
PLAKK ...
Darah keluar dari sudut bibir Nathan. Rasa perih, pedih dan panas menjalar di pipinya. Michelle sangat terkejut dengan perlakuan Pakde Kartono, kakak kandung Abahnya. Orang tua yang sangat ia dan keluarganya hormati.
"Pakde?" pekik Michelle tidak percaya dengan apa yang dilakukan pakdenya.
"Semua ini gara-gara kamu! Dasar baj*ng*n!" geram Pakde mencengkeram kerah baju Nathan.
"Maafkan saya, Pakde. Saya memang bersalah. Tapi, saya sudah berubah!" lirih Nathan menundukkan kepalanya.
"Apa kau bilang? Berubah?" murka Pakde Kartono.
BUGH ... BUGH ... BUGH
Pakde Kartono menghajar wajah dan perut Nathan. Michelle berteriak dan berusaha menghentikan aksi pakde nya.
"Pakde, cukup! Hentikan!" isak Michelle.
"Ciiiiiiihhhh! Manusia laknat sepertimu pantas mati! Jika Kau ingin mati, mati saja sendiri. Kenapa Kau membawa anakku ke lumpur durjana?"
"Dasar baj*nga*n!" umpat Pakde Kartono.
"Sudah, Yah. Cukup! Ini Rumah Sakit!" ucap Faiz berusaha untuk menghentikan sang ayah yang terus-menerus memukuli Nathan.
"Hiks ... Hiks .. Hiks!" tangis Michelle.
"Saya memang bersalah. Tapi, Saya tidak menularkan penyakit. Saya bersumpah Pakde!" lirih Nathan meringis kesakitan.
"Lalu, Kamu mau menuduh anakku yang menularkan penyakit itu!" hardiknya dengan wajah memerah.
"Ti-dak, Pakde. Saya tidak menuduh," ujar Nathan, "Saya punya buktinya,"
"Da-sar, Kau kurang ajar!" marah Pakde hendak memukul lagi.
"Maaf, Tolong jangan ada keributan! Ini Rumah Sakit!" tegur Suster yang kebetulan melintas dan mendengar keributan itu.
"Maafkan kami semua, Sus!" ucap Faiz mewakili permintaan maaf.
"Baiklah. Tolong jaga kenyamanan pengunjung lain!" tutur Suster sambil berlalu pergi.
"Baik, Sus!"
"Mas, Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Michelle dengan deraian air mata.
"Mas nggak apa-apa! Kamu tenang saja," jawabnya. Namun wajah suaminya sudah babak belur, di rumah dihajar Faiz dan sekarang ditambah oleh Pakdenya. Darah segar mengalir disudut bibir Nathan. Michelle membantu menyeka dengan ujung hijabnya.
CEKREEK ..
Umi Kalsum keluar dari ruangan suaminya setelah mendengar ribut-ribut diluar. Maniknya menoleh ke arah Nathan.
"Umi?" sapa Nathan seraya mencium punggung tangan wanita tua itu dengan takzim. Wanita itu tersenyum tipis.
"Ada apa ini?" tanyanya, "Ini kan Rumah Sakit. Kenapa harus ribut-ribut disini?" tanya Umi.
__ADS_1
"Kang, sebaiknya masalah Nathan kita bicarakan di rumah. Suami saya sedang istirahat. Lukanya juga belum mengering. Jadi, saya mohon, kalian tahan emosi kalian masing-masing!" ucap Umi menengahi.
"Umi, Bagaimana keadaan Abah?" tanya Ratna, adik kandung Michelle.
"Abah masih belum sadar. Kata Dokter sebentar lagi," terang Umi.
"Maafkan Nathan, Umi!" isak Nathan.
"Sudahlah. Kita bicarakan itu nanti. Yang terpenting, Abah sadar dulu!"
"Baiklah, Umi,"
Satu jam kemudian Abah mulai mengerjapkan mata. Dia nampak mengamati keadaan sekelilingnya. Semua keluarga berkumpul, dan tersenyum bahagia melihat Abah yang sudah sadar. Umi mendekat ke arah tempat tidur Abah. Dan menanyakan kondisinya.
"Apakah ada yang sakit, Bah?" tanya Umi sangat lembut.
"Abah masih agak pusing. Tapi, Abah tidak apa-apa," jawabnya.
"Alhamdulillah," jawab semuanya serentak.
"Umi kesini dengan siapa?"
"Kang Kartono dan Mba Salma, Bah," ujar Umi.
"Oh,"
"Sama Ratna juga, Bah," celetuk Ratna, karena namanya tidak disebut.
"Dimana Michelle?" tanya Abah. Michelle yang merasa namanya disebut, dia mendekati Abah.
