Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 41 : Ketakutan Michelle


__ADS_3

Kilas Balik


Nampak Michelle terdiam di dapur. Ada sesuatu yang sedang Michelle pikirkan dan ia sembunyikan dari Aminah dan suaminya. Aminah bisa merasakan kesedihan dan kegelisahan sahabatnya. Namun Aminah tidak mau terlalu mencampuri urusan pribadi sahabatnya.Terkecuali jika Michelle sendiri yang bercerita.


"Aminah?"


"Iya," sahut Aminah.


"Aku takut," ucap Michelle tiba-tiba.


"Takut kenapa? Apakah kau mau membagi beban itu kepadaku?" tanya Aminah dengan sangat lembut, "Berbagilah beban dengan saudara sesama muslim. Mungkin sedikit, beban mu akan berkurang," tutur Aminah.


"Kau tahu masalahku kan?" tanya Michelle, Aminah mengangguk, "Aku takut keluargaku mengetahuinya. Dan pasti mereka akan segera mengetahuinya. Mereka pasti akan sangat marah. Dan aku yakin pasti akan menjadi masalah yang sangat besar," terang Michelle.


"Tentu saja, Michelle. Mana ada sih keluarga yang diam melihat ketidakadilan terjadi pada keluarganya sendiri. Seperti bom waktu. Semuanya tinggal menunggu meledak. Kau harus bersabar dan memperbanyak berdo'a. Supaya masalahmu bisa diselesaikan dengan mudah. Kau dan suamimu, mau tidak mau harus siap untuk menghadapinya!" tutur Aminah, "Jangan takut, Saudariku. Allah ada bersama dengan orang-orang yang sabar!"


"Terimakasih, Aminah. Kau memang wanita yang hebat!" puji Michelle, "Terkadang aku sangat iri denganmu yang berfikir dewasa. Iri dengan keimanan mu. Aku juga sangat iri dengan caramu berpakaian," ucap Michelle. Aminah tergelak mendengar penuturan sahabatnya.


"Apakah selama ini kau tidak menyadarinya? Kau sudah menjadi wanita seperti diriku. Kau wanita yang lebih hebat dari ku. Tidak semua wanita bisa seperti dirimu. Kau wanita berhati lembut. Wanita yang sangat baik. Wanita yang tegar. Wanita yang takut neraka. Wanita pengharap surga Alloh. Wanita yang sangat hebat, yang mau menerima keadaan suaminya. Padahal jelas Kau selalu disakiti. Akulah yang seharusnya iri kepadamu. Kau wanita yang tangguh. Aku sangat salut dengan ketangguhan mu, wahai saudariku!" ucap Aminah memeluk Michele


"Percayalah, semua bidadari di surga pasti akan merasa cemburu denganmu. Karena kau bukan hanya cantik diluar, kau juga sangat cantik didalam!"


"Terimakasih, Aminah!" isak Michelle. Air mata sahabatnya, ia seka dengan kerudungnya yang panjang.


"Aku ingin sepertimu, memakai hijab yang besar. Doakan aku, semoga aku bisa menyusul mu!"


"Aku yakin, Kau bisa!" ujarnya memberikan kepastian dan semangat kepada Michelle.



"Ada apa, Sayang?" tanya Nathan saat mereka di mobil ke arah jalan pulang.


"Tidak apa-apa, Mas!" ucap Michelle sambil tersenyum, "Oya, Mas. Mustofa itu lucu sekali ya? Aku ingin sekali memiliki anak seperti dia. Sangat menggemaskan!" Michelle berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Insyaallah. Kita pasti diberikan anak seperti Musthofa. Yang penting kita berusaha dan berdo'a," ujar suaminya terkekeh.


"Iya, Mas." senang Michelle.


Mobil mereka sampai di depan halaman. Nampak ada satu mobil Toyota warna hitam terparkir di depan halaman rumah. Michelle sangat mengenali plat nomor mobil tersebut.


"Abah? Bang Faiz?" lirih Michelle.


"Sepertinya itu Abah dan Bang Faiz," tunjuk suaminya pada dua orang yang sedang berdiri di teras rumah.


"Iya, Mas. Itu Abah dan Bang Faiz," ujar Michelle.


"Ayo kita turun!" ajak Nathan.


Mereka pun turun dari mobil. Dengan raut muka yang terkejut, mereka menghampiri kedua tamu yang sangat mereka kenal. Nathan mendekat ke arah Abah. Dan hendak mencium punggung tangan ayah mertuanya. Namun ditepis kasar oleh sang ayah mertua. Membuat Nathan sangat terkejut.

__ADS_1


"Abah?"


"Abang?"


BUGH ... BUGH ... BUGH


BUGH ... BUGH ... BUGH


Faiz berkali-kali memukul muka dan perut Nathan hingga tersungkur ke lantai. Sedangkan karena terkejut Michelle berteriak keras. Dia tidak percaya, Faiz sepupunya akan memukul suaminya sedemikian rupa.


"Abang, Hentikan!" teriak Michelle.


"Bajing\*n!" Faiz terus memukulinya. Kemudian Nathan menahan tangan Faiz.


"Ada apa ini? Kenapa kau datang dan tiba-tiba memukuli ku?" tanya Nathan.


"Kau masih bertanya?" Faiz sudah mengepalkan tangannya lagi untuk memukul Nathan.


