bah. Dan ini adalah salah satu menu di Cafe, Bah!"


"Oh, Ya. Kita beruntung ya, Umi! Bisa mencicipi makanan Cafe tanpa perlu ke cafenya. Gratis lagi!" Mereka semua tergelak mendengar ucapan Abah.


"Berarti Nathan masih di Cafe?"


"Iya, Bah. Abah menginap disini kan? Kapan-kapan Michelle ajak Abah, Umi dan Teteh kesana!"


"Semoga cafenya laris manis!"


"Amin."


"Kenapa Ratna tidak ikut, Bah?" tanya Michelle.


"Adikmu sebentar lagi ujian. Jadi, Abah tidak mengajaknya!"


"Oh." Michelle membulatkan bibirnya.


"Oya, Ini kami bawa oleh-oleh dari Bogor. Mudah-mudahan kalian semuanya suka!"


"Wah, jadi merepotkan Umi dan Abah!"

__ADS_1


"Kami nggak merasa direpotkan! Kami senang kok!"


"Terima kasih ya, Umi dan Abah!"


"Sama-sama."


 


 


Menunggu suaminya pulang, Michelle dan Ibu membersihkan kamar tamu untuk menginap Abah dan Uminya. Sementara Teh Siti bisa tidur di kamar Mba Retno.


Tidak perlu di pel, karena kamar tamu sudah bersih. Setiap hari Ibu selalu menyapu dan mengepelnya. Tinggal disapu saja sudah cukup.


To be continued ...


Hey ... Hey, Bantu like, komentar, favorit, rate bintang dan giftnya dong. Di novel terbaru aku, Berjudul: My Beloved Mafia Queen



Cuplikan Bab 1 : Pembantaian


Dooooor ...


Dooooor ...


Dooooor ...


Suara tembakan terdengar di pintu gerbang. Anak buah dari Geng mafia Black Shadow membantai habis anak buah Geng Tiger Eye dengan membabi-buta. Darah bersimbah dimana-mana. Seolah-olah rumah mewah itu seperti kuburan massal yang sangat mengerikan.


Secara diam-diam Sane memberitahukan keadaan kacau tersebut kepada Bos-nya. Sane sudah menyiapkan mobil di basemen rahasia. Hanya orang terdekat saja yang mengetahui tempat rahasia tersebut.


"Bos, kita harus pergi!" ajak Sane kepada Ferdinand.


"Mana Clara?"


"Pah, Ada apa ini? Kenapa kita harus lari?" tanya Clara melihat sang papa hendak pergi ke ruang rahasia.


"Ikuti Papa!"


"Tapi Pah, kenapa kita tidak hadapi saja?"


"Clara, ini bukan waktu yang tepat!"


"Lho, kenapa? Aku bisa menghabisi mereka semua!"


"Please, jangan keras kepala! Turuti keinginan Papa! Kau tidak akan menang menghadapi mereka!"


"Tapi, Pa ...!"


Terdengar suara derap langkah kaki banyak orang. Ferdinand khawatir, dia tidak mau Clara putrinya menjadi sasaran empuk kekejaman kelompok tersebut. Meskipun Ferdinand tahu kemampuan bela diri putrinya diatas rata-rata.


"Ayo cepat!" Ferdinand mendorong tubuh putrinya ke ruang rahasia.


Mereka semua masuk ke lorong tersebut. Dua buah mobil sudah disiapkan di sana. Ferdinand dan menarik tangan Clara untuk masuk ke mobil tersebut. Dan anak buahnya masuk ke mobil yang satunya.


Dengan kecepatan penuh, mobil berhasil keluar dari rumah mewah itu. Ternyata Black Shadow sudah mengetahui tempat keluar rahasia mereka. Lima mobil mengejar, dengan disertai tembakan.


Dooooor ...


Dooooor ...


Dooooor ...


Tringgggggggg.....


BOOOOMMMM ...


Suara ledakan terdengar keras. Clara melihat mobil satunya yang ditumpangi anak buahnya meledak. Clara mengeluarkan pistolnya. Dia menembaki mobil-mobil yang mengejarnya. Aksi tembak-menembak terjadi lagi.


Dooooor ...


Dooooor ...


Dooooor ...


Satu peluru berhasil menembus kaca mobil, dan pelurunya mengenai perut Ferdinand.


"Papa!" teriak Clara.


"Brengsek!"


Dooooor ...


Dooooor ...


Dooooor ...


"Papa!" teriak Clara. Air mata Clara keluar ketika dari perut Ferdinand mengeluarkan banyak darah. Sane mengemudikan mobilnya seperti seorang pembalap profesional. Sangat cepat menjauh dari kejaran musuh.


