
Sudah pukul tujuh lewat, suaminya tak kunjung pulang. Padahal hari ini dia sudah memasak makan malam untuk suaminya. Sembari menunggu, Michelle membaca surat-surat yang didapatinya pagi tadi, menumpuk di kotak surat depan rumahnya.
Dia pilah-pilah surat yang menurutnya sangat penting. Ada beberapa surat tagihan listrik, air, dan asuransi. Dan surat terakhir, surat dengan amplop berwarna coklat. Ia buka secara perlahan.
"Apa ini?" ia bolak-balikkan surat tersebut. Alamat pengirimnya jelas tertera nama Perusahaan, tempat suaminya bekerja. Michelle membaca isinya, nampak ia begitu terkejut.
"Apa sih ini?" tangan kekar merebut surat tersebut. Sontak membuat Michelle terkejut.
"Mas?"
"Suami pulang kok tidak disambut?" ujarnya tersenyum menggoda.
"Eh, itu, Michie nggak denger, Mas," ucapnya tersenyum simpul.
"Apa ini?" Nathan membaca lembaran putih itu dengan seksama. Dia nampak mengerutkan keningnya. Kemudian duduk terlemas. Michelle duduk di sampingnya, memegang tangan suaminya.
"Aku dipecat dari pekerjaan," lirihnya.
"Kamu yang sabar ya, Mas," ucap Michelle berusaha untuk menguatkan suaminya.
"Jika aku dipecat, bagaimana aku bisa menafkahi mu?" tanya Nathan menatap Michelle dengan sedih.
"Rezeki Allah itu luas. Bukan hanya di Perusahaan saja. Mas bisa memulainya lagi dari awal. Bisa mencari pekerjaan lagi. Aku yakin dengan modal ijazah dan pengalaman Mas bekerja, Perusahaan lain pasti akan langsung menerima Mas bekerja di Perusahaannya. Kita sama-sama berdoa ya, Mas!" tutur Michelle kepada suaminya. Nathan hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Betapa kejamnya aku. Dulu aku selalu menyakitimu. Tapi, justru kau yang menguatkanku untuk selalu kuat menghadapi semuanya," batin Nathan.
"Oya, Michie memasak makanan kesukaan Mas. Ayo kita makan malam!" ajak istrinya. Nathan mengekor di belakang sang istri.
"Wah, ini makanan kesukaanku," ujarnya.
__ADS_1
"Ayo kita makan,"
Michelle menyendokkan nasi, sayur, tempe dan tahu goreng ke piring suaminya. Setelah itu barulah dia menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri.
"Kenapa kamu nggak beli ayam atau daging untukmu sendiri?" tanya Nathan heran. Karena memang masa pemulihan ini, Nathan dilarang keras oleh Dokter untuk memakan daging, telur, ayam dan ikan. Kenapa istrinya juga ikut-ikutan tidak memakan itu semuanya, heran Nathan kepada istrinya.
"Tidak apa-apa. Apapun yang Mas makan, aku akan memakannya. Aku tidak mau, kamu hanya makan tempe dan tahu, sedangkan aku makan ayam dan daging. Lebih baik kita makan makanan yang sama," ujarnya mengulas senyum.
Menyesal, itulah yang sedang ia rasakan lagi. Kenapa dirinya baru menyadari bahwa wanita cantik yang duduk di depannya benar-benar wanita yang berbeda, wanita yang cantik. Bukan hanya cantik rupa, ia juga wanita yang cantik hatinya.
Nathan menyatukan makanannya dengan makanan milik Michelle. Michelle sampai bingung dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Aaaaaaaaaaaa!" Nathan menyuapi sang istri dengan tangannya sendiri.
"Aku suapi," ucapnya dengan tersenyum. Michelle menitikkan air mata seraya memegangi tangan suaminya.
"Ini adalah tangisan bahagia. Aku sangat bahagia, akhirnya suamiku yang dulu sempat menghilang akhirnya kembali lagi ke pelukanku," isaknya. Nathan menghapus air mata yang menetes di pipi Michelle.
"Aku akan selalu dipelukan mu. Aku tidak akan pergi lagi ataupun menghilang," ujarnya.
"Sekarang, Ayo kita makan!" Nathan kembali menyuapi Michelle dengan tangannya sendiri. Sesekali sebaliknya, Michelle juga menyuapi Nathan dengan tangannya.
Selesai makan malam, mereka duduk santai di dekat kolam renang. Michelle menyenderkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Mas?"
"Hem,"
"Sebelumnya aku minta maaf, tidak meminta izin terlebih dahulu sama kamu,"
__ADS_1
"Kenapa?" Nathan mengerutkan keningnya.
"A-a-aku sudah lancang menjual mobilmu, Mas," lirihnya. Namun tidak ada respon dari suaminya.
"Aku terpaksa. Aku harus membayar biaya RS dan obat-obatan," lirihnya merasa sangat bersalah.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kok. Biaya Rumah Sakit dan obat pasti sangat mahal," ujarnya. Nathan menatap manik itu.
"Uangku adalah uangmu. Dan semua yang aku milikku adalah milikmu juga," jawabnya, "Termasuk rumah ini, dan mobil juga milik kamu. Kamu berhak menjualnya. Apalagi untuk membayar RS. Justru sebagai seorang suami, aku tidak berguna. Harusnya aku yang memikirkan semuanya. Tapi ... !"
"Mas, sudahlah. Jangan diingat-ingat lagi. Kita mulai dari awal," sela istrinya.
to be continued ......
☄️☄️☄️☄️☄️
Author kasih visualnya, silahkan ngehalu sendiri...😂😂
Michelle
Nathan
Dewi
__ADS_1