
"Uangku adalah uangmu. Dan semua yang aku milikku adalah milikmu juga," jawabnya, "Termasuk rumah ini, dan mobil juga milik kamu. Kamu berhak menjualnya. Apalagi untuk membayar RS. Justru sebagai seorang suami, aku tidak berguna. Harusnya aku yang memikirkan semuanya. Tapi ... !"
"Mas, sudahlah. Jangan diingat-ingat lagi. Kita mulai dari awal," sela istrinya.
"Ehm, baiklah," jawab Nathan sambil memainkan rambut coklat istrinya. Ia cium, baunya sangat wangi dan segar. Terbukti bahwa istrinya sangat pandai merawat dirinya.
Keesokkan Paginya
Suami istri itu berencana ingin lari pagi di taman kompleks. Setelah sholat subuh, mereka sudah siap dengan baju dan celana training. Nathan melakukan pemanasan terlebih dahulu di depan rumah, sembari menunggu sang istri berdandan.
"Mas, aku sudah siap!" ucap istrinya setelah mengunci pintu rumah.
"Ayo kita lari!"
Mereka berlari keluar kompleks menuju taman. Jaraknya tidak terlalu jauh, tidak juga terlalu dekat. Taman kota terletak di tengah perumahan kompleks. Tamannya tidak terlalu luas, namun sangat ramai didatangi pengunjung. Meskipun hanya sekedar untuk menikmati udara pagi di taman sambil berkuliner pagi atau sengaja datang untuk lari pagi mengelilingi taman.
"Mas, Aku capek banget!" ujar Michelle sambil mengambil nafas panjang.
"Baru sebentar, Sayang. Masa sudah capek?" ucap sang suami.
"Tapi aku benar-benar lelah," sahutnya. Nathan hanya terkekeh geli.
__ADS_1
"Baiklah, kita jalan kaki saja. Jaraknya 30 meter lagi, kita sampai di taman," ujarnya.
"Baiklah, Ayo kita jalan!" ajak Michelle.
Akhirnya mereka sampai di taman. Karena mereka datang lebih awal, taman terlihat tidak begitu ramai. Namun banyak juga pengunjungnya.
"Kamu mau ikut berlari atau mau duduk di sana!" Nathan menunjuk bangku yang kosong.
"Aku tunggu di sana saja, Mas," ujarnya.
"Baiklah. Kamu tunggu di sana, Sayang. Aku lari berkeliling taman dulu! Jangan kemana-mana!"
"Okey," jawab Michelle mengacungkan jempolnya tanda setuju. Nathan berlalu dari tempat duduk istrinya, dan memulai lari paginya sebelum taman itu ramai didatangi para pengunjung.
Maniknya membulat sempurna, setelah melihat sang istri sedang duduk dan mengobrol dengan seorang pria. Nathan pun memutuskan untuk menghentikan larinya, dan mendekat ke arah mereka yang sedang asyik mengobrol.
"Sayang?" panggil Nathan. Dia melihat keakraban istrinya dengan seorang pria.
"Mas," sahutnya. Michelle bisa melihat manik suaminya menatap tidak suka ke arah pria yang sedang mengobrol dengannya.
"Oya, Mas, perkenalkan ini Bang Byan," ucap Michelle memperkenalkan Byan kepada suaminya. Nathan mengingat-ingat pria yang berdiri di depannya.
"Iya, aku ingat. Nathan, suami Michelle," ucap Nathan menegaskan kata suami agar lebih jelas dan mudah diingat.
__ADS_1
"Senang bisa bertemu dengan Anda. Saya adalah Byan. Teman sekaligus tetangganya di kampung," terangnya. Nathan hanya mengulas senyum simpul.
"Sedang lari pagi?" tanya Byan.
"Iya," jawabnya singkat.
"Oya, Mas. Bang Byan ini adalah pemilik Restaurant. Restaurantnya banyak disini. Dan aku ingin menyerap ilmunya, bagaimana bisa menjadi seorang pengusaha Restaurant yang terkenal. Dan aku juga ingin seperti Bang Byan," ujarnya.
"Nggak boleh," sahutnya begitu saja. Membuat Michelle terkejut dengan jawaban diplomatis suaminya.
"Biarkan aku yang bekerja. Setelah aku mendapatkan pekerjaan, biarlah aku yang bekerja. Aku ingin kau fokus di rumah. Biar aku yang mencari nafkah untukmu, Sayang," jawab suaminya tegas
"A-a-apa?"
"Oh, jadi Anda membutuhkan pekerjaan? Kenapa tidak membuka Restaurant saja disini? Atau Cafe?" saran Byan. Nathan nampak berfikir.
"Nanti aku fikirkan lagi," jawab suaminya sambil tersenyum, "Sayang, sudah siang. Ayo kita pulang! Tapi, sebelum pulang kita beli bubur kacang hijau dulu ya!" ajak Nathan.
"Oke, Ayo kita beli bubur kacang hijau!"
"Bang, Kami harus pulang. Lain kali kita bertemu lagi ya!" ucap Michelle.
"Apa-apaan sih? Memangnya siapa dia? pakai dipamiti segala," batin Nathan.
__ADS_1
to be continued ....