"Abah. Michelle disini," sahutnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Abah.
"Michelle nggak apa-apa, Bah,"
"Abah minta, setelah Abah sembuh. Ikutlah Abah pulang ke Bogor!" suruh Abah.
"A-pa?" Michelle menengok ke arah suaminya. Suaminya menganggukkan kepalanya, memberikan kode kepada sang istri.
"Iya, Bah. Michelle akan ikut Abah pulang," jawabnya. Abah mengulas senyum tipis.
"Kang Kartono, Mbak Salma dan Faiz. Sebaiknya malam ini kalian menginap di rumah Nathan. Karena nggak mungkin kita semua tidur di Rumah Sakit!" tutur Umi.
"Nggak perlu," ketus Kartono, "Aku dan keluarga akan langsung pulang ke Bogor. Kami nggak membutuhkan tempat tinggal dari manusia laknat itu!" cerca Pakde menunjuk ke arah Nathan. Nathan hanya menghela nafasnya panjang. Dia harus bersabar, dan benar-benar bersabar.
"Aang, Kami mau langsung pulang ke Bogor. Kami tunggu Kau di Bogor. Ingat dengan janjimu!" tukas Pakde.
"Baiklah, jika Akang langsung pulang ke Bogor. Saya akan pastikan, Michelle akan pulang bersama kami!" ujarnya.
"Baiklah, Kami tunggu!" ujarnya," Kami pamit dulu!"
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Walaikumsalam,"
Setelah kepergian Pakde dan keluarganya, suasana di ruangan nampak hening. Nathan mendekat ke arah tempat tidur Abah. Dia memegang tangan Abah dan meminta maaf. Namun, Abah masih berada pada pendiriannya.
"Suruh kedua orang tuamu kesini, Nath! Dan, karena ini sudah malam. Lebih baik kamu pulang. Biar Umi, Michelle dan Ratna yang menjaga Abah disini!" ucapnya.
Michelle melihat ke arah suaminya. Dengan lembut dia menggandeng tangan suaminya.
"Mas Nathan memang akan pulang, Bah," sela Michelle, saat Nathan ingin mengemukakan pendapatnya.
"Baiklah, Nathan pergi, Bah. Besok pagi, Nathan akan membawa ayah dan ibu datang menjenguk," ujarnya.
"Hem," sahut Abah.
"Michelle antarkan Mas Nathan sampai parkiran, Bah," izin Michelle. Abah menatap tidak percaya.
"Nanti Michelle langsung balik kesini lagi," ujarnya.
"Baiklah. Tapi, ingat dengan kata-katamu sendiri!"
"Iya, Bah,"
Nathan dan istrinya keluar dari ruang rawat Abahnya. Mereka berjalan beriringan melewati koridor Rumah Sakit hingga sampai parkiran. Michelle menatap suaminya sendu. Sebisa mungkin, Michelle berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.
"Sayang?" panggil suaminya, "Jika ingin menangis, menangislah!" ujarnya. Michelle sudah tidak mampu menahan air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk mata. Dia mendekap erat tubuh itu. Seakan-akan takut, takdir akan memisahkan mereka. Untaian air mata jatuh membasahi baju suaminya.
"Katakanlah kepadaku, Mas. Apa yang harus aku lakukan?" isaknya.
"Yang harus kau dan aku lakukan adalah berdoa. Untuk saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan," tutur suaminya.
"Aku tidak mau ada perpisahan diantara kita, Mas. Aku tidak mau bercerai denganmu!"
"Aku juga, Sayang. Maka dari itu, Kita harus berdoa, agar Allah membolak-balikkan hati manusia. Aku percaya, Allah akan menguji makhluk-Nya sesuai dengan kemampuan makhluk itu sendiri,"
"Iya, Mas,"
"Sudah ya, Jangan menangis! Kita harus percaya, pertolongan Allah itu ada!"
"Astaghfirullah. Kenapa aku melupakan Allah?" ucap Michelle sambil menyeka air matanya.
"Aku pulang dulu. Besok, aku akan datang kesini lagi!"
"Iya, Mas. Hati-hati dijalan. Sematkan namaku disetiap doamu. Dan akan aku sematkan pula namamu di setiap doaku," ucap istrinya menyentuh kalbu. Nathan mencium kening sang istri dengan penuh cinta.
"Tentu saja, Sayang," jawabnya, "Masuklah ke dalam. Disini dingin. Aku akan pergi setelah melihatmu masuk ke dalam!" suruh suaminya. Michelle menganggukkan kepala. Dia pun masuk ke dalam, mematuhi perintah sang suami. Dan tentunya setelah mencium punