Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 56 : Enam Karyawan Baru


__ADS_3

Michelle menyuruh Uminya untuk menghubungi sang suami mengenai kabar gembira ini. Saking bahagianya, dia tidak menyadari bahwa Abah sudah berdiri di dekat sang anak yang hendak mendial nomor Nathan.


"Nathan tidak perlu tahu kalau Kau hamil," ucap Abah seraya merebut ponsel milik Michelle.


"A-bah," kaget Michelle.


"Perceraianmu akan terus berlanjut hingga anak itu lahir!" ucap Abah.


"Tega sekali Abah mengatakan itu kepada Michie,"


"Abah bukannya tega, Michie. Abah hanya mau kau bahagia. Sudah jelas, dia bukanlah laki-laki baik yang bisa Kau pertahankan,"


"Tapi, Bah. Bagaimana pun, Michie sedang mengandung anaknya. Abah sangat berdosa, jika Abah memisahkan seorang istri dari suaminya, dan memisahkan anak dari ayahnya!"


"Michie. Sudah berapa kali Abah katakan! Kau tidak bisa bersamanya lagi. Setelah apa yang dia lakukan kepada Dewi. Dewi adalah saudaramu sendiri, Nak. Dia anak dari pakde mu. Dan Pakde Kartono akan sangat marah jika sampai tahu, Kau tidak mau bercerai dengan suamimu!"


"Bah, Kenapa Abah selalu mendengarkan kata-kata Pakde? Sekali saja, Abah mendengarkan kata-kata anak Abah," isak Michelle.


"Maafkan Abah, Michelle. Abah tidak bisa memenuhi keinginan mu. Pokoknya, setelah Kau melahirkan kau akan tetap meneruskan perceraian itu!" ucap Abah sambil berlalu keluar dari ruangan putrinya.


"A-bah!" tangis Michie pecah.


"Michie!" iba Umi.


"Sudah, Nak. Percuma saja berbicara dengan Abahmu. Tenangkan dirimu. Kita cari cara lain untuk melunakkan hati Abahmu!"


"Umi, Bagaimana ini? Kenapa Abah tega melakukan itu kepada Michie? Apa anak Michie akan terlahir tanpa adanya ayah di sisinya?"


"Sabar, Nak. Sabar! Serahkan kepada Allah. Kita berdoa bersama ya, agar Allah membuka hati Abah," isak Umi. Dia juga merasa sangat iba melihat nasib anak-anaknya.


Tiga hari di Rumah Sakit, akhirnya Michele diperbolehkan Dokter untuk pulang. Sekembalinya Michelle dari Rumah Sakit, dia nampak melamun dan murung. Dia hanya berdiam diri di kamar.


"Sabar, Nak. Aku akan membuat Kakekmu luluh hatinya," monolog Michie seraya mengelus perutnya yang masih rata.


"Bagaimana caranya aku memberi kabar bahagia ini kepada suamiku? Dia berhak tahu! Ponselku ada pada Abah!" gumamnya.


"Nak, Makanlah dulu!" suruh Umi membawa nampan berisi makanan, minuman dan vitamin.


"Terimakasih, Umi. Michelle jadi merepotkan Umi!"


"Kau bicara apa sih? Tentu saja tidak merepotkan! Umi senang kok melakukannya,"


"Umi, bantu Michelle!"


"Bantu apa, Sayang?"


"Bantu Michelle memberitahukan kabar bahagia ini kepada Mas Nathan,"


"Ehm, HP Umi ada di kamar! Biar Umi ambil dulu!"

__ADS_1


"Iya, Umi,"


Dengan perlahan Umi memasuki kamar, dan secara diam-diam mengambil ponselnya. Dia kembali ke kamar Michelle, dan menyerahkan ponselnya kepada Michelle.


"Pakai saja HP Umi untuk menghubungi suami kamu!"


"Terimakasih, Umi," senang Michelle.


Dengan ponsel Uminya, Michelle berusaha untuk mendial nomor sang suami. Namun tidak aktif. Hanya suara operator telepon yang berbicara.


"Bagaimana?"


"Nggak aktif, Umi,"


"Iya, sudah. Mungkin HP Nathan sedang di charge!"


"Mungkin nanti saja, Umi,"


"Iya, Nak. Sekarang, kamu makan! Di dalam perut kamu ada baby yang butuh nutrisi dan vitamin. Jadi kamu harus banyak makan!"


"Iya, Umi,"


Ditempat lain, Nathan sedang sibuk menawarkan rumahnya kepada pembeli. Hari ini rumahnya dilihat oleh pembeli. Sepertinya pasangan suami istri itu sangat menyukai dan cocok dengan harganya. Nathan yang memang pandai menawarkan, menjadi nilai plus tersendiri.


"Untung aku mantan manager pemasaran!" sombongnya sambil menyunggingkan senyum.


