Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 52 : Amplop Coklat Di Atas Nakas


__ADS_3

Umi dan Michelle berkolaborasi memasak menu makan malam bersama. Ratna yang tidak bisa memasak, hanya bisa membantu mengupas bawang dan memotong sayur-sayuran. Mereka nampak sangat bahagia.


Dengan cekatan, Michelle mengolah lobster menjadi masakan asam pedas yang enak dan lezat. Umi mencicipi masakan yang dibuat oleh putrinya, rasanya luar biasa.



"Enak nggak, Umi?" tanya Michelle.


"Ini sih enak banget, Nak. Ternyata kamu masih ingat resep yang Umi ajarkan," senang Umi.


"Iya dong Umi. Meskipun dulu Michelle wanita karir, tapi kalau hari libur, Michelle sering kok masak makanan ini untuk Mas Nathan. Dan dia suka banget," ujarnya, "Jadi, mana mungkin Michelle bisa lupa dengan resepnya,"


"Iya, Nak. Kamu memang istri terbaik untuk suami kamu," puji Umi, "Ratna, contoh tuh Teteh kamu! Kamu juga harus belajar memasak, biar setelah kamu menikah, ada yang masakin buat suami kamu!" ucap Umi.


"Iya, iya, Umi," manyun Ratna. Michelle terkekeh geli, kemudian nampak murung kembali.


"Kenapa?" tanya Umi.


"Aku kangen Mas Nathan, Umi. Dia sedang apa ya?"


"Telepon saja, Nak!"


"Pulsa Michelle habis, Umi. Belum sempat beli!" ujarnya, "Boleh nggak, Michelle pinjam ponsel Umi!"


"Ya boleh dong. Tuh, ada di kamar!" ucap Umi.


"Michelle pinjam ya, Umi," ucap Michelle, Umi menganggukkan kepalanya.


"Itu cuminya tinggal goreng saja, Umi!"


"Iya, beres. Sudah sana kamu hubungi suamimu!" suruh Umi.


Dengan hati senang, Michelle masuk ke kamar Uminya. Kamar Umi dan Abah kosong. Sepertinya Abah sedang tidak ada di kamar.


Ponsel Umi berada di atas nakas. Michelle mengambil, dan hendak mendial nomor suaminya. Sesaat manik Michelle melihat amplop berwarna coklat persis di bawah ponsel Umi. Dan anehnya, amplop tersebut memiliki logo pengadilan agama. Michelle sangat penasaran dengan isi di dalamnya. Dia pun membuka amplop tersebut.


"Surat perceraian!" kejut Michelle menatap tak percaya. Dia baca dengan seksama, dan sangat jelas dibawah surat tersebut sudah dibubuhi tanda tangan suaminya. Tangannya bergetar setelah membaca isinya.


"Bah?" panggil Michelle keluar dari kamar uminya. Niat hati hendak menelfon sang suami, ia abaikan karena ada masalah yang lebih penting lagi.


"Bah?" panggil Michelle lagi.

__ADS_1


"Ada apa, Non?" tanya Bi Ijah.


"Dimana Abah?"


"Sepertinya Tuan sedang mengobrol dengan Mas Faiz di ruang tamu,aaa pa" jawab Bi Ijah.


"Terimakasih, Bi,"


"Abah?" panggil Michelle dengan suara meninggi. Abah dan Faiz mendengar panggilan Michelle, dan menoleh ke sumber suara.


"Bah, Apa maksud semua ini?" marah Michelle. Michelle menunjukkan amplop tersebut kepada Abah.


"Michelle, Dimana kamu menemukan itu?" Abah justru balik bertanya.


"Abah jawab saja. Apa maksud surat ini?" tangis Michelle pecah. Dia tidak percaya Abahnya tega melakukan itu. Apa haknya coba?


"Ada apa sih?" panik Umi. Dari arah dapur, Umi dan Ratna mendengar Michelle berteriak dan menangis. Mereka pun keluar untuk mencari tahu.


"Itu adalah surat perceraian kamu dan Nathan. Nathan sudah menceraikanmu, Nak. Dan kamu harus menandatangani surat perceraian itu. Nanti biar Abah yang mengurusnya!" suruh Abah.


"A-pa?" tubuh Michelle hampir ambruk. Umi dan Ratna berhasil menangkapnya. Michelle tidak percaya, Abahnya tega melakukan hal seperti itu. Seolah-olah semua sudah direncanakan matang-matang.


"Tega Abah sama kami. Kenapa Abah melakukan hal itu?" isak Michelle.


"Tahu Apa Abang tentang kebaikan?" marah Michelle, "Apakah baik kalian menyuruh seorang istri meninggalkan suaminya, disaat masih sah menjadi seorang istri?"


