Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 76 : Ternyata Dewi


__ADS_3

Tubuh Michelle ditarik oleh dua pria berbadan besar. Michelle berusaha untuk menepis tangan itu dari lengannya. Namun karena cengkeraman tangannya yang kuat di lengan Michelle, membuat ia tidak berdaya.


Mereka menyuruh Michelle untuk masuk ke sebuah rumah kosong. Rumah yang terlihat berantakan, kotor dan sudah lama tidak berpenghuni.


"Masuk!" bentak pria satu, mendorong tubuh Michelle.


"Auw, Sakit. Kalian siapa? Kalian sudah menyakitiku!" marah Michelle.


Hahahaha ...


Mereka malah tertawa terbahak-bahak.


"Siapa kalian?" Michelle sedikit memundurkan tubuhnya. Kala dua pria bertubuh besar itu menyeringai lebar.


Prok ... Prok ... Prok


"Selamat datang!" ujar suara seorang perempuan bertepuk tangan. Keluar dari sebuah ruangan. Michelle merasa mengenali suara itu. Rasanya sangat tidak asing dipendengaran.


"Dewi!" Michelle sangat terkejut. Ternyata perempuan itu adalah Dewi.


"Hey, saudara sepupu!" sapanya.


"Dewi, Apa maksudmu?" seru Michelle, "Kenapa Kau membawaku ke tempat seperti ini?"


Hahahaha ...


"Tentu saja karena aku nggak suka kamu bahagia!" ucap Dewi.


"Dewi, kamu tega banget. Kita ini bersaudara! Kau lupa!"


"Michelle, Michelle! Aku nggak pernah tuh merasa kita bersaudara!" ucapnya, "Aku benci kamu, Michie. Kamu sudah merebut Nathan dariku! Kau sudah merebut semuanya!"


"Dewi, Sadar kamu! Kamu tuh sudah dikuasai dendam dan iri! Kamu sudah dikuasai setan!"


"Aku nggak perduli. Aku akan membuat kalian membayar setiap penderitaanku! Aku akan membuat kalian berdua merasakan sakit, seperti yang aku rasakan!"


"Dewi sadar kamu! Dengan berbuat jahat seperti ini, Kamu tidak akan bisa tenang dan bahagia! Bertaubatlah kamu, Wi!"


"Diam kamu!" betak Dewi, "Jangan sok menggurui. Aku tidak akan mendengar semua ceramah mu yang omong kosong!"


"Dewi, Sadarlah. Kita saudara! Orang tua kita, bersaudara!"


"Aku nggak perduli!"


"Dewi, Ingat jasa-jasa orang tuaku! Dia yang sudah membantu kedua orang tuamu! Aku mohon jangan lakukan ini, Aku sedang hamil besar, Wi!" mohon Michelle untuk dilepaskan.

__ADS_1


"Tutup pintunya! Aku akan membuat dia mati membusuk di tempat ini!" seru Dewi pada orang suruhannya.


"Dewi, Jangan tutup pintunya!" teriak Michelle, "Dewiiiiiii, buka!"


BRAKK .... BRAKK ....


"Astaghfirullah, Apa yang dia lakukan?" isak Michelle sambil mengusap-usap perutnya.


"Sabar, Sayang. Pasti Papamu akan datang ke sini. Dia akan menyelamatkan kita!"


Hiks ... Hiks ... Hiks


"Ya Allah, Selamatkan hamba dan anak hamba. Berikanlah Dewi hidayah - Mu. Dia sudah dipenuhi dengan rasa iri, dengki dan dendam. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan anak hamba, ya Allah!"


Hiks ... Hiks ... Hiks


°°°°°°


"Ibu tenang, Bu! Ceritakan kejadiannya?" tanya Nathan setelah Ibunya sadar dari pingsan.


Memang setelah mobil yang membawa Michelle pergi jauh, Bu Wulan pingsan. Orang yang menemukan Bu Wulan pingsan, dia langsung membantu Bu Wulan untuk duduk di emperan Supermarket. Orang itu juga yang menelfon Nathan untuk segera datang ke tempat kejadian.


Dari cafe, Nathan langsung menuju tempat kejadian. Dia menitipkan urusan cafe ke Mba Retno. Dengan kecepatan tinggi, Nathan melajukan mobilnya.


Bu Wulan masih tidak sadarkan diri saat Nathan datang. Dia pun membawa ibunya ke Rumah Sakit. Nathan takut terjadi sesuatu dengan sang Ibu. Karena syok, Ibunya tak kunjung sadar.


_____


_____


Bu Wulan tersenyum melihat putra dan suaminya berdiri di dekat tempat tidur, "Nathan, Ayah!"


"Syukurlah Ibu baik-baik saja!" senang Nathan dan Pak Bara.


"Michelle." Tiba-tiba Ibu teringat dengan Michelle yang dibawa kabur seseorang.


"Ada apa dengan Michelle?"


"Michelle dibawa dua orang pria tidak dikenal, Nath."


"Siapa?"


"Ibu nggak tahu. Kejadiannya begitu cepat! Ibu sudah berusaha menghalaunya. Tapi ibu malah didorong!" Bu Wulan pun menceritakan kronologis kejadiannya. Dari awal sampai Michelle dibawa kabur dua orang pria.


Hiks ... Hiks ... Hiks

__ADS_1


"Sudah, Bu. Tenang!" ucap Pak Bara.


"Siapa yang membawa Michelle?" geram Nathan, "Aku yakin, dia orang suruhan!"


"Kita lapor polisi, Nak!" saran Bara.


"Iya, Yah. Tentu kita akan melaporkan kejadian ini ke polisi. Kita harus mencarinya lebih dulu!"


"Kita akan mencarinya dimana?"


"Entahlah, Nathan juga tidak tahu!"


"Apa yang diinginkan penculik itu?"


"Nathan nggak tahu apa motifnya, Yah! Jika memang uang, pasti si penculik langsung menghubungi Nathan untuk meminta tebusan. Tapi sampai sekarang tidak ada telepon atau pesan yang masuk di HP Nathan!"


"Lalu?"


"Kita tunggu saja, Yah!"


"Kasihan istrimu! Dia sedang hamil besar! Dia pasti ketakutan, Nak!" ucap Ibu terisak.


"Kita berdoa ya, Bu. Semoga Allah melindungi Michelle dan bayinya!"


_____


_____


Hingga sore hari belum ada kabar apapun. Nathan semakin geram pada penculiknya. Dia tidak bisa hanya duduk dan menunggu kabar. Dia pun memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke polisi.


"Ya Allah, Semoga keputusan ku melaporkan ini kepada Polisi benar. Tolong permudah urusan hamba ya Robb!"


Setelah melaksanakan sholat ashar, Nathan langsung pergi ke kantor polisi. Hati Nathan tidak tenang. Gelisah. Pikirannya kalut. Istrinya sedang hamil besar, tentu saja dia begitu mengkhawatirkannya.


Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Michelle?


Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan bayinya?


Itulah yang selalu ada dipikirannya. Dia harus melaporkan kejadian ini pada polisi. Ini adalah suatu tindakan kriminal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Sore itu juga, Nathan langsung mendatangi kantor polisi.


To be continued ....


Ayo mana dukungannya????

__ADS_1


Siapa yang mendukung Nathan dan Michelle??


Bantu vote ya.....


__ADS_2