"Faiz berhenti!" teriak Abah melarang Faiz memukul lagi. Karena Nathan sudah babak belur dihajar oleh Faiz.


"Mas nggak apa-apa kan?" isak Michelle membantu suaminya berdiri.


"Nggak apa-apa, Sayang," jawab suaminya. Darah segar mengalir di sudut bibir Nathan.


"Apa yang Abang lakukan?" marah Michelle.


"Faiz kita bicarakan didalam. Tidak enak kalau terdengar tetangga!" suruh Abah.


Setelah membuka kunci pintu. Michelle mempersilahkan Abah dan Abangnya masuk. Sedangkan ia memapah suaminya dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.


"Ada apa ini? Kenapa Abang memukuliku?" tanya Nathan.


"Kau masih bertanya? Hah?" marah Faiz.


"Saya benar-benar tidak tahu, kenapa Bang Faiz memukuliku?" ucap Nathan.


"Abah? Bang Faiz? Ada apa ini? Apa kesalahan Mas Nathan?" isak Michelle. Michelle bisa melihat raut muka marah pada Abah dan Bang Faiz.


"Dasar bajing\*n! Aku hajar kamu sampai mati. Biar tidak ada pendosa seperti kamu di dunia ini!" teriak Faiz.


"Faiz. Tahan emosi kamu!" teriak Abah. Seketika Faiz langsung terdiam.


"Abah, Ada apa ini?" isak Michelle.


"Abah, Faiz, dan semua keluarga besar sudah mendengar semuanya. Dewi sudah menceritakan semuanya kepada keluarga," jelas Abah.


"A-pa? Memangnya Dewi bercerita apa, Bah?" kejut Michelle.


"Huft," Abah membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


"Dewi sudah menceritakan semuanya. Menceritakan Hubungannya dengan suami mu, yang tidak lain adalah Nathan. Dan yang Abah sesalkan, kenapa kamu masih mempertahankan rumah tangga yang sudah cacat ini?" marah Abah.


Iya, inilah yang selama ini Michelle takutkan. Kaluarga besarnya tahu. Namun, mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya.


"Bukan begitu, Bah!" isak Michelle.


"Dan Kau juga yang sudah menularkan penyakit terkutuk itu ke adikku!" ucap Faiz dengan nada meninggi dan menunjuk muka Nathan.


"A-pa?" Nathan mengusap wajahnya kasar.


"Itu tidak benar!" sangkal Nathan.


"Kau mau menyangkalnya bodoh!" tekan Faiz, "Gara-gara Kau, sekarang adikku tertular penyakit terkutuk itu! Kau yang seharusnya pantas mati!" teriak Faiz.


"Saya memang bersalah karena berselingkuh, Bang. Tapi, Saya tidak menularkan penyakit itu. Dan Saya sudah bertaubat. Saya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi!"


"Ah, omong kosong! Kau ingin mengatakan adikku yang salah? Adikku yang tertular duluan?" kesal Faiz, "Paman, sebaiknya paman suruh Michie bercerai dengan pria bajing\*n ini!"


"A-pa?" mereka sama-sama terkejut.


"Nggak, Michie nggak akan melakukan itu. Michie nggak mau, Bah. Perceraian adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah," ucap Michelle.


"Tapi, Abah nggak punya pilihan lain, Nak! Kamu memang harus bercerai dengan suamimu!"


"Nggak, Michelle nggak mau," ucap Michelle menolak kemauan Abah nya.


"Michelle, ikut kami atau kami paksa kamu!" teriak Faiz.


"Nggak. Michelle nggak mau!"


"Tolong, Bah. Saya memang bersalah. Tapi, Saya sudah bertaubat. Saya janji akan menjadi suami yang baik buat Michelle!" ucap Nathan.


"Ucapan maaf saja tidak akan mengembalikan semuanya Nathan. Kamu sudah membuat saya kecewa, marah, malu, dan benci sama kamu! Jadi, Abah minta, tinggalkan Michie!" geram Abah.


"Bah, tolong pikirkan lagi. Mas Nathan sudah berubah!" isak Michelle.


"Michie, Apakah kamu mau jadi anak durhaka? Tidak menuruti kemauan orang tuanya?" bentak Faiz.


"Tolong, Bang. Jangan bentak istri saya! Abang boleh marah sama saya. Tapi, jangan pernah membentak istri saya!" ucap Nathan.


"Dasar munafik!" geram Faiz hendak menghajar Nathan lagi. Namun dihalangi oleh Abah.


"Sudah cukup, Faiz!" teriak Abah, "Michelle, kemasi barang-barang kamu, dan ikut kami pulang ke Bogor!" titah Abah.


"Nggak bisa gitu dong, Abah. Michelle sudah menikah, dan Michelle tidak bisa begitu saja meninggalkan kewajiban Michelle,"


"Kewajiban apa yang kamu maksud? Pernikahan macam apa yang kamu pertahankan? Abah sudah mendengar semua dari Dewi. Jika bukan karena penyakit itu, Nathan juga akan menceraikanmu. Dan laki-laki ini memilih hidup dengan Dewi, bukankah begitu?" bentak Abahnya. Michelle hanya terdiam, dia bingung harus menjelaskan apa kepada Abahnya. Tapi, memang apa yang dikatakan Abah semuanya tidak ada yang salah.


to be continued ...

__ADS_1


__ADS_2