
Mobil Nathan sampai dihalaman rumah Abah. Dia turun dari mobil, dan disambut hangat oleh Abah.
"Assalamualaikum, Bah!" Nathan menyalami punggung tangan pria tua itu.
"Walaikumsalam," jawab Abah menepuk pundak menantunya.
"Silahkan duduk!"
"Terimakasih, Bah,"
"Bi Ijah!" panggil Abah.
"Iya, Tuan. Naon?" maniknya menoleh ke arah tamu, "Eh, Mas Nathan. Lama nggak kesini?"
"Iya, nih, Bi," jawab Nathan.
"Wah, Neng geulis nya malah pergi sama Nyonya ke pasar," ucap Bi Ijah.
"Michelle ke pasar?" gumam Nathan.
"Iya, Mas," sahut Bi Ijah.
"Bi, Buatkan minuman!" suruh Abah kepada Bi Ijah.
"Baik, Tuan," ujar Bi Ijah. Kemudian Bi Ijah masuk ke dalam, dan keluar sudah membawa baki berisi minuman dan cemilan.
"Silahkan, Mas Nathan!"
"Terimakasih, Bi," jawab Nathan. Bi Ijah kembali mengerjakan pekerjaannya di dapur.
"Bagaimana kabar orangtuamu?" tanya Abah.
"Alhamdulillah sehat, Bah," jawab Nathan.
"Bagus kalau begitu,"
"Oya, Bah. Nathan datang ke sini ingin menunjukkan ini!" Nathan menyerahkan amplop coklat dari RS yang dulu pernah merawatnya.
"Apa ini?"
"Itu adalah satu-satunya bukti yang Nathan punya. Dan membuktikan bahwa Nathan bukanlah penular penyakit itu. Melainkan Nathan tertular, Bah," terang Nathan.
Abah membuka amplop itu dan membaca surat di dalamnya dengan seksama. Di surat tersebut jelas menyatakan bahwa menantunya terjangkit virus Sifilis, dan dinyatakan sembuh total oleh RS. Dan terbukti bahwa Nathan hanya tertular, bukan menularkan.
"Jadi Dewi yang menularkan?"
"Saya rasa begitu, Bah. Maaf Nathan bukannya menuduh, Bah. Tapi kenyataannya begitu!" jelas Nathan, "Jadi, Nathan mohon, Bah. Jangan pisahkan Nathan sama Michelle!"
Abah nampak menghela nafasnya panjang. Kemudian menatap manik hitam itu. Sebagai orang tua, jelas dia tidak tega. Tapi, dia harus menepis perasaan itu jauh-jauh.
"Maafkan Abah, Nathan. Abah tidak bisa!" ujarnya, "Bagaimanapun sikap kamu sudah mengecewakan Abah. Sebagai orang tua, Abah harus melakukan tindakan yang seharusnya," jelas Abah.
"Maksud Abah?"
"Nathan, coba kamu berada diposisi Abah. Posisi Abah sangat sulit, Nathan. Di lain sisi, ada keponakan Abah. Dan disisi lain kamu sebagai suami Michelle. Tapi, perselingkuhan itu tidak dibenarkan, Nathan. Kamu sudah terlalu menyakiti Michelle!" tutur Abah. Abah mengambil sebuah vas bunga yang bahannya dari kaca. Kemudian dia jatuhkan ke lantai. Bunyi vas bunga yang pecah, membuat Nathan terkejut.
"Pecahan vas itu, coba kamu satukan kembali! Apakah bisa?" suruh Abah. Nathan menggelengkan kepalanya.
"Sebuah barang yang pecah, jika disatukan tidak akan bisa kembali lagi. Jika pun bisa disatukan kembali dengan lem termahal di dunia, hasilnya tidak akan seperti semula. Seperti rumah tangga kalian bukan?" ujar Abah.
"Apakah Kau tidak merasa kasihan dengan istrimu? Bagaimana kalau kita balik kejadian ini? Michie yang berselingkuh. Apakah kau akan memaafkannya?" tanya Abah. Nathan hanya menunduk malu.
"Michie wanita yang berhati lembut dan baik. Sebesar kesalahan apapun, pasti dia akan memaafkan. Tapi, Abah sebagai orang tua, Abah tidak rela jika anak Abah disakiti!" terang Abah, "Michie tidak pernah bercerita apapun kepada keluarga. Semua masalah, dia hadapi sendiri. Dia anak Abah yang berbeda. Berbeda dengan kakak dan adiknya,"
__ADS_1
"Dia juga berhak hidup bahagia, Bukan? Mendapatkan laki-laki yang baik, yang Soleh dan tentunya bisa menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangan," tutur Abah panjang lebar.
"Lalu, Apa yang harus Nathan lakukan, Bah?" tanya Nathan, justru balik bertanya.
"Huft." Abah menghela nafasnya panjang.
"Ini juga salah satu kesalahan Abah. Dulu, Abah lah yang sudah menjodohkan kalian. Abah juga merasa bersalah, Nath," ujar Abah, "Sebelum kalian ada momongan, Abah minta ceraikan dia!"
"A-pa?" kaget Nathan.
to be continued ...
Ayo baca cerita Author yang lain, yang tidak kalah seru dan sudah tamat.
Judul : OM I LOVE YOU
Bab 14:
"Biarkan putraku yang menggantikan!" ucap Oma tiba-tiba, membuat yang mendengarnya kaget bukan kepalang.
"Di surat itu,Yuda bilang! dia tidak sempat menyentuh mahkota putrimu kan?"
"Jadi aku yakin! Yuda tidak menyentuhnya!"
