
PLAKK .....
Tamparan keras mendarat di pipi Nathan.
"Dasar, kau ba******ngan! Bre******sek! Siapa yang mengajarimu berbuat Zina? Aku tidak pernah mengajarimu untuk berbuat Zina!" murka Bara.
"Aaaaaaaaaaaa," pekik Bara memegang dadanya yang nyeri.
"Ayah?" teriak Nathan.
"Ayah!" teriak Michelle.
"Ayah!" teriak ibu.
"Ayah!" teriak Mba Retno.
"Bawa ke Rumah Sakit!" ucap Michelle.
Mereka semua membawa Bara ke Rumah Sakit. Di perjalanan, ibu, Michelle dan Mba Retno tidak berhenti menangis.
Pak Bara sedang di tangani oleh Dokter di ruangan UGD. Ibu, Nathan, mba Retno dan Michelle menunggu di depan ruangan.
Selama satu jam, Pak Bara diperiksa oleh Dokter. Akhirnya sang Dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya ibu. Dokter nampak mengernyitkan alisnya.
"Kali ini masih bisa tertolong! Tapi, jika lain kali beliau mendapatkan kabar yang membuatnya pikiran dan frustasi, saya tidak bisa menjamin umurnya masih bertahan lama!" ucap Dokter.
"Apa?" isak ibu.
"Sabar, Bu!" Michelle berusaha untuk menenangkan hati mertuanya.
Ibu menatap tajam ke arah putranya.
"Semua ini gara-gara kamu, Nathan! Apakah kau ingin ayahmu meninggal? Kalau memang benar begitu, bunuh ibu juga!" teriak ibu kepada putranya.
"Ibu tenanglah!" ucap Michelle memeluk mertuanya. Michelle bisa melihat, suaminya hanya menunduk di sudut ruangan. Entah apa yang sedang dia pikirkan, Michelle tidak tahu.
Beberapa jam berlalu, Pak Bara sudah mulai membuka matanya. Semua keluarga berkumpul, termasuk Michelle dan Nathan.
"Aku tidak mau melihat wajah anak brengsek itu! Pergi dari sini!" bentak Bara kepada putranya.
"Ayah?" ibu sangat sedih melihat kebencian suaminya kepada putranya sendiri.
"Sebelum dia meninggalkan wanita ja****ng itu! Aku tidak akan mengakuinya sebagai anak," imbuh ayah lagi.
"Baiklah, aku akan keluar. Tapi, perlu Ayah tahu! Sebelum Nathan menikah dengan Michelle, Nathan sudah mencintai Dewi terlebih dulu. Kami saling mencintai, Yah. Dan aku ingin menikahinya!" ucap Nathan.
"Kau ini!"
__ADS_1
"Sudah, sudah. Jangan ribut lagi!" ucap ibu menengahi keduanya.
"Nathan, pergilah terlebih dahulu. Biarkan ayahmu beristirahat! Jangan membuat stress karena masalah kamu!" ucap Ibunya.
"Baiklah, Nathan akan pergi!" Nathan pun keluar dari ruangan ayahnya.
"Anak tidak tahu diri! Anak tidak tahu diuntung!" umpat Bara.
"Sudah, Yah! Ayah harus tenang!" ucap ibu.
"Michie?" panggil ayah mertuanya.
"Iya, Yah," jawab Michie mendekat ke arah ayah mertuanya. Ayah memberikan kode agar Michelle mendekat.
"Pertahankan rumah tanggamu! Ayah lebih ridho kau menjadi menantuku, bukan wanita itu ataupun wanita yang lain," bisik ayah mertuanya.
"Ayah jangan banyak berfikir dulu. Ayah harus sehat seperti sedia kala!" ucap Michelle.
Tiga hari berlalu, akhirnya Pak Bara keluar dari Rumah Sakit. Dokter mengizinkan pasiennya pulang, karena Pak Bara merengek minta pulang seperti anak kecil.
Sampai di rumah, Michelle membantu ayah mertuanya berbaring di tempat tidur. Bara menepuk kursi, supaya Michelle duduk.
"Apakah kau masih mencintai anak ayah?" tanya Bara tiba-tiba.
"Kok ayah tanya begitu?"
"Jika kamu memang sudah tidak bisa mempertahankan pernikahanmu, kamu boleh meminta bercerai!" tutur ayah. Michelle menatap sedih ayah mertuanya. Tidak terasa air matanya mengalir.
