Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 104 : Tangisan seorang Ibu


__ADS_3

Indah mengerjapkan maniknya yang terlihat sangat lelah. Saat sayup-sayup mendengar suara merdu seseorang mengaji. Akhirnya dia mendengar lagi suara seseorang mengaji setelah sekian lama dia tidak pernah mendengarnya.


Indah beranjak dari tempat tidur, merubah posisi tidur menjadi duduk bersandar. Kemudian dia mendengarkan Michelle mengaji hingga selesai sampai akhir membaca Alquran.


Michelle menoleh ke arah Indah. Dan mengulas senyum manis, dia melipat mukenanya, lalu mendekati tempat tidur wanita itu.


"Bagaimana? Apa sudah enakkan?" tanya Michelle dengan lembut.


"Alhamdulillah. Apakah Mba yang menolong saya?" tanya Indah.


Michelle mengulas senyum, "Saya dan suami saya yang menolong Mba! Tapi sekarang suami saya sedang pulang untuk menengok anak kami di rumah mertua!"


"Oh. Terimakasih banyak, Mba! Tapi saya harus pulang!" Indah bangkit dari tempat tidurnya, dia hendak turun dari tempat tidur.


"Mba mau kemana?" tanya Michelle.


"Saya harus pulang. Anak-anak saya di rumah sendiri. Kasihan mereka. Pasti mereka belum makan!"


"Astaghfirullah. Apakah di rumah tidak ada orang?"


"Ada. Tapi saya yakin, Ayahnya tidak akan perduli!"


"Mba tenang dulu. Keadaan Mba juga tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah. Mba masih sakit!" tentu Michelle sangat cemas. Melihat kondisi wanita itu yang masih lemah dengan banyak luka disekujur tubuhnya.


"Saya nggak perduli. Saya harus pulang. Anak saya masih kecil. Saya takut, dia kenapa-napa! Tolong izinkan saya pulang! Saya mohon!" pintanya.


"Tapi Mba, keadaan Mba masih seperti itu. Tunggulah suami saya kesini, nanti kita pikirkan cara terbaiknya!" tutur Michelle.


"Nggak Mba! Anak saya pasti mencari saya! Tolong bantu saya! Saya ingin pulang!" melihat dan mendengar wanita itu memohon dan merengek, Michelle tidak tega.


"Iya, sudah. Tunggu saya! Biar saya urus admistrasi nya dulu!" ucap Michelle menawarkan bantuan.


"Maafkan saya. Saya sudah terlalu banyak merepotkan, Mba!"


"Nggak kok. Saya tidak pernah merasa direpotkan!" ucap Michelle.


____


____


Setelah Indah mengganti bajunya, Michelle membantu Indah keluar dari Rumah Sakit. Sebenarnya Dokter belum mengizinkan pasien pulang. Tapi wanita itu terus memohon meminta pulang karena Indah sangat mengkhawatirkan kedua anaknya. Akhirnya sang Dokter pun membiarkan pasiennya pulang.


Michelle menyelesaikan urusan administrasi di kasir. Barulah mengantarkan Indah dengan taksi.


Di dalam taksi, Indah nampak sangat gelisah. Dia tidak tenang memikirkan kedua buah hatinya. Michelle bisa merasakan kegelisahan wanita tersebut.


Dengan lembut Michelle menggenggam tangan Indah. Dia memberikan kekuatan pada Ibu dua anak itu.


"Percayalah, Insyaallah semuanya akan baik-baik saja!" ucap Michelle.


"Terimakasih banyak, Mba! Saking paniknya saya tidak sempat menanyakan nama Mba. Siapa nama Mba?"

__ADS_1


"Michelle. Panggil saya Michelle!"


"Kalau nama saya Indah! Terimakasih banyak, Mba sudah menolong saya! Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Mba Michelle!"


"Sudah, jangan dipikirkan. Bukankah tolong menolong diwajibkan di dalam Islam?"


Indah mengangguk.


"Terimakasih banyak ya, Mba!"


Tidak terasa taksi yang mereka tumpangi sampai di depan Gang. Tinggal berjalan kaki sedikit, maka sampailah di rumah Indah.


"Mba Michelle, Maaf sebelumnya! Sampai disini saja Mba mengantarkan saya. Saya sudah terlalu merepotkan Mba!"


"Lho, kenapa nggak sampai rumah?" heran Michelle.


"Maaf, Mba! Suami saya galak. Saya tidak mau Mba kena amuk suami saya!" kenyataannya memang Indah tidak mau merepotkan Michelle lagi.


"Tapi ... !" belum juga Michelle menyelesaikan ucapannya, Indah buru-buru keluar dari taksi.


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak, Mba!" ucapnya. Kemudian dia berlari kecil memasuki gang hingga punggung wanita itu tidak terlihat lagi. Michelle pun memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya.


____


____


Indah memasuki rumahnya. Rumahnya nampak gelap dan sepi, sepertinya sang suami belum pulang ke rumah. Dengan tertatih dia berjalan, mencari keberadaan kedua buah hatinya.