"Jangan menangis! Kau harus kuat dan berani!" ujarnya dengan memegangi perutnya yang berdarah.


"Papa!"


Hiks ... Hiks ... Hiks


"Dengar-kan kata-kata Papa. Mereka akan terus memburumu, me-re-ka a-kan meng-ha-bi-si se-lu-ruh anggota Tiger Eye. Kau harus lari! Kau harus lari sejauh-jauhnya, bila perlu pergi dari kota ini!" Ferdinand merasakan sakit di bagian perutnya.


"Papa juga ingin meminta maaf kepadamu. Papa menyembunyikan rahasia besar Papa!"


"Apa itu, Pa?"


"Papa memiliki a-nak lain selain ka-mu. Dia ju-ga se-orang perempuan. A-dik ka-mu dan istri Papa yang lain."


"A-pa?" Clara terkejut.


"Pa-pa tidak bi-sa membahagiakan mereka. Karena itu, tugas itu Papa serahkan kepadamu. Katakan kepada mereka bahwa Papa menyayangi mereka. Pa-pa ti-dak pernah membuang me-re-ka dari kehidupan Papa. Pa-pa sangat menyayangi me-re-ka. Lindungi mereka! Pa-pa mohon!" Ferdinand menyerahkan foto, dimana di foto tersebut tertulis sebuah alamat.


"Iya, Pa. Clara akan mencari mereka. Clara akan membawa Papa ke Rumah Sakit!"


"Ti-dak, Clara. Mungkin ini akhir dari Tiger Eye."


"Tidak, Pa. Tolong jangan mengatakan itu!"


"Jadilah anak yang baik. Jangan mengikuti jejak Papamu!"


"Tidak. Aku mohon, Pah. Jangan tinggalkan Clara. Clara nggak mau kehilangan Papa!" isak Clara.


"Pah! Papa!" Ferdinand menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan sang putri. Clara menangis sejadi-jadinya. Tidak akan menyangka dia akan kehilangan sang Papa yang sangat dicintainya.


Hiks ... Hiks ... Hiks


Chiiiiiiiiiiiiiit ...


Mendadak Sane memberhentikan mobilnya. Dia memeriksa kondisi Bos-nya.

__ADS_1


"Nona, Tuan meninggal!"


"Papa! Jangan tinggalkan aku, Pa!" isak Clara.


"Nona harus pergi! Tinggalkan jenazah Bos Ferdinand disini. Biar aku yang mengurusnya!"


"Aku tidak mau Sane. Aku ingin didekat Papaku!" isaknya.


"Nona. Apakah Anda tidak ingat dengan kata-kata Papa Anda? Anda harus mencari keberadaan adik dan Ibu tiri Anda! Sekarang mereka adalah satu-satunya keluarga Anda!"


"Tapi ...!"


"Percayalah kepada saya, Nona!"


"Baiklah." Clara nampak berfikir. Yang dikatakan Sane ada benarnya.


Sane menurunkan Clara di tepi jalan raya. Dia memberikan tas dan jaket kepada nona nya. Kemudian memberhentikan sebuah bis di jalan. Sane menyuruh anak bos-nya untuk naik ke bis tersebut.


"Naiklah, Nona!" suruh Sane.


"Sane."


"Percayakan padaku!" Clara menganggukkan kepalanya.


"Pergilah! Aku yang akan memberi kabar kepada Nona. Untuk sementara, kita tidak komunikasi dulu! Ini semua untuk keselamatan Anda!"


"Baiklah, Sane! Terimakasih untuk semuanya!"


Bis berjalan menuju luar kota. Berjalan menyusuri padatnya jalan raya. Melewati perkebunan karet, yang ditumbuhi semak-semak yang cukup tinggi. Bis tersebut melaju tanpa henti.


Clara duduk di dekat jendela. Hanya membawa tas besar dan tas ranselnya. Ditangannya dia memegang sebuah foto, foto adik dan ibu tirinya. Dia terus memandangi foto tersebut, kemudian mengulas senyum tipis.


"Apakah ini adikku?" gumamnya, "So-fia."


Sebuah nama yang indah, yang tercantum dibalik foto tersebut.


"Iya, ini memang adikku."


 ~~


 ~~


Selama tujuh jam perjalanan, akhirnya Clara sampai di Kota K. Kota yang cukup terpencil. Dia turun dari bis setelah membayarkan ongkos bis.


"Ini kembaliannya, Nona!"


"Tidak, Usah. Ambil saja!"


"Terimakasih, Nona!" Clara hanya mengangguk sambil tersenyum.