Karena pasangan suami istri itu cocok dengan rumah dan harganya, mereka pun langsung setuju untuk membeli rumah tersebut. Nathan sangat bersyukur, karena jalannya sudah dipermudah oleh Allah.


"Sebagian akan aku simpan sebagai harta gono-gini. Dan sisanya untuk tambahan modal. Dan tanah dari ayah, sementara akan aku biarkan saja!" gumamnya di dalam mobil.


Selesai bertemu dengan pembeli rumah, Nathan kembali ke Cafe. Ternyata di depan cafe sudah ada Bang Adnan dan enam orang pria menunggu di depan Cafe.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam,"


"Lama, Bang?"


"Nggak juga, Kok!" ucap Bang Adnan menjabat tangan Nathan, "Ini aku bawa 6 orang santri yang ingin bekerja denganmu!"


"Alhamdulillah,"


"Mari masuk, Bang!" Nathan membuka Cafe dan mempersilahkan Adnan dan enam santri itu duduk.


"Apakah Kalian sendiri yang ingin bekerja untukku? Bukan atas paksaan kan?" canda Nathan.


"Iya. Mereka sendiri kok yang bersedia. Aku tidak memaksanya!" gelak Adnan.


"Bercanda, Bang!" kekeh Nathan.

__ADS_1


"Perkenalkan nama kalian satu persatu!" suruh Adnan.


"Perkenalkan, Pak. Nama saya Udin!"


"Kalau saya Sayful,"


"Saya Adam, Pak,"


"Saya Romy,"


"Saya Abdul, Pak Nathan,"


"Kalau saya Roji, Pak,"


"Senang bisa berkenalan dengan kalian semua. Kalian pasti mengenal saya dengan baik kan? Tapi, Saya akan memperkenalkan diri kembali. Ada pepatah bilang, kalau tak kenal maka tak sayang!" ucap Nathan tergelak. Mereka pun terkekeh, "Nama Saya Nathan. Perlu diingat, saya bukan Bapak kalian, jadi panggil saya Bang saja!" ucapnya. Mereka tergelak lagi. Ternyata Nathan orang yang hangat dan bersahabat. Dia langsung akrab dengan para santri ustadz Adnan. Nathan juga tipe orang yang mudah berbaur dengan orang-orang yang menurutnya baik.


"Jadi disini saya tegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara atasan dan bawahan. Semuanya sama, satu keluarga, satu misi dan satu Visi yaitu ingin mencari ladang rezeki di jalan Allah. Dan tentunya yang halal. Cafe ini terbuka untuk semua khalayak ramai. Buka pukul 9 sampai 9 malam. Jadi, kalian harus strong dan jaga kesehatan kalian semua. Ada waktu istirahat dan untuk sholat. Jadi kalian bisa pergunakan dengan sebaik-baiknya!"


"Apakah ada pertanyaan?"


"Bolehkah saya tahu, saya dibayar berapa, Bang?" tanya Udin.


"Wah, pertanyaan ini yang saya tunggu!" ucap Nathan tersenyum lebar.


"Sebentar, saya ambil surat perjanjian kerjanya!" Nathan memasuki ruangan berukuran 9x9 meter. Kemudian membawa lembaran-lembaran kertas berisi tulisan. Dia menyerahkan kepada calon anak buahnya untuk dibaca poin-poinnya dengan seksama.


"Itu adalah perjanjian tertulis. Bisa kalian lihat disana, lembaran kertas khusus gaji karyawan beserta bonus-bonusnya. Apalagi kalau bekerja keras membangun Cafe ini hingga sukses, maka akan ada bonus sendiri untuk kalian! Kalian sebelumnya sudah dijelaskan oleh Pak Ustadz kan? Cafe ini baru dibuka! Jadi, Marilah kita bersama-sama membangun Cafe ini menjadi sukses!"


"Wah, asyik nih. Saya bersedia, Pak!"


"Saya juga," senang Romy.


"Kalau kalian bersedia, silahkan tanda tangani! Itu hanya untuk formalitas saja!"


Adnan cukup tersanjung dengan kepemimpinan Nathan. Tegas dan lugas. Bahkan mereka semua menerimanya dengan senang hati.


"Aku suka dengan cara kepemimpinan mu! Terbuka dan transparan. Semoga kedepannya lancar, sukses dan menjadi ladang rezeki bagi semuanya!"


"Amin,"


Setelah kepulangan Bang Adnan dan enam santrinya, barulah Nathan teringat dengan ponselnya. Dia lihat ponselnya mati.


"Pantas saja dari tadi ponselku tidak berbunyi, ternyata mati!" gumam Nathan sendiri, "Ah, aku lupa tidak bawa charger!"


to be continued ...


Ayo sayang, bantu Author like, komentar, vote, bunga dan kopinya....


__ADS_1


Tabur bunga dan kopinya...🥰🥰


__ADS_2