Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 15 : Menenangkan Diri


__ADS_3

"Lu yang sabar. Serahkan semuanya kepada Allah," tutur Tasya, "Sekarang hapus air mata, Lu. Dan ambillah wudhu untuk menenangkan hati!"


Michelle pun beranjak dari tempat duduknya. Dia mengikuti saran dari sahabatnya. Mengambil wudhu, dan memulai sholat Maghrib. Memang dia belum sempat sholat Maghrib. Dengan khusyuk, Michelle melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah menyelesaikan tiga rakaatnya, Michelle berdo'a kepada Allah memohon petunjuk atas masalahnya. Sekarang yang dia rasakan adalah sebuah dilema, kecewa dan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit yang luar biasa.


Selesai sholat, hatinya sedikit lebih tenang. Dia melihat sahabatnya sedang sibuk di dapur. Michelle mendekat ke arah dapur, dia duduk dan membantu Tasya mengolah bahan makanan, sepertinya Tasya akan memasak makan malam.


"Sudah, duduk saja! Gue akan


menyiapkan makan malam untuk kita berdua," ujarnya.


"Nggak apa-apa, gue bantu. Kalau gue cuma berdiam diri saja, gue akan terus memikirkan masalah gue," jawabnya.


"Iya, udah kalau begitu. Nih kupas bawang merah dan bawang putihnya. Gue mau masak nasi goreng seafood. Lu, pasti suka masakan gue!" pujinya pada diri sendiri. Michelle tersenyum dengan terpaksa.


Dalam waktu dua puluh menit, akhirnya nasi goreng seafood siap disajikan di meja makan. Tasya menaruh nasi goreng tersebut di dua piring, dan menaruhnya di meja makan. Sedangkan Michelle menyiapkan teh hangat untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Silahkan makan!" ucap Tasya. Michelle hanya tersenyum getir. Tasya melahap masakannya dengan semangat, sedangkan Michelle hanya memandangi nasi goreng di depannya.


"Makanlah! Kenapa hanya dipandangi terus!" ucapnya.


"Aku nggak selera," jawab Michie.


"Gue tahu, tapi, jangan biarkan perut Lu kosong!" ucap Tasya.


"Tapi, gue benar-benar nggak selera,"


"Tapi ... !"


"Jangan tapi-tapian! Ayo makan!" ajaknya. Akhirnya sedikit demi sedikit, Michelle memaksakan diri untuk memakan nasi goreng tersebut. Bukannya Michelle nggak suka masakan Tasya. Masakan Tasya cukup enak, bahkan masakan Michelle tidak seenak masakan sahabatnya. Namun karena Michelle memang tidak berselera makan, dia enggan untuk menghabiskannya.


"Iya sudah nggak apa-apa. Yang penting perut kamu terisi," ucap Tasya.

__ADS_1


"Maaf ya!" Michelle jadi merasa bersalah.


"Nyantai aja. Lagian gue tahu kok, Lu, lagi banyak pikiran!" ujar Tasya.


"Lu memang sahabat terbaik gue," ujarnya.


Selesai makan malam, Michelle langsung mengistirahatkan tubuhnya di kamar Tasya. Kamarnya sangat rapih dan bersih. Dan baunya juga sangat wangi. Sambil rebahan dia menatap langit-langit kamarnya.


Dia teringat saat pertama kalinya dia bertemu dengan sang suami, semuanya sangat indah. Dia juga teringat, suaminya sangat menyayangi dirinya. Hampir tidak pernah ada masalah di dalam rumah tangganya. Perhatian Nathan, kasih sayang Nathan. Bahkan soal momongan, Nathan hampir tidak pernah protes. Itulah mengapa Michelle sangat mencintai suaminya. Namun setelah kehadiran sepupunya sekaligus mantan pacar suaminya datang, sikap Nathan berubah drastis.


Michelle menghela nafasnya berat. Rasanya begitu berat untuk berpisah dengan sang suami. Tapi, itu adalah keputusan Nathan sendiri. Dia sebagai seorang wanita bisa apa. Seharian menangis membuatnya kelelahan, dia pun tertidur pulas dalam sekejap mata.


🍁🍁🍁🍁


Satu Minggu berlalu, tidak ada kabar dari istrinya. Nathan cemas dan dia sudah mencari istrinya kemana-mana. Namun Nathan belum juga menemukan keberadaan sang istri. Dia sangat menyesal lagi-lagi harus membuat istrinya kecewa.

__ADS_1


to be continued .....


__ADS_2