Dia berjalan melangkah ke sebuah warung kopi kecil. Kemudian dia meminta izin untuk ke toilet, kebetulan pemilik warung sedang duduk santai di kursi reyot.


"Permisi, Apakah saya boleh numpang ke toilet?" Ibu itu nampak memperhatikan Clara dari ujung kepala hingga kaki.


"Boleh, Silahkan Non!"


Clara harus mengganti baju yang dikenakannya. Karena baju tersebut terdapat banyak bercak darah. Dan hal tersebut sudah biasa baginya. Darah dan pistol bukanlah hal yang aneh bagi gadis cantik itu.


 ~~


 ~~


"Apakah ibu tahu jalan Kemundu?" tanya Clara sambil menyomot gorengan dan air mineral.


"Non bukan orang sini ya?" tanya pemilik warung.


"Bukan, Bu. Saya sedang mencari alamat kerabat saya disini. Apakah ibu tahu alamat ini?" Dia memperlihatkan alamat yang ada dibalik foto tersebut.


"Oh, kalau mau ke jalan ini. Non harus pakai bis kecil, sekitar 10 menitan. Nanti turun di Pasar Senggol. Non turun. Coba tanya warga sekitar. Karena Jalan Kemundu didekat situ, Non!"


"Terimakasih banyak, Bu!"


"Non sendirian saja?" Clara mengangguk.


"Hati-hati, Non. Banyak penjahat. Apalagi Non sangat cantik, harus hati-hati!" Clara hanya tersenyum mendengar ceracau ibu pemilik warung kopi.


"Berapa, Bu?"


"Sepuluh ribu saja, Non!"


Clara memberikan satu lembar uang seratus ribu kepada pemilik warung.


"Duh besar sekali uangnya. Saya belum ada kembaliannya, Non! Uang pas saja!"


"Ambil saja kembaliannya, Bu!"


"Hah, terima kasih banyak, Non!" senang Ibu pemilik warung, "Semoga Non cepat ketemu sama kerabat, Non, ya!"


"Terima kasih, Bu!"


 ~~


 ~~


Clara melihat ada bis yang berjalan, dia langsung memberhentikan bis tersebut. Naik. Dan duduk di kursi paling belakang.


Bis sangat penuh hari ini. Apalagi ditambah jam pulang anak sekolah, membuat bis sesak dan ramai penumpang.


Dua orang pria masuk ke dalam bis. Penampilannya sangat mencurigakan. Mereka berdiri di belakang dua siswi perempuan. Tangannya bergerak dengan hati-hati untuk mengambil sebuah dompet di tas siswi tersebut. Sementara pria yang kedua, sengaja menutupi pergerakan dengan tubuhnya yang gemuk.


Clara tidak berhenti memandangi pergerakannya. Hingga pencuri tersebut berhasil mengambil dompet dan HP korban.


Clara berdiri, dia berjalan ke arah pemuda itu. Dan menggenggam tangannya dengan kuat.


"Mau mencuri ya!"


Sontak mereka panik. Mereka pun mendorong tubuh siswi tersebut hingga terjungkal. Dan pria kedua mendorong tubuh Clara terdorong ke belakang. Mereka hendak kabur.


"Pencuri! Pencuri!" teriak seorang ibu, membuat semuanya panik. Dua pencuri tersebut mengeluarkan pisau, dan menyandera ibu yang berteriak itu.


"Jangan mendekat, kalau kalian mendekat. Ibu ini mati!" Clara berhenti, dia tidak mau ada orang yang terluka di dalam bis tersebut.


"Berhenti!" teriak mereka kepada Pak Sopir bis. Bis berhenti, mereka keluar dengan mendorong tubuh wanita separuh baya itu. Penumpang di depan berhasil menangkapnya. Sedangkan anak siswi yang merasa kehilangan dompet dan HP menangis histeris.


Clara keluar dan menghajar dua pencuri itu. Tidak sulit untuk melumpuhkan mereka. Dengan lima gerakan saja, mereka sudah jatuh tersungkur tidak berdaya.


"Ampun, Mba!"


"Jangan sekali-kali menampakkan batang hidung kalian disini! Kalau nggak mau berurusan denganku lagi!" bentaknya.


"Ba-baik, Mba!"


Mereka senang, karena ada seseorang yang berani menghajar dua pencuri yang meresahkan penumpang bis selama ini. Sopir bis dan kondekturnya juga mengucapkan terimakasih kepada wanita cantik itu. Clara tersenyum manis.


"Lapor polisi, Pak!"

__ADS_1


"Ba-baik, Nona!"


To be continued ...


__ADS_2