
"Vano lapar, Bu!" rengeknya.
"Iya, sabar ya, Sayang!"
"Kamu lapar!" Nathan menoleh ke kanan dan kiri, dia mencari tempat makan terdekat di sana.
"Indah, ini anak kamu?" Indah mengangguk lagi, "Sepertinya lapar! Ayo kita makan di sana!" tunjuk Nathan ke sebuah warung makan terdekat. Karena di sana hanya ada warung makan, berjalan ke arah Restaurant yang agak jauh, Nathan tidak tega. Dia pun mengajak Indah dan kedua anaknya makan di Warung terdekat.
Nathan membelikan mereka tiga porsi nasi ayam bakar, cumi tepung, sup ayam, dan tiga es teh.
"Makanlah!" suruh Nathan.
Mereka makan dengan sangat lahap. Begitu juga Indah. Indah memakan makanannya dengan lahap, sesekali Ia menyuapi anaknya. Baru dirinya. Nathan tersenyum melihatnya. Melihat Nathan tersenyum, Indah merasa canggung dan tidak enak.
"Bagaimana kabar kamu, Ndah?" tanya Nathan prihatin. Melihat wanita yang dulu pernah Ia kejar-kejar, sekarang berpakaian lusuh, Kumal dan tubuhnya sangat kurus.
"Alhamdulillah baik, Nath!" lirihnya.
"Sekarang kamu jualan, Ndah? Bukankah suami kamu bekerja?" tanya Nathan penasaran.
Degh ...
Indah menundukkan kepalanya. Dia bingung harus menjawab apa. Dia malu harus bercerita dengan Nathan. Pasalnya dulu Nathan pernah mengejar-ngejarnya. Namun Indah lebih memilih Kevin, anak dari pengusaha yang cukup kaya.
"Dia sudah tidak perduli dengan kami. Dia mencampakkanku dan anak kami!" jelas Indah.
"Astaghfirullah. Jadi kalian sudah bercerai?"
"Nggak, Nath. Kami belum bercerai! Tapi dia memang sengaja ingin menyiksa batin ku!" isaknya.
"Kenapa begitu? Dia kan seorang kepala rumah tangga, kenapa dia menelantarkan kalian?"
Hiks ... Hiks ... Hiks
__ADS_1
Indah menangis pilu. Dia juga tidak menyangka kalau hidupnya bakal seperti ini. Dia pikir dengan menikahi Kevin, dia akan menjadi Nyonya Kevin. Anak dari seorang pengusaha terkenal. Nyatanya sekarang hidupnya begitu memprihatinkan.
"Ada apa, Ndah? Cerita saja!" desak Nathan.
"Kevin!" Indah tidak sanggup menceritakan masalah rumah tangganya. Dia terlalu sakit dan terluka.
"Cerita saja? Mungkin dengan kamu bercerita, beban mu sedikit berkurang!"
"Dia dan kedua orang tuanya sering menyiksa ku! Bukan hanya fisik, tapi mereka juga menyiksa batinku, Nath!"
"Astaghfirullah! Teganya dia! Lalu keluarga kamu?"
"Mereka sudah mengusir ku. Karena aku tidak menurut pada mereka. Mereka tidak menginginkan ku!" isaknya lagi.
"Tapi tidak mungkin ada orang tua tega, Ndah! Apalagi melihat keadaan mu yang sekarang!"
"Aku takut, Nath!"
"Apakah kamu masih tinggal satu atap dengan suami kamu?"
"Ya Allah, tega sekali dia! Yang sabar ya, Ndah! Aku yakin ini hanya ujian! Kamu harus kuat demi anak-anak!" tutur Nathan.
"Iya, Selama ini Aku juga berusaha kuat untuk anak-anak! Aku berjualan seperti ini juga demi anak-anak! Aku memang harus kuat!" isaknya lagi.
"Apakah mertua kamu nggak mengatakan apa-apa perihal kelakuan anaknya? Atau setidaknya membantu kamu dalam hal finansial!" Indah menggelengkan kepalanya.
"Astaghfirullah, tega sekali mereka, Ndah!"
"Terimakasih, Nath! Sebenarnya aku malu harus bercerita seperti ini sama kamu! Aku sungguh malu!"
"Sudahlah, Ndah! Nggak apa-apa. Kita kan teman, dan sesama manusia juga harus saling membantu kan?" ucap Nathan.
Saat akan berpisah, Nathan memberikan uang kepada Indah. Dia tidak tega melihat Indah yang sekarang. Sebagai manusia, hati nuraninya terketuk untuk membantunya. Apalagi Indah yang sekarang Ia lihat, jauh berbeda dengan Indah saat kuliah dulu. Nathan yakin, bukan tekanan fisiknya saja yang terganggu, tekanan dari dalam pun sepertinya dia dapatkan.
__ADS_1
Nathan melajukan mobilnya menuju rumah. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan jagoan kecilnya. Dia pun bergegas melajukan kendaraannya.
Sampai di rumah, kedua orang yang sangat Ia cintai sudah menunggunya di teras rumah. Agam begitu senang melihat ayahnya datang.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam," jawab Michelle mencium punggung tangan suaminya.
"Anak ayah, Nih lihat ayah beli apa?" Nathan memberikan mainan yang dibeli tadi ke Agam. Agam begitu senang, karena mainannya bisa bergerak dan memiliki lampu kelap-kelip. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi bocah itu.
"Kok baru pulang, Mas? Kata Mita, sudah keluar dari Cafe dari tadi!" ucap istrinya.
"Iya, Sayang! Saat membeli mainan, aku bertemu teman kuliah! Anaknya kelaparan. Aku nggak tega. Dan aku mengajak mereka makan di warung makan terdekat!"
"Apakah seorang perempuan?"
"Iya, Sayang!"
Michelle menatap tajam ke arah suaminya. Dia mencari kejujuran dari ucapan sang suami.
"Beneran. Aku nggak bohong. Nanti lain kali, aku akan mengajakmu bertemu dengannya!" ucap Nathan.
"Iya, Aku percaya!" jawab Michelle tersenyum.
"Mandi dulu, Mas! Aku buatkan kopi!"
Michelle meletakkan Agam di box bayi. Bocah itu sangat anteng, apalagi setelah menerima mainan barunya. Dia sangat senang dengan mainan itu.
Nathan keluar dari kamar mandi, dia memakai pakaiannya yang sudah disiapkan sang istri di atas tempat tidur. Kemudian mendekat ke arah box bayi, tempat putranya sedang bermain sendiri.
"Hey, Hey, jagoan kecil ayah! Ayah kangen banget nih!" ucapnya sambil membopong tubuh Agam.
"Minum dulu kopinya, Mas!" Michelle meletakkan satu cangkir kopi instan di atas meja.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang!" jawab suaminya tersenyum.
To be continued ....