"Abang bisa saja mengatakan seperti itu, karena Abang belum menikah. Jika Abang sudah menikah, dan kejadiannya ini berbalik ke pernikahan Abang. Apakah Abang bisa mengatakan ini untuk kebaikan istri Abang!" kesal Michelle kepada Faiz.


"Tentu saja berbeda. Karena aku bukan pria brengsek seperti Nathan!" jawab Faiz.


"Jangan sombong, Bang! Abang merasa diri paling baik, belum tentu dimata Allah Abang baik," kesal Michie mendengar ucapan Faiz yang merendahkan suaminya.


"Lho, memang benar kok. Jika suami kamu baik, mana mungkin dia berselingkuh dengan Dewi!"


"Bang cukup! Mas Nathan memang bersalah, tapi dia sudah bertaubat. Dia mengakui kesalahannya di depan kalian semua. Apakah itu tidak cukup bagi kalian semuanya?"


"Tidak. Itu tidak cukup!" bentak Faiz, "Dia sudah menghancurkan masa depan adikku. Dan dia harus menerima karmanya!"


"Abang memang sudah dibutakan dengan ucapan berbisa Dewi. Jika memang Mas Nathan menghancurkan masa depan Dewi, tidak mungkin Dewi mendapatkan penyakit terkutuk itu. Hanya wanita murahan yang bisa terkena penyakit memalukan itu. Karena mereka selalu berganti-ganti pasangan!" ucap Michelle.


"Kau!" murka Faiz.

__ADS_1


"Michelle jaga ucapan kamu!" teriak Abah.


"Kenapa, Bah?" marah Michelle. Michelle sangat kecewa dengan sikap Abahnya.


"Jaga ucapan kamu! Kamu itu wanita berpendidikan. Kenapa bicaramu seperti wanita jalanan saja?" marah Abah.


"Bah, ini tidak adil untuk Mas Nathan. Dia sudah berubah, Bah. Dia sudah bertaubat," isak Michie.


"Tapi, apa yang dikatakan Faiz itu benar. Jika memang dia laki-laki baik, tidak mungkin dia berselingkuh dengan saudara sepupumu sendiri. Nathan sudah mencoreng nama baik keluarga. Dan Nathan sudah menceraikanmu. Dia sudah bukan suamimu lagi. Dan berhenti memikirkannya!" ucap Abahnya.


"Abah tidak bisa bersikap seperti itu. Aku ini anak Abah. Kenapa Abah tega berbuat seperti itu kepada Michie?" marah Michelle.


"Dewi itu dendam sama Michelle, Bah. Dia sengaja ingin membuat pernikahan Michelle tidak bahagia. Dia seperti ular, Bah. Ucapannya berbisa dan tidak ada yang benar,"


"Cukup Michie!" bentak Abah.


"Michelle akan membuka mata hati Abah dan Bang Faiz, supaya Abah bisa melihat mana yang baik dan mana yang tidak. Pikiran Abah sudah diracuni oleh kata-kata wanita ular itu!" tukas Michie, "Mas Nathan sudah mendapatkan karmanya. Dan dia berusaha untuk bertaubat. Dia juga mengakui semua kesalahannya. Dia berubah menjadi lebih baik lagi. Bukankah di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Semua manusia memiliki dosa dan kesalahan!" isak Michelle dengan deraian air mata.


"Abah dan Bang Faiz harus ingat! Allah sangat mencintai para pelaku maksiat yang gemar bertaubat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa bersalah," tandas Michelle, "Jadi bertaubatlah kalian!"


"Stop, Michie!" Abah mengangkat tangannya hendak menampar pipi mulus Michie.


"Berhenti, Bah!" teriak Umi menangkap tangan Abah. Umi menatap Abah dengan tatapan mata yang tajam.


"Jangan pernah melakukan kekerasan pada anak, Bah. Dia bukan anak kecil lagi. Dia sudah dewasa dan berumah tangga. Umi tidak akan membiarkan Abah melakukan kekerasan kepada anak-anak Umi!"


BRUKK ...


BRAKK ...


"Teteh!" panggil Ratna. Tiba-tiba tubuh Michelle terhuyung ke belakang.


"Michie!" teriak Umi.


"Michie!" panggil Abah. Michelle jatuh tidak sadarkan diri.


to be continued .....


☄️☄️☄️☄️☄️


Hey-hey, Ayo bantu like dan komentar.

__ADS_1


Jangan lupa kasih Michelle Like dan Favorit....


Jangan lupa votenya ya!!!!!😘😘😘


__ADS_2