"Kenapa Anda bisa percaya dengan perkataan, ba*******n itu?" tanya papa.
"Aku tidak yakin! tapi aku yakin putri mu tidak akan berbohong!"
"Tanyakan padanya? Apakah Yuda melakukannya atau tidak!"
"Bila jawabannya tidak! Aku akan menyuruh putraku Alan untuk menikahinya!" tegas Oma Sarah.
"Baiklah, Aku akan bertanya!" Roger dan istrinya segera menemui Zee, dan bertanya langsung kepada Zee.
Alan mengerti, kenapa mama sampai melakukan hal itu.
Dia sudah cukup mendengar lontaran kata-kata kasar yang di tujukan pada keluarganya.
"Mama, percayakan kepada ku!"
"Mama tenanglah!" Alan menggenggam lembut tangan wanita berkeriput itu.
"Zee?" panggil papa.
Papa menjelaskan masalah surat itu , Zee nampak terpukul dan sedih.
"Sekarang papa tanya! Apakah Yuda sempat melakukan hubungan itu kepada mu?" papa menatap tajam, meminta kepastian kepada Zee.
"Sumpah demi Allah, Pah!"
"Meskipun bibir dan tubuh Zee tidak suci, tapi mahkota Zee masih utuh! Zee masih menjaga mahkota Zee dengan baik!" papa memeluk putri nya dengan sayang, papa mencium kening Zee dengan deraian air mata.
"Untuk menyelamatkan pernikahan ini, menikahlah dengan Om nya Yuda!" ucap papa.
JEDERRR
Zee sangat tidak percaya ,papa menyuruh Zee menikahi om-om.
Hatinya sangat terpukul, apakah untuk menyelamatkan kehormatan keluarga, Zee harus menikah dengan Om-om.
"Pa, Zee tidak mau menikah dengan om-om?" rengek Zee.
"Papa terpaksa, Nak?"
__ADS_1
"Hiks.... hiks.... hiks!" tangis papa.
"Papa sudah tua!"
"Papa ingin melihatmu bahagia!" Zee benar-benar tidak tega melihat papa yang sangat di sayangi nya harus menangis dan bersedih memikirkan nasib dirinya.
"Baiklah, Pa! Zee bersedia!"
"Semoga Zee bisa menjalani pernikahan tanpa cinta ini!" sedih Zee.
"Apakah om itu bersedia menikah dengan Zee?" tanya Zee tiba-tiba.
"Merekalah yang merencanakan ini semua!" jawab papa.
"Baiklah, Pa!" jawab Zee.
Zee keluar dari ruangan make up, berjalan beriringan dengan sang papa. Zee terlihat sangat cantik dan mempesona, mata laki-laki yang memandang pasti akan langsung bertekuk lutut padanya, termasuk Alan sendiri.
Semua tamu undangan yang melihat, sangat terkagum-kagum dengan kecantikan pengantin wanita. Tidak berhenti mereka memuji dan menghibah.
Termasuk Oma Sarah, dia merasa terkejut dengan calon mempelai wanita, karena dia sepertinya mengenal wanita tersebut.
Alan yang langsung berganti baju, menggunakan baju pengantin yang sebelumnya akan dipakai oleh Yuda, duduk persis di depan penghulu.
Zee duduk di sebelah mempelai pria, tanpa menoleh seperti apa rupa mempelai pria.
"Kalian siap?" pak penghulu bertanya kepada kedua calon mempelai.
"Siap!" jawabnya.
Zee nampak diam saja, banyak berjuta pertanyaan di dalam benaknya. Papa menyenggol lengan Zee, dan berbisik kepada Zee.
"Jawab pertanyaan pak penghulu!" bisik papa.
"Siap!" jawab Zee malas.
Pak penghulu menjabat tangan Alan, dan membacakan janji suci pernikahan.
"Saya terima nikahnya, Zevanya Putri Sabila binti Roger Aghar dengan mas kawin emas seberat 500 gram dan peralatan sholat di bayar tunai !" Alan mengucapkan ijab qobul dengan suara yang lantang dan mantap.
"SAH!!!"
"SAH!!!" semua bertepuk tangan meriah, merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh kedua keluarga.
Alan menyematkan cincin pernikahan, di jari manis Zee. Cincin yang di berikan mama sebelum acara dimulai, Alan tidak sempat membeli cincin, karena dia tidak tahu kalau hari ini menjadi hari pernikahannya.
Alan bersyukur, karena cincin pemberian mama pas di jari Zee.
Masih menundukkan pandangan matanya, Zee mencium tangan suaminya dengan takzim. Tanda bakti pertama istri kepada suaminya.
Selesai acara ijab qobul, mereka duduk di kursi pengantin. Semua orang memberikan selamat kepada kedua pengantin. Terakhir pengantin sungkem kepada kedua orang tua masing-masing.
Pertama sungkem kepada orang tua mempelai wanita, Alan dan Zee mencium punggung tangan papa dan mama. Mama sangat terharu, karena anak gadisnya sekarang di miliki seseorang. Mama mencium Zee dengan sayang.
"Jangan menangis di hari bahagia ini!"
"Mama selalu mendoakan kau akan lebih bahagia dengan Alan!" do'a mama.
"Makasih, Ma!" jawab Zee.
Alan juga mencium punggung tangan mertuanya, meskipun tadi Alan sempat tidak suka dengan sikap papa Zee, namun dia mengerti kalau papa Zee berbuat demikian karena sangat menyayangi putrinya.
Bergantian mereka melakukan sungkeman kepada orang tua mempelai pria. Mama Alan memeluk Zee dengan sayang .
__ADS_1
"Masih ingat,Tante?" Zee nampak berpikir.