
"Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini."
"Kekecewaan sebenarnya hanya sebutan bagi penolakan kita untuk melihat sisi baiknya."
"Terkadang kita menciptakan sendiri rasa sakit hati melalui ekspektasi.""Harapan adalah akar dari semua rasa sakit di hati." - William Shakespeare
🍁🍁🍁🍁🍁
Nathan melangkahkan kakinya keluar Rumah Sakit. Kakinya bergetar hebat setelah mengetahui hasil Rumah Sakit mengatakan dirinya terjangkit penyakit Sifilis.
Dengan tergesa dia melangkahkan kakinya menuju Apartemen Dewi. Hatinya bergemuruh, pikirannya sedang tidak sinkron. Rasa marah, kesal dan jengkel melebur menjadi satu.
Dengan kecepatan penuh, Nathan melajukan kendaraannya menuju Apartemen Dewi. Sampai di depan Apartemen, Nathan mempercepat jalannya, memasuki lift dan berhenti di depan kamar Dewi.
Tok ... Tok ... Tok
Beberapa kali mengetuk pintu, Dewi baru membukanya.
"Nathan?" kagetnya. Nathan tidak kalah terkejutnya dengan Dewi. Wanita yang biasanya cantik dan menarik, wajahnya sangat pucat, dengan lingkaran mata yang menghitam.
__ADS_1
"Kamu sakit, Wi?" tanya Nathan.
"Nggak," elaknya.
"Kenapa wajah kamu sangat pucat?" tanya Nathan.
"Masa sih?" Dewi meraba wajahnya. Nathan terkesiap, dia baru teringat dengan tujuan utamanya.
"Dewi, katakan sejujurnya! Apa kamu sakit?" ketus Nathan.
"Kamu ini datang-datang malah bertanya aku sakit? Maksud kamu apa sih?" kesal Dewi. Nathan memberikan surat kesehatan dari Rumah Sakit.
"Ini, Bacalah!" perintah Nathan kepada Dewi. Dewi nampak sedang membaca surat tersebut, dia nampak serius membaca perkalimatnya. Meskipun tidak begitu paham, tapi, disitu dengan jelas mengatakan bahwa Nathan mengidap penyakit sifilis. Dewi nampak terperangah, dia tidak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Apa maksudmu, Nathan? Kau bicara apa sih? Aku nggak ngerti!" ucapnya.
"Sudahlah, Dewi. Jangan mengelak lagi!" marah Nathan, "Berapa pria yang sudah tidur denganmu?" tanya Nathan sambil mencekram lengan Dewi.
"Auw, sakit Nathan. Kau menyakitiku!" pekiknya, mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Katakan padaku?" bentaknya.
"Bukan urusanmu! Sekarang pergi dari sini! Tinggalkan aku sendiri!" isaknya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya dengan jujur!" ucap Nathan.
"Aku tidak pernah merasa kalau diriku memiliki penyakit. Jadi, jangan pernah menuduhku sembarangan! Pergi dari sini! Jika tidak, Aku akan memanggil security!" ancamnya. Dewi mendorong tubuh Nathan supaya keluar dari Apartemennya.
"Dewi!" panggil Nathan menggedor pintu Apartemen Dewi.
"Pergi kamu, Nathan. Biarkan aku sendiri!" teriaknya dari dalam Apartemen.
Suara gedoran pintu dan teriakkan mereka membuat orang yang tinggal di kamar lain menjadi merasa terganggu. Satu persatu keluar dari kamarnya, membuat Nathan merasa tidak enak. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang.
Satu Minggu Berlalu
Nathan merasakan seluruh tubuhnya terasa nyeri, lemas dan sedikit demam. Dia mengambil kotak P3K, mencari obat demam. Dan meminumnya. Istirahat sebentar saja, demamnya agak menurun.
Badannya terasa sangat gerah dan lengket. Dia memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Selesai mandi, dia berdiri di depan cermin. Ia merasa aneh dengan tubuhnya. Entah sejak kapan banyak sekali ruam-ruam merah menempel di tubuhnya. Namun terkadang ruam itu hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan. Dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Ia menganggap penyakitnya tidak terlalu berbahaya.
__ADS_1
Lama berdiam diri di rumah membuatnya sangat bosan. Nathan memutuskan untuk pergi ke luar. Memang dia sudah mengirimkan surat izin untuk tidak masuk ke kantor.
to be continued ...