
"Ayah?" Nathan menyalami punggung tangan yang keriput itu.
"Nathan!" Bara memeluk putranya. Pelukan kerinduan, "Kenapa Kau baru menjenguk ayah? Apakah kau sudah tidak perduli dengan ayahmu yang sudah tua ini? Hah?" isak Bara seraya menepuk-nepuk punggung putranya.
"Maafkan Nathan, Yah. Nathan bersalah! Nathan anak yang durhaka," isaknya.
"Ayah sudah memaafkan mu, Nak. Tolong jangan begini lagi. Wajar kan kalau seorang Ayah itu marah kepada anaknya?"
"Iya, Ayah. Nathan bersalah. Nathan meminta maaf!" isak Nathan.
"Ayah sangat menyayangimu. Tidak ada di dunia ini, orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia, karena itulah Ayah menjodohkanmu dengan Michie. Karena Ayah yakin dia bisa membimbingmu ke jalan yang benar!"
"Ayah benar. Istri pilihan Ayah memang terbaik. Nathan bersyukur memiliki istri seperti dia. Dia berbeda dengan wanita-wanita yang lain. Dia adalah wanita Solehah. Dan Nathan sangat beruntung bisa memiliki istri Solehah seperti Michie," ujarnya sambil sesekali menyeka air mata yang tidak kunjung berhenti menetes.
"Kasihan istrimu. Dia sudah rela berkorban banyak untukmu dan keluarga kita, Nak. Cintai dan sayangilah istrimu!" tutur Ayah tulus dari hati yang paling dalam.
"Iya, Yah. Nathan berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Michie. Nathan akan menjadi suami yang bertanggung jawab," isaknya.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya anakku sadar," senang ibu dan Mba Retno ikut larut dalam kesedihan mereka.
"Retno sudah menceritakan semuanya kepada Ayah. Apakah itu benar, Nak? Apakah kau mengidap penyakit terkutuk itu?" tanya Ayah tiba-tiba. Membuat Michelle dan juga Nathan terhenyak. Dia tidak menyangka Mba Retno akan bercerita kepada Ayah. Sejenak Nathan terdiam.
"Iya, Yah. Maafkan Nathan. Nathan berdosa!" lirihnya, "Nathan sedang berusaha untuk memperbaiki diri sendiri. Nathan bersyukur Michie tidak pernah sedetikpun meninggalkan Nathan. Dengan kesabaran dan doa Michie, Nathan sembuh, Yah!" ujarnya.
"Ya Allah. Ayah benar-benar malu dengan Michie!" ucapnya. "Michie, Kau adalah bidadari surga, Nak! Terimakasih kamu masih mau menerima Nathan sebagai suamimu lagi. Ayah akan selalu mendoakan kabahagiaan kalian berdua," ucap ayah dengan deraian air mata.
"Terimakasih banyak, Yah. Doakan kami terus!" sahut Michie dengan senyuman.
"Kalian menginaplah satu hari disini. Kami semua merindukan kalian!" ucap ibu. Michelle dan suaminya saling berpandangan. Saling melemparkan pertanyaan lewat mata mereka.
"Ehm, besok Michie harus bekerja. Dan, rencananya Nathan juga sedang menunggu telepon teman. Rencananya Nathan ingin membuka cafe, dan teman Nathan membantu untuk mencarikan lokasinya. Mohon doanya, Semoga Nathan diberikan kelancaran dan keberhasilan," ucap Nathan.
"Oh, jadi kamu mau membuka cafe, Nath?" tanya Mba Retno.
"Iya, Mba. Rencananya begitu!"
"Wah, hebat. Nanti kalau cafenya jadi Mba datang ke sana ya. Tapi gratis!" ucap Mba Retno. Semua yang mendengar terkekeh geli.
"Kamu mintanya gratisan terus!" sahut ibunya.
"Iya, nggak apa-apa. Kan sama adik sendiri, Bu!" ucapnya.
"Doakan saja, Mba. Insya Allah kalau sudah jadi, Mba, ibu dan Ayah boleh datang kapanpun kalian mau. Dan Nathan senang jika kalian datang! Doakan kami ya!"
"Tentu. Mba akan mendoakan kalian supaya sukses dan berhasil. Semuanya berjalan dengan lancar!"
"Amin," dijawab serentak oleh semuanya.
"Ret, kamu masak yang enak. Hari ini kalian makan siang disini saja. Ibu masih kangen sama menantu ibu!" suruh Ibu.
