
Tepat di jam makan siang, Nathan langsung pergi ke cafe satunya. Ia ada sedikit urusan dengan Cafe yang satunya, yang sekarang ini diurus oleh Mba Retno sebagai wakilnya.
Nathan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Saat mengemudikan mobil, ponselnya terus bergetar. Terpaksa dia harus menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Nathan membuka notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya. Ternyata pesan dari sang istri, meminta dirinya jangan telat makan dan sholat. Senyum lebar tersungging di bibir pria tampan itu. Bagaimana tidak? Istrinya berhasil mengalihkan dunianya.
Ia yang dulu jarang melaksanakan sholat lima waktu, kini berkat ceramah-ceramah istrinya, Ia lebih taat menjalankan kewajibannya kepada sang Khalik.
Akhirnya, mobil yang Ia tumpangi sampai di parkiran Cafe. Cafe yang berdiri setelah Cafe pertama laris, diberi nama dengan nama yang sama, 'Fajrin Cafe 2'.'
Semua karyawan menyambut kedatangan pemilik Cafe dengan ramah. Begitu juga dengan Nathan, Ia membalas keramahan para karyawannya dengan senyuman manisnya.
Seorang wanita yang berdiri di belakang mesin kasir terpana melihat Nathan yang begitu dihormati oleh karyawan lain. Dan konyolnya, dia baru mengetahui bahwa pemilik Cafe tempat Ia bekerja adalah milik Nathan.
Wanita itu adalah Indah. Baru satu hari yang lalu dia diterima kerja disini. Dan sekarang dia mendapatkan kejutan yang membuatnya benar-benar terkejut.
Setelah masuk ke ruangan Mba Retno, ternyata Mba Retno tidak disana.
"Pak, Mba Retno nggak masuk sudah tiga hari!" ujar Dina, salah satu pelayan di Cafe itu.
"Lho, kenapa?"
"Sakit, Pak! Hari terakhir, kepala Mba Retno pusing!" balas pelayan itu.
"Lho, kok nggak ada yang kasih tahu saya?" Nathan menatap Dina meminta jawaban.
"Saya kira, Mba Retno sudah memberikan kabar sakitnya pada Bapak!" ujarnya lagi.
"Tidak. Dia sama sekali tidak memberikan kabar apapun!"
"Coba Bapak telfon saja! Biar jelas, Pak!" saran Dina.
"Oke, terimakasih banyak, Din!"
"Sama-sama, Pak!"
_____
__ADS_1
_____
Antara cemas dan juga penasaran, akhirnya Nathan memutuskan untuk menelfon sang Kakak. Ternyata memang benar, Retno sedang sakit. Dan dirawat di Rumah Sakit. Ayah dan Ibu juga lupa memberitahukan keadaan ini kepada Nathan dan Michelle. Karena memang Retno sendiri yang melarangnya.
"Lho, Mba, memang kenapa jika aku dan Michie tahu?"
"Nanti Mba jelaskan, Nath! Rasanya nggak nyaman kalau berbicara lewat telepon!"
"Iya, sudah. Nanti Aku dan Michelle ke Rumah Sakit ya!"
"Iya, terimakasih banyak, Nath!"
"Sama-sama, Mba!"
Tut ... Tut ... Tut
Selesai menelfon Mba Retno, kini dia harus mempunyai tenaga ekstra untuk memeriksa semua pembukuan Cafe yang sudah 2 hari tidak terurus.
Dua jam lamanya, Ia berkutat di depan layar komputer. Sampai ada seseorang yang mengetuk pintunya, Ia tidak mendengar ketukan itu.
"Iya," tatapan Nathan masih di depan layar komputernya.
"Ini saya bawakan kopi buat Bapak!" ucap wanita itu.
"Tapi saya tidak memesan ko ... !"
Arah mata Nathan menoleh ke arah lawan bicaranya. Dia sangat terkejut dengan wanita yang sekarang berdiri di hadapannya, "Indah!"
"Hey, Nath! Aku nggak menyangka, ternyata kamu pemilik Cafe ini!" ujarnya.
"Jadi kasir baru itu kamu!" ujar Nathan.
"Iya, Nath! Kamu terkejut ya?" kekehnya, "Aku juga nggak kalah terkejutnya setelah tahu kamu pemilik Cafe besar ini!"
Nathan terbahak.
"Ini aku buatkan kopi cappucino kesukaan kamu!" Indah menyodorkan satu gelas kopi kepada Nathan.
__ADS_1
"Seharusnya kamu nggak perlu melakukan itu, Ndah! Jika aku minta pasti akan aku buat sendiri kok! Atau biasanya Aku menyuruh Anto, barista Cafe ini!"
"Tapi kopi yang ini kan beda, Nath! Aku masih ingat betul, jika kamu bermain di rumahku. Kamu paling suka kopi ini!"
"Iya, sudah. Daripada mubazir, aku minum ya!" kekeh Nathan.
"Gitu dong!" senang Indah seperti mendapatkan angin segar, "Iya sudah. Aku keluar dulu! Barangkali ada orang mau bayar!"
"Silahkan!"
Hufft ...
Nathan bisa bernafas lega. Dia nampak gelisah dengan adanya Indah di cafenya.
"Jika Michie tahu Indah bekerja disini, aku takut dia cemburu! Kalau memecat Indah tanpa alasan, aku nggak tega! Ah, aku harus bagaimana?" Nathan mengusap wajahnya kasar.
____
____
Jam kerja belum usai. Tapi setelah Maghrib Nathan mengusahakan dirinya sampai di rumah. Itupun setelah mendapatkan protes keras dari sang istri. Mau tidak mau, dia pun mengalah.
Nathan berpamitan pada Donny, orang kepercayaannya setelah Mba Retno untuk mengurus Cafe. Dia pun langsung pergi meninggalkan Cafe.
Sementara Indah sedikit kecewa, karena saat akan pulang, Nathan hanya melewatinya begitu saja. Tanpa menyapa atau berpamitan. Dan itu membuatnya sedikit jengkel.
"Nathan yang sekarang sungguh berbeda dengan yang dulu! Yang sekarang dia cuek dan dingin. Apa karena aku sudah tidak terlihat semenarik dulu?" batin Indah masih menatap kepergian pria itu.
"Hey, Ndah! Jangan melamun!" Dina menepuk pundak Indah.
"Oh, nggak kok!" Indah tersenyum kecut.
"Tuh, Ada yang mau bayar!" tunjuk Dina.
"Iya, Mba Dina!"
To be continued ...
__ADS_1