
Perut Michelle sudah semakin membesar. Nathan pun lebih over protective kepada istrinya. Dia tidak mau istrinya kelelahan atau pun terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hingga dirinya selalu mengingatkan supaya sang istri di rumah saja.
Sekarang Mba Retno diangkat menjadi manager Cafe. Dan tentunya Nathan mau tidak mau harus merekrut chef lagi untuk membantu di dapur. Pekerjaan Nathan sedikit ringan. Dia bisa memantau cafe dari pagi hingga sore hari, dan lebihnya Mba Retno yang mengurus.
Hari ini Nathan mengajak istrinya ke Rumah Sakit. Dia ingin tahu jenis kelamin anaknya. Sering dia dengar, usia tujuh bulan jenis kelaminnya bisa terlihat jelas. Dia pun sangat antusias ingin melakukan USG pada kandungan istrinya.
Mobil yang Nathan kendarai sudah sampai di parkiran Rumah Sakit. Dengan berhati-hati, Nathan menuntun istrinya keluar dari mobil. Hatinya berbunga-bunga, tidak sabar ingin cepat-cepat mengetahui hasil USG.
"Ayo, Sayang!"
"Bentar dong, Mas!"
Ih, nggak sabaran banget sih!
Michelle menggerutu disepanjang lorong Rumah Sakit. Mendengar istrinya menggerutu, Nathan menjadi makin gemas saja. Apalagi pipi istrinya yang semakin berisi. Semakin gembul. Rasanya sungguh menggemaskan.
"Ibu Michelle Laura Az-Zahra!" panggil suster.
"Saya, Suster!"
"Silahkan, Bu!"
Michelle masuk ke ruangan dokter kandungan. Diikuti oleh suaminya. Dia juga ingin tahu saat istrinya di USG.
"Ayo Ibu berbaring!" suruh Dokter.
"Iya, Dok!"
Suaminya berdiri di ujung tempat tidur. Sementara Dokter sedang melakukan USG pada perut Michelle yang sudah nampak sangat besar.
"Bapak, Ibu! Ini lihat!" Dokter menunjuk gambar kecil, panjang seperti batang korek api, "Bisa dilihat ya! Ini yang panjang seperti batang korek api adalah alat kelaminnya! Dan ini sangat jelas jenis kelamin baby-nya ya, Pak, Bu! Anak Bapak dan Ibu laki-laki!"
"Benarkah, Dok? Jadi anak saya laki-laki!" senang Nathan.
"Anak kita laki-laki, Sayang!" ujarnya bersemangat.
"Iya, Mas!" Michelle juga ikut senang.
"Tuh lihat, Baby-nya aktif banget!" tunjuk Dokter ke layar monitor.
Mereka tergelak. Memang sih gerakannya sangat aktif. Perut Michelle terus berkedut. Bahkan semakin aktif jika disentuh.
"Tuh kan, Baby-nya aktif banget!" ujar Dokter lagi.
"Kalau aktif, Apakah sehat, Dok?"
__ADS_1
"Tentu saja. Baby-nya sangat sehat! Apakah vitamin sama obatnya masih?"
"Obatnya masih, Dok! Tapi Vitaminnya sudah habis!"
"Oh, kalau begitu saya tuliskan resep lagi ya, Bu!"
"Iya, Dokter!"
____
____
"Ini resepnya! Jangan lupa minum vitaminnya, rutin ya, Bu!"
"Iya, Dok!"
"Dua bulan lagi, Ibu kan mau melahirkan. Perbanyak minum air putih hangat ya, Bu! Air putih sangat bagus untuk pembentukan air ketuban, Bu!"
"Baik, Dok!"
"Bisa langsung ditebus obatnya di apotek!"
"Terimakasih banyak, Dok!"
Mereka duduk di kursi mengantri obat. Syukurlah tidak terlalu lama mereka menunggu, dari apotek mereka langsung pulang.
Gerak-gerik mereka sedang diperhatikan seseorang dari jauh. Namun pasangan suami istri yang sedang dipenuhi kebahagiaan tidak menyadarinya. Orang tersebut sangat tidak suka melihat kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh pasangan tersebut. Dia memukul kemudi mobil karena kesal dan marah.
Mobil Nathan melaju dengan kecepatan sedang. Dia harus berhati-hati mengemudikan kendaraannya. Karena dia sedang membawa istri dan juga calon anaknya.
Nathan tidak berbelok ke arah kanan, melainkan berbelok ke kiri. Michelle jadi bingung. Karena jalan yang mereka lewati bukan ke arah rumah mertuanya.
"Kita mau kemana, Mas?"
"Aku ada kejutan buat mu!"
"Kejutan? Kejutan apa sih?"
"Kejutan yang membuat keluarga kita semakin bahagia!" ujar suaminya.
"Mas jangan menggodaku deh! Kebiasaan!" Michelle mencubit kecil pinggang sang suami.
"Auw, Sakit, Sayang!" Nathan mengaduh kesakitan.
"Habisnya Mas nggak mau memberitahu ku! Kejutan apa sih?"
__ADS_1
"Sebentar dong!"
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang baru satu per empat baru jadi. Masih mentah sih, tapi, sudah membentuk rumah. Batanya sudah tersusun setengah. Nathan mengajak istrinya turun dari mobil.
"Ini rumah siapa?"
"Rumah kita lah!" ujarnya.
"Rumah kita," Michelle bingung.
"Ayo turun!"
Michelle pun turun, mengikuti langkah suaminya.
"Ini adalah rumah impian kita!" serunya.
"A-pa?" Michelle masih bingung.
"Bukankah Kamu ingin rumah dengan konsep sendiri! Aku memenuhi keinginan mu, Sayang!" ujarnya.
"Kok kamu tahu kalau aku punya konsep sendiri untuk rumah impian kita?"
"Iya, tahulah!" kekehnya.
"Ih, Mas bikin aku terharu deh!" manjanya. Michelle menggelayut manja di tangan suaminya.
"Aku sengaja membuat rumah persis dengan konsep yang kamu inginkan. Memiliki kamar banyak dengan kamar mandi di masing-masing kamarnya. Ada terasnya. Dan ada temannya. Dan aku ingin di taman ini ada mainan untuk anak-anak kita kelak. Bagaimana?"
"Ah, aku seneng banget deh! Makasih ya Mas!"
"Kamu suka?"
"Suka banget, Mas!"
"Bagus deh kalau kamu suka!" Nathan menoel hidung istrinya.
"Sudah, sore. Ayo kita pulang, Mas!"
"Iya, juga. Ayo kita pulang! Mau Maghrib juga!"
Bersambung ..
☄️☄️☄️☄️☄️
Hey-hey, terimakasih atas dukungannya. Jangan lupa kasih Like, komentar, rate bintang dan gift untuk karya ini.. 😘😘
__ADS_1