
Mobil Nathan dan Michelle baru saja datang. Dan Agam tertidur pulas dalam gendongan Michelle. Ibu mertuanya yang melihat kedatangan mereka, langsung berlari mendekat. Ibu mertuanya langsung mengambil Agam dari gendongan sang menantu.
"Ibu, pelan dong! Agam sedang tidur, kasihan nanti kebangun!" ucap Nathan.
"Habisnya Ibu kangen sama cucu Ibu!" jawab Ibu. Michelle hanya terkekeh.
"Dimana Indah?" tanya Michelle.
"Ada tuh!"
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Indah dan Mba Retno sedang mengobrol di ruang tengah. Michelle dan Nathan ikut bergabung dengan mereka. Sementara Vano diajak Yunita untuk bermain di teras belakang rumah. Pasalnya setelah berpindah tangan, bocah kecil itu terbangun.
"Mba Indah, bagaimana keadaan Mba? Apakah sudah membaik?" tanya Michelle.
"Alhamdulillah, Mba Michelle. Semua berkat bantuan Nathan dan Mba Michelle!"
"Alhamdulillah." senang Michelle, "Panggil Michie saja, Mba Indah! Lagipula usia kita tidak terlalu jauh!"
"Baiklah, Michie!" ucap Indah malu-malu.
"Ndah, setelah apa yang terjadi. Apakah kamu tidak mau melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib?" Nathan angkat bicara.
"Benar, Mba! Apa yang dikatakan Mas Nathan memang benar. Mba harus lapor ke polisi!" saran Michelle.
"Saya tidak berani. Bagaimana jika Mas Kevin marah sama saya?"
"Tapi Ndah, apa yang dilakukan suami kamu itu sungguh keterlaluan. Dia mengurung dua anak kecil di kamar. Hingga Vino sesak nafas, dan tidak tertolong lagi. Ini sama dengan kasus kekerasan!" ucap Nathan, "Dia juga sudah melakukan kekerasan dengan kamu kan? Yang selama ini menyakiti kamu, pria itu kan?"
"Tapi, Nath?"
"Ndah, semuanya terserah kamu! Kamu bisa memikirkan semuanya!" tutur Nathan.
Aneh! Kenapa Mas Nathan begitu perhatian sama Indah.
Jika memang mereka hanya teman, tidak mungkin kan seperhatian itu!
"Sudah Mas, biarkan Mba Indah berpikir! Kasih waktu dia berpikir!"
"Baiklah! Semoga kamu bisa mengambil keputusan terbaik untuk hidup kamu dan anak kamu!"
"Terimakasih banyak, Nath!"
°°°°°°°°°°°°
__ADS_1
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu. Akhirnya Indah memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Dengan ditemani Nathan ke kantor pengadilan, Indah mendaftarkan perceraiannya.
Indah membawa berkas-berkas yang dibutuhkan juga bukti-bukti visum agar hakim cepat memberikan keputusan.
Kini dia tinggal menunggu panggilan sidang dari pengadilan dan putusan hakim, karena Indah yakin bahwa dirinya sudah tidak mau mempertahankan pernikahannya.
Dia hanya ingin pernikahannya cepat berakhir. Dia tidak mau terlalu lama hidup dengan biduk rumah tangga yang menyakiti dirinya secara lahir dan batin.
Setelah dari pengadilan, Nathan mengajak Indah untuk makan siang. Karena memang ini sudah jam-nya makan siang.
Nathan mengajak Indah ke sebuah tempat makan. Karena dirinya juga merasakan lapar pada perutnya.
"Kita makan di sini saja! Kamu mau pesan apa, Ndah?" tanya Nathan.
"Seperti biasa saja, Nath! Kamu pasti paling tahu makanan kesukaan aku!" ujarnya.
"Baiklah." Nathan memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Mba, dua porsi ayam bakar dan minumnya es jeruk ya!"
"Baik, Mas. Sudah saya catat. Ditunggu ya!" ucap pelayan dengan ramah.
____
____
____
Prokk ... Prokk ... Prokk
"Oh, Oh, hebat sekali kalian! Ternyata cinta lama bersemi kembali!" sindir seorang pria. Dan ternyata pria itu adalah Kevin, suami Indah.