"Vanoooooo!" panggilnya lagi.


"Ibu! Kami disini!" jawab Vano, "Ibu, Tolong buka pintunya!"


BRAKK ...


BRAKK ...


"Iya, Sayang! Ibu cari kuncinya dulu!"


Indah nampak sibuk mencari kunci kamar. Dia cari kesana kemari, dan dilaci-laci juga. Ternyata kuncinya terjatuh di bawah kakinya. Bergegas dia membuka pintu kamar tersebut, betapa terkejutnya dia melihat Vano menangis sedih.


"Ada apa, Sayang?" tanya Indah panik.


"Itu, Bu!" Vano menunjuk Vino yang tergeletak di lantai. Mata Indah membulat sempurna. Vino putranya terbaring tidak berdaya di lantai.


"Vinooooooo!" teriak Indah.


Indah memeluk putranya. Dan berusaha untuk membangunkannya. Vino masih tidak bergerak.


"Vinooooo. Bangun! Ini Ibu, Nak! Tolong bangun. Ibu sayang sama kamu, Nak!" ucap Indah sambil terisak sedih, "Vinoooo! Ayo bangun. Ibu sudah pulang! Ayo bangun!" isaknya. Indah merasakan tubuh Vino dingin. Nafasnya sangat berat.


"Vano, Ibu akan membawa adikmu ke Rumah Sakit! Cepat ambilkan jaket dan tas Ibu!"

__ADS_1


"Baik, Bu!"


Dengan terburu-buru Indah membawa putranya. Dan terus mendekap tubuh mungil itu. Karena dia tahu, badan putranya sangat dingin. Mungkin dengan memberikan rasa hangat pada tubuh lemah itu, Vino kembali membuka matanya.


Sementara itu Vano mengekor di belakang sang Ibu dengan membawa jaket dan tas di tangannya.


Indah berdiri di tepi jalan untuk mencari taksi. Namun taksi yang dia butuhkan sekarang tidak kunjung datang. Indah pun terlihat sangat panik.


Kebetulan taksi yang Michelle tumpangi belum pergi. Michelle baru saja mengakhiri panggilan, kemudian maniknya melihat Indah yang sedang panik. Wanita kurus itu terlihat sangat kesusahan membawa sang anak.


Michelle juga bisa melihat, Indah menangis sambil menunggu taksi. Namun taksi yang Ia tunggu tidak kunjung datang.


"Indaaah!" panggil Michelle.


"Mba Michelle masih disini!" herannya. Michelle menganggukkan kepalanya.


"Astaghfirullah, kenapa dia?"


"Tolong saya, Mba! Badannya sudah dingin!"


"Apa?" Michelle bisa melihat, tubuh anak kecil itu sudah membiru, "Ayo masuk ke taksi! Kita ke Rumah Sakit!" Michelle membuka pintu taksi. Kemudian menyuruh Indah untuk masuk ke taksi.


"Pak kita ke Rumah Sakit terdekat!" suruh Michelle pada sopir taksi.


"Baik, Bu!"


Taksi pun berjalan menuju Rumah Sakit terdekat. Tidak menunggu lama untuk sampai ke Rumah Sakit. Memang sopir taksi memilih Rumah Sakit yang paling dekat dari jalan utama. Karena melihat penumpangnya panik dan gelisah.


To be continued ...


°°°°°°°°


Hey-hey kakak-kakak semua!!😁😁


Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari ya! Insyaallah. Tapi updatenya tidak pasti. Karena Author nya harus mengutamakan kepentingan pekerjaan the real life 🙏🙏


Maka dari itu, mohon dukungannya 🤗🤗


Jangan lupa tinggalkan Like, komentar, favorit, rate bintang lima, gitfnya bisa berupa bunga ataupun kopi, vote juga Author bersyukur banget...😂😂


Kasih bintang juga di novel ini ⭐⭐⭐⭐⭐, biar novel ini semakin bersinar seperti Michelle dan Nathan!!🤗🤗


Novel ini hanya akan ada di aplikasi Novel toon dan Manga toon saja. Bila ada di Aplikasi lain berarti itu cuma plagiat, dan Plagiat tidak dibenarkan dalam kepenulisan!!!!😱😱


Jadi, jika ditemukan para pembaca setia Cahyaning Fitri menemukan adanya Plagiat, mohon dilaporkan ya!!!!🙏🤗


Dukung terus novel ini, tambahkan di rak baca kalian. Nikmati alurnya, dan selamat membaca.....🥰🥰🥰🥰


Dilarang boomlike, karena jika itu sampai terjadi, akan menurunkan performa novel Author..🤗🤗


Sehat-sehat buat kalian yang sudah setia hingga beberapa Bab, Semoga novel ini bisa menjadi penghibur di waktu senggang kalian....🥰🥰

__ADS_1


Selamat membaca dan beraktivitas....🙏🙏


__ADS_2