
Mobil yang ditumpangi Kartono, Salma dan Faiz sudah sampai diparkiran Rumah Sakit. Sedangkan mobil Abah menyusulnya di belakang. Dengan terburu-buru mereka masuk ke Rumah Sakit. Sedari tadi, Salma menangis terus. Umi hanya bisa memberikan kekuatan pada kakak iparnya itu.
Mereka semuanya sudah sampai di ruangan Dewi. Di depan ruangan itu dijaga oleh dua polisi. Kartono meminta izin pada dua polisi itu untuk melihat kondisi putrinya yang sekarat.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Kartono dan istrinya diperbolehkan masuk. Sementara sisanya hanya di perbolehkan menunggu di luar.
Kartono dan Salma sangat terkejut dengan kondisi Dewi yang sangat memprihatikan. Kulit yang pucat, tubuh yang kurus, dan tulang pipi yang terlihat sangat menonjol. Dengan lingkaran hitam dibawah matanya.
Salma tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Dia menangis melihat putri satu-satunya. Yang lemah tergeletak tidak berdaya.
"Dewiiiii!" teriak Salma.
"Dewi!" Kartono sesenggukan, "Maafkan Ayah, Wi! Ayah tidak bisa membahagiakan mu!"
"Dewiiii! Bangun, Nak! Kamu harus sadar! Tolong jangan buat Ibu khawatir!" ujar Salma.
Kondisi Dewi yang semakin drop membuat Dokter harus melihat keadaannya. Dokter memeriksa kondisi pasien. Memeriksa bagian matanya dan jantungnya yang semakin melemah. Salma terus saja terisak, tidak tega melihat kondisi Dewi yang seperti mayat hidup.
"Yah, Anak kita! Kenapa jadi seperti ini?" isak Salma.
"Ayah juga nggak tahu, Bu!" Kartono terguguk pilu.
____
____
Mendengar kabar Dewi di Rumah Sakit, Nathan dan istrinya langsung mendatangi Rumah Sakit. Mereka juga sangat prihatin dengan kondisi Dewi, yang fisiknya semakin melemah.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Walaikumsalam," jawab Abah, Umi dan Bang Faiz.
Sampai di Rumah Sakit, pasangan suami istri itu langsung menyalami Abah dan Umi. Nampak Faiz juga sedang cemas, berdiri di depan ruangan Dewi. Nathan berusaha menguatkan Faiz.
"Bagaimana keadaan Dewi?" tanya Michelle.
"Dewi sudah tidak sadarkan diri, Michie!" jawab Abah, "Abah sih belum melihatnya!"
Beberapa menit kemudian gantian Faiz dan Abah yang melihat keadaan Dewi. Kemudian gantian Nathan, Michelle dan Umi.
Umi terisak tidak kuat melihat kondisi Dewi yang benar-benar sangat memperihatinkan. Begitu juga Michelle. Dia tidak kuasa menahan air matanya yang meleleh begitu saja.
Dewi sudah tidak sadarkan diri. Matanya tertutup rapat dengan selang infus yang masih menancap di tubuhnya. Namun dia sama sekali tidak bergerak ataupun membuka matanya.
Michelle mendekat ke arah Dewi. Dia tidak sanggup melihatnya. Suaminya berusaha untuk menguatkan sang istri.
"Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, Wi! Semua keluargaku juga sudah memaafkan mu! Meskipun kau pernah menyakitiku, sedikit pun aku tidak pernah dendam padamu! Aku selalu menganggap mu saudara ku. Karena memang kau adalah saudaraku!" isak Michelle sambil menengadahkan kedua tangannya.
..."Ya Allah, panjangkanlah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah jika itu lebih baik baginya."...
"Amin." Dijawab serentak oleh Umi dan suaminya.
____
____
Setelah membacakan doa tersebut. Nadinya semakin melemah. Nafasnya semakin berat. Detak jantungnya tidak terdengar lagi. Dan akhirnya Dewi menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali. Umi semakin terisak melihatnya, sementara Michelle buru-buru memanggil Dokter untuk memeriksa kembali keadaannya.
"Bapak dan Ibu, dengan berat hati saya mengatakan Pasien sudah tidak ada! Mba Dewi meninggalkan kita semua!" ucap Dokter.
__ADS_1
"Apa?" mereka masih belum percaya Dewi sudah tidak ada.
"Dewiiiiiiii!" teriak Salma.
"Dewi!" isak Kartono.
"Sabar ya, Bu, Pak! Saya tahu ini sangat berat! Tapi Bapak dan Ibu semuanya harus kuat!" ujar Dokter.
"Terimakasih banyak, Dok!" ucap Nathan.
"Nanti semuanya biar pihak Rumah Sakit yang mengurus!" ucap Dokter, "Karena ada penanganan khusus untuk pasien pengidap AIDS!"
"Baik, terimakasih banyak, Dok!"
Kartono dan Salma menangis histeris. Mereka tidak kuat menahan rasa sedih yang luar biasa. Umi dan Abah berusaha untuk menguatkan hati keduanya.
"Sabar, Salma! Kematian adalah salah satu fase yang akan dialami manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Kematian akan datang menjemput semua makhluk hidup dengan cara yang beragam!" tutur Umi pada Bude Salma.
"Iya. Maafkan kesalahan-kesalahan anak saya pada keluarga Umi!"
"Iya. Sudah saya maafkan!" sahut Umi.
____
____
Setelah jenazah dimandikan dan dikafani, jenazah tersebut masih harus di bungkus plastik besar dan harus disterilkan.
Michelle tidak bisa ikut ke Bogor untuk acara pemakaman Dewi. Karena memang dia memiliki anak yang masih kecil dan masih perlu ASI-nya. Akhirnya Nathan dan Ayah yang datang ke pemakaman tersebut.
__ADS_1
To be continued ....
°°°°°°°