"Mas Kevin!" Indah begitu terkejut.
"Cih, dasar wanita murahan! Jadi begini kelakuan kamu di belakang ku!" murka Kevin.
"Kevin tenang dulu!" ucap Nathan angkat bicara.
"Apa Kau?"
Bugh ...
Kevin meninju pipi kanan Nathan, membuat tubuh Nathan limbung ke samping.
__ADS_1
"Mas Keviiiiiiiiiiin!" teriak Indah, "Berhenti, Mas!"
"Dasar wanita murahan. Jadi ini pekerjaan kamu. Kabur dari rumah, dan pergi dengan laki-laki miskin seperti dia!" bentak Kevin.
"Berhenti ya, Mas! Cukup!" teriak Indah, "Sudah cukup kamu menghina aku!" Indah menatap tajam ke arah Kevin.
"Aku sudah muak kau injak-injak harga diriku. Aku lelah menjalani pernikahan dengan mu yang penuh dengan luka. Dan selama ini aku benar-benar sangat bodoh! Kenapa aku harus menikah dengan pria kejam seperti dirimu? PEMBUNUH!" murka Indah.
"Sudah, Ndah! Tahan emosi kamu! Ingat kita sedang ada di rumah makan!" tutur Nathan yang masih memegangi pipinya yang sakit akibat pukulan yang dilayangkan Kevin kepadanya.
"Bapak, Ibu! Tolong jangan bikin kerusuhan disini. Ini tempat untuk makan, bukan tempat untuk bertengkar!" ucap pemilik warung, "Tolong keluar dari sini!"
"Maafkan kami, Pak! Oh, ini untuk membayar makanan yang kami makan!" Nathan menyerahkan satu lembar uang seratus ribuan kepada pemilik warung.
"Terimakasih, Pak!" jawab pemilik warung.
"Indah, Kevin! Ayo keluar! Kita selesaikan di depan!" ajak Nathan sambil menggandeng tangan keduanya.
Setelah di depan warung makan, Kevin menepis kasar tangan Nathan.
"Kau jangan ikut campur, Brengsek!" Kevin hendak menghajar Nathan kembali, namun Indah menghalanginya.
"CUKUP YA MAS! HENTIKAN! AKU SUDAH MENDAFTARKAN PERCERAIAN KITA DI KANTOR PENGADILAN AGAMA!" ucap Indah, "SEBAIKNYA KAMU JANGAN MACAM-MACAM! TUNGGU SAJA SURAT DARI PENGADILAN!" seloroh Indah yang sangat murka pada suaminya.
"Apa maksud kamu? Kenapa kau mengataiku pembunuh? Hah?"
"Iya, tentu saja! Kamu memang pembunuh anak kamu sendiri! Gara-gara perbuatan kamu, mengurung Vano dan Vino, Vino mengalami sesak nafas! Dia itu mengidap asma, Mas! Kamu nggak tahu kan?" isak Indah pilu.
Ibu mana yang tidak marah, jika melihat anaknya disakiti. Bahkan ayah kandungnya sendiri yang tega menyakitinya.
"Apa?" Kevin sangat terkejut mendengar penuturan Istrinya.
"Vino meninggal, Mas! Nyawanya tidak tertolong!" teriak Indah dengan deraian air mata.
Hiks ... Hiks ... Hiks
"Dia meninggal. Saat aku datang, tubuhnya sudah dingin. Dia tidak tertolong lagi, Mas! Kemana saja kamu saat Vino dimakamkan? Vino meninggal, Mas! Bahkan kamu tidak pulang! Tega kamu, Mas! Jahat kamu! Hiks ... Hiks ... Hiks!" Indah memukuli dada suaminya.
"Kamu adalah penyebab anakku mati! Kamu pembunuh! Pembunuh anak mu sendiri!" teriak Indah ke arah suaminya.
"Kamu pasti bohong!" Kevin tidak percaya, "Kamu bohong kan?" syok itulah yang dirasakan Kevin sekarang.
To be continued ...
__ADS_1