"Siap. Retno akan masak makanan kesukaan Nathan. Kalian makan disini ya!"
"Baiklah," jawab keduanya terkekeh.
__ADS_1
Hari itu juga Mba Retno menyembelih ayam untuk membuat opor, makanan kesukaan Nathan. Selama satu jam lebih, akhirnya opor dan menu makanan yang lain matang. Dan sedang disajikan di meja makan oleh Mba Retno. Aroma wangi opor tercium sampai ke indera penciuman Michelle. Dia langsung pergi ke dapur untuk mencari sumber bau yang lezat itu.
"Heum, wanginya. Aromanya enak banget, Mba!"
"Jelas dong. Ini kan daging ayam kampung. Bau gurihnya tercium. Dan rasanya pasti mantul," ucap Retno memuji makanannya sendiri.
"Ayo kita makan. Semuanya sudah siap dimeja makan!" ajak Mba Retno.
Nggak mau ketinggalan, Michelle sudah mengambil tempat duduk, dia menyiapkan piring untuk dirinya dan suaminya. Ayah, ibu dan Nathan menyusul ke ruang makan. Mereka mengambil posisinya masing-masing untuk menikmati makan siangnya.
Selesai makan siang, Nathan sedikit berbincang hangat dengan sang ayah di teras depan. Sedangkan Michelle bercanda dan tertawa bersama ibu mertua dan kakak iparnya.
to be continued ..
Mau rekomendasiin karya Author yang lain, bergenre horor. Bantu like teman-teman..🙏🙏
JUDUL : KADARSIH
Bab 8 :
BUGH ...
BRAKK ...
Salah satu warga mendorong tubuh kurus itu hingga kembali terjatuh. Bu Darno menarik selendang warna merah yang menutupi kepala Darsih yang pelontos. Sontak mereka tertawa terbahak-bahak, mereka mengejek dan menghina penampilan Darsih sekarang. Kadarsih jatuh tersungkur dengan kilatan mata yang memerah. Dia berdiri dengan menarik selendangnya, dan menutupi kepalanya kembali.
"DAN KAU, KAU JUGA!" Darsih menatap ke Bu Heni dan Bu Wati.
"DAN KAU BAJ*NG*N!" Darsih menatap mantan suaminya dengan tatapan kebencian.
"Suami kalian akan bertekuk lutut di hadapanku. Hingga kalian sendiri yang akan meminta pengampunan dariku!" kilat mata Kadarsih menatap tajam ke arah orang-orang yang sudah tega mengusirnya. Mereka tertunduk takut melihat kilatan merah kebencian yang terpancar dari mata Kadarsih. Saat Kadarsih berjalan melewati kerumunan itu, tak seorangpun yang berani untuk bersorak Sorai.
Kadarsih pergi meninggalkan kampungnya, dengan perasaan yang hancur. Rasa sakit yang ada di dadanya membuat dia bertekad untuk pergi dari desanya. Dia berjalan melewati persawahan, perkebunan, dan jalan raya.
Sesekali dia berhenti untuk beristirahat. Menyeka keringatnya, dan menelan salivanya. Tenggorokannya terasa kering, bibirnya pecah-pecah. Dia tidak membawa apapun, dan sama sekali tidak memiliki uang.
Dia duduk di sebuah gubuk kecil, bekas kandang kambing yang sudah lama tidak digunakan. Dia termenung, menangis sendirian. Tidak satupun orang yang perduli dengannya, tidak satupun orang yang iba dengan kondisinya. Sekarang dia tidak memiliki penyemangat untuk hidupnya. Hatinya terasa sangat gersang dan sakit. Seperti ditusuk sembilu, ditempa dengan besi berkarat. Dadanya terasa sangat sesak. Air matanya terus mengalir membasahi pipi, tanpa ia pinta.
Beban hidup yang ia jalani terasa sangat berat. Namun dia bisa tegar selama anak-anak masih ada disisinya, namun sekarang dia sudah tidak memiliki tujuan untuk hidup. Dia berjalan melangkah ke hutan, dan berdiri tepat di tepi sungai yang arusnya sangat deras. Dia memejamkan mata dan menjatuhkan dirinya ke sungai.
BYURRRRRRR .......
Bantu like, favorit, komentar, vote, bunga.....🙏🙏🙏
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
__ADS_1
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
Happy reading....😘😘😘
I Love you sekebon ...
__ADS_1