Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 29 : Memeriksakan Diri Ke RS


__ADS_3

Hujan tak juga reda, gemerincing jatuhnya seperti terus menggelayuti hati dan fikiran. Dilema cinta memang sedang melanda dua insan manusia yang berbeda jenis. Menerpa seperti badai yang menggulung tak jua mau berlalu. Tebakan angin itu rupanya terlalu keras menerpa yakin nya akan pondasi cinta yang telah tertanam.


Belenggu ruang cinta memang tak seharusnya membatasi murninya ikatan suci pernikahan, tapi keadaan memang punya segala untuk merubahnya seketika. Penungguan ini mungkin kan berbatas waktu, sebelum langit tiba tiba cerah, dan akan ada pelangi di ujung terjauh.


Manusia memang tidak ada yang sempurna dengan suka dan duka yang ada di dalamnya. Ketika keegoan yang dipaksakan untuk mewarnai kanvas cinta yang telah punya warna sucinya sendiri, sesuai dengan takdir yang sedang dijalani.


Wanita berparas cantik itu menyenderkan kepalanya di dada bidang sang suami. Sesekali Nathan memainkan rambut panjang istrinya. Rambut yang hitam dan bau wangi khas shampo menyeruak di indera penciuman.


"Mas, hari ini ada jadwal kontrol dengan Dokter. Tapi, sepertinya hujan tidak kunjung reda. Bagaimana ini?"


"Kita tunggu saja sampai hujan reda," jawab Nathan.


"Apakah sudah tidak sakit lagi, Mas?" tanya Michelle.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Sayang. Semua berkat doa dan dukunganmu," ucap sang suami mencium kening istrinya dengan sayang.


"Rencananya, setelah aku dinyatakan sembuh oleh Dokter, aku akan mencari pekerjaan, Sayang. Kamu bantu dengan doa ya?" ucapan tulus Nathan.


"Kamu mau mencari pekerjaan?" heran Michelle.


"Iya. Aku nggak mungkin terus mengandalkan gaji kamu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga kita. Setelah aku mendapat pekerjaan, kamu berhenti bekerja ya. Aku ingin kamu fokus di rumah," tutur suaminya.


"Jika memang itu yang terbaik untuk rumah tangga kita. Aku akan menuruti semua perintah kamu, Mas," jawab Michelle.


Michelle tersenyum bahagia. Kata-kata suaminya mampu menyihir dunianya. Dia bisa melihat perubahan yang sangat besar dari sikap suaminya. Bahkan banyak sekali yang berubah.


Setelah hujan reda, pasangan suami istri itu bersiap-siap untuk berangkat ke RS. Nathan memanaskan mobil istrinya. Mereka berangkat dari rumah menuju RS, setelah jam makan siang.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana. Dalam hitungan tiga puluh menit, mereka sampai di Rumah Sakit. Nathan memacu kendaraannya bagai seorang pembalap terkenal.


"Astaga, Mas. Kau membuat jantungku copot!" gerutu istrinya, Nathan hanya terkekeh geli melihat wajah cantik sang istri yang cemberut. Dengan cepat dia mencium bibir yang menggemaskan itu.


"Mas, aku sedang marah. Kenapa malah menciumiku?" sewotnya.


"Habisnya jika kamu merajuk seperti itu, kamu sangat menggemaskan, Sayang,"


"Jangan mesum dulu deh. Pastikan diri kamu sembuh. Kamu boleh meminta hakmu!" lirih Michelle tersipu-sipu malu.


"Benarkah? Jika aku dinyatakan negatif, aku boleh meminta hak ku," senang Nathan, Michelle mengangguk pelan.


"Tapi, hari ini aku ingin berkonsultasi dengan Dokter. Aku ingin memiliki momongan, Mas," lirih Michelle. Nathan menatap mata istrinya sendu. Betapa bersalahnya dia.

__ADS_1


Dulu, dia pernah mengejek istrinya perihal Michelle yang tidak kunjung hamil. Namun, sekarang justru dia yang tidak bersemangat. Pasalnya Dokter pernah menjelaskan, bahwa seorang pria yang mengidap penyakit Sifilis parah bisa merusak organ reproduksinya, dan tentu saja itu akan berakibat kemandulan.


to be continued .....


__ADS_2