Bara menatap sendu menantunya. Dia sangat malu atas tindakan yang Nathan lakukan kepada menantunya yang sangat baik. Bara menangis sedih, dia tidak bisa menahan air matanya yang sudah menganak sungai dan siap tumpah.
"Maafkan Ayah yang tidak bisa menasehati Nathan!"
"Tidak apa-apa, Yah. Aku yakin, suatu saat sikap Mas Nathan akan kembali seperti dulu," ujarnya, berusaha untuk menahan rasa sakit di dadanya dan mencoba untuk tersenyum.
Michelle kembali ke rumah dengan langkah yang tidak bersemangat. Bagaimana tidak, dirinya sedang dilanda dilema yang sangat rumit. Dia harus memikirkan banyak perasaan disini, perasaan kedua mertuanya, perasaan suaminya dan sekarang perasaannya sendiri.
Setelah membuka pintu rumah, dia langsung kembali ke kamar. Dia lihat mobil suaminya terparkir di halaman rumah, dan sudah bisa dipastikan, suaminya tidak menemui kekasih gelapnya.
Seperti biasa, setelah mandi dia masih menyiapkan makan malam untuk sang suami. Masakan sudah tersaji di meja makan. Namun, Michelle tidak merasakan lapar diperutnya. Dia hanya menyiapkan satu piring di meja makan.
Sepulang dari Rumah Sakit Nathan langsung pulang ke rumah, dan tertidur pulas di kamar. Perutnya merasa sangat lapar, dia pun memutuskan keluar dari kamarnya. Di meja makan sudah tersaji makan malam. Nathan sedikit heran karena di meja makan hanya ada satu piring saja.
Michelle keluar dari kamar, dan dia berpamitan kepada sang suami.
"Mas, aku pergi dulu! Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kamu. Kamu bisa makan sekarang, dan aku minta maaf karena aku tidak bisa menemani kamu makan!" ucapnya, setelah itu berlalu pergi meninggalkan suaminya yang tidak sempat bertanya apapun.
Michelle mengendarai mobilnya ke pusat kota. Sebenarnya dia tidak memiliki tujuan, tapi, entah kenapa dia terlalu malas hanya untuk bertegur sapa dengan sang suami.
Michelle memutuskan untuk pergi ke taman. Dia memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Kemudian, mencari tempat duduk untuk menyendiri.
__ADS_1
Dia mendudukkan pantatnya di kursi taman, dan menyendiri di sana.
Ternyata suasana taman di malam hari tidak terlalu buruk. Banyak sekali kaum muda-mudi sedang memadu kasih di taman, bahkan ada pula yang sengaja datang untuk melihat-lihat, ataupun menikmati keindahan taman.
"Huft." Michelle menghela nafasnya panjang.
Dret ... Dret .... Dret
Sebuah notifikasi panggilan masuk, ternyata dari Tasya.
"Assalamu'alaikum?"
"Walaikumsalam,"
"Michie, gue ke rumah, Lu, ya!" ucap Tasya.
"Eh, gue, sedang di taman kota," jawabnya.
"Lo ngapain di sana?"
"Lagi menenangkan diri," jawab Michelle.
"Iya, udah, gue susul!" ucap Tasya.
Lima belas menit kemudian, Tasya datang dengan membawa makanan dan minuman.
"Hey, Michie!" sapa Tasya.
"Ck, Lu, tahu aja gue disini!" ujarnya.
"Iyalah, Tasya gitu!" senang Tasya, "Nih gue bawain makanan dan minuman. Gue tahu, jika Lu lagi ada masalah pasti Lu nggak kepikiran untuk makan,"
"Lu tahu aja," cebik Michelle sambil tersenyum, "Terima kasih banyak, Beb," ucap Michelle. Di jawab anggukan oleh Tasya.
Sembari memakan makanan yang dibeli oleh sahabatnya, Michelle menceritakan segala keluh kesahnya kepada Tasya.
"Menurut Lu, Bagaimana?" tanya Michelle meminta pendapat dari Tasya.
"Lu yakin mau mempertahankan pernikahan, Lu?" tanya Tasya dengan mulut penuh makanan.
"Gue yakin!" jawabnya.
"Kalau begitu buat suami Lu jatuh cinta kembali,"
"Maksud kamu?"
"Buat Nathan jatuh ke pelukan Lu lagi. Jadilah wanita murahan," ujar Tasya.
"Apa? Wanita murahan?" Michelle membelalakkan matanya.
__ADS_1
to be continued....