
Michelle berusaha untuk menenangkan Indah yang sedari tadi menangis. Ia yakin, Indah pasti sangat terpukul melihat putranya yang masih kecil dalam keadaan memprihatinkan.
Setengah jam memeriksa kondisi pasien, akhirnya Dokter keluar ruangan. Indah yang sedari tadi menangis langsung mendekati Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Indah sangat cemas.
"Maaf, Bu! Kami tidak bisa menyelamatkan putra Ibu. Putra Ibu sudah meninggal. Sepertinya putra Ibu mengalami sesak nafas. Kenapa Ibu tidak langsung membawanya ke Rumah Sakit!" Dokter justru menyalahkan Indah. Indah tidak menjawab, dia hanya bisa menangis dan menatap pias ke arah Dokter itu.
"Maaf, Dok! Biar saya jelaskan!" Akhirnya Michelle membuka suara dan menjelaskan semua masalahnya pada sang Dokter. Sang Dokter sedikit mengerti, dan merasa iba dengan kondisi ibu pasiennya.
"Baiklah kalau begitu! Saya hanya bisa berdoa, semoga ibu dan keluarga diberikan kesabaran. Dan biar pihak Rumah Sakit yang mengurus acara pemandiannya!"
"Iya, Dokter! Saya mohon urus semuanya. Kami terima beres saja!" ucap Michelle.
____
____
Michelle menoleh ke arah Vano. Anak itu terlihat lemah sambil memegangi perutnya. Mungkin anak itu lapar, namun tidak berani untuk mengatakan pada sang Ibu yang terus menunggui jenazah adiknya. Michelle pun mendekat ke arah Vano. Wanita cantik itu mengulas senyum manis agar anak itu tidak ketakutan.
"Vano Sayang, Vano lapar?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut. Bocah Lima tahun itu hanya menatap sayu pada sang Ibu yang terus menangis. Kemudian menoleh ke arah Michelle dengan anggukkan kepala.
"Kalau begitu, Ayo ikut Tante!" Michelle menggandeng tangan kecil itu ke sebuah kantin.
Sambil menunggu Vano makan, Michelle menghubungi nomor suaminya. Suaminya harus tahu kabar mengenai Indah, dan kematian putranya. Bagaimanapun dia juga bingung setelah ini berbuat apa.
Satu jam kemudian, Suaminya datang ke Rumah Sakit. Itupun menunggu putranya tidur di rumah ayah dan Ibunya. Dengan tergesa-gesa Nathan berjalan menghampiri istrinya.
"Sayang, Bagaimana keadaan Indah?" tanya Nathan yang baru saja datang.
"Indah menangis terus, Mas! Aku yakin dia sangat terpukul karena telah kehilangan putranya!" jawab Michelle.
"Ayo kita kesana!" ajak Nathan.
__ADS_1
"Iya, Mas!"
Nathan melihat Indah yang masih menangis di depan ruangan jenazah. Nathan nggak sampai hati melihat perempuan itu menangis, dan penampilannya juga terlihat sangat kacau.
"Indah!" panggil Nathan.
"Nathan!" Indah ingin berhambur ke pelukan Nathan, dia ingin membagi kesedihannya dengan orang lain. Namun Nathan menghentikan langkah Indah.
"Maaf! Kita bukan muhrim!" ujarnya. Seketika Indah berhenti, dan maniknya menoleh ke arah perempuan yang ada disebelah Nathan. Michelle tersenyum sangat manis. Tidak sedikitpun dia menampakkan rasa cemburu, karena dia percaya pada suaminya.
"Oh, iya, Ndah! Michelle adalah istriku!"
Sontak Indah terkejut. Dia baru tahu kalau Michelle ternyata istri Nathan. Nathan dan Michelle pun memahaminya.
"Oh, jadi Mba Michelle ini istri kamu, Nath!" heran Indah.
"Iya, Ndah! Dia istriku!"
"Jadi yang menolong aku kemarin kamu dan istri kamu?"
"Ya Allah. Ternyata kamu dan Mba Michelle adalah suami istri!" Mereka pun menganggukkan kepalanya lagi.
"Ini sudah ketentuan Allah, Mba! Kita dipertemukan seperti ini!" jawab Michelle.
"Istrimu cantik sekali, Nath!" ujar Indah.
Nathan mengulas senyum, "Dia memang sangat cantik. Bukan hanya wajahnya yang cantik, hatinya juga!" puji Nathan.
"Ih, Apaan sih? Bisa ya dalam kondisi seperti ini, kamu bercanda Mas!" Michelle tersipu malu.
"Oya, Gimana? Aku sudah dengar dari Michelle. Anak kamu ... !" belum juga menyelesaikan kalimatnya, Indah kembali menangis.
"Sabar, Mba! Ikhlaskan putra Mba Indah, Biar tenang di sana! Maut merupakan rahasia Allah SWT yang tak bisa diprediksi kapan akan datang. Semua orang di dunia ini pasti akan dihadapkan pada kematian. Mereka yang sehat maupun yang sakit akan dihadapkan pada kematian jika telah tiba waktunya. Kendati demikian, kita tak bisa berbuat banyak karena itu merupakan takdir yang telah ditentukan Allah SWT. Sangat berpeluang besar anak kita, anak Mba, anak siapapun sepanjang dia terlahir kemudian dia belum baligh tapi wafat kembali kepada Allah SWT sesuai dengan ajalnya, boleh jadi itu tabungan terbaik untuk kita, Mba!" tutur Michelle.
__ADS_1
Hiks ... Hiks ... Hiks
"Terimakasih, Mba Michelle. Terimakasih atas semua yang sudah Mba Michelle dan Nathan lakukan untuk saya!"
"Tidak apa-apa, Ndah. Bukankah setiap muslim harus saling membantu!" ucap Nathan.
°°°°°°
Selesai dimandikan dan dikafani, Jenazah langsung dibawa pulang untuk dimakamkan. Mobil Nathan dan Michelle mengekor di belakangnya.
Nathan dan istrinya merasa sangat heran. Pemakaman hampir saja selesai, mereka tidak melihat batang hidung suaminya Indah. Bahkan kedua mertuanya sekalipun.
____
____
Akhirnya acara pemakaman selesai, semua pelayat juga pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggal Indah dan Vano yang masih ingin tinggal di sana. Indah terus saja menangis sesenggukan.
"Ndah, Ayo kita pulang!" ajak Nathan.
Indah bingung harus pulang kemana. Dia sudah tidak mau pulang ke rumahnya. Rumah yang menurutnya seperti neraka.
"Kita ajak ke rumah Ibu dan ayah saja, Mas! Saya yakin, jiwanya sangat terpukul!" saran Michelle.
"Kamu yakin?"
"Insyaallah! Wajib hukumnya menolong orang!" jawab Michelle.
"Kau memang istriku yang terbaik!" ujar Nathan.
Mereka pun membawa Indah dan putranya ke rumah Ibu dan Ayah. Dengan begitu, Indah bisa memenangkan hati dan pikirannya.
To be continued....
__ADS_1
Hey², Ayo dukung karya ini dengan kasih Like, Komentar dan Gift nya ...
Bantu Vote juga Beb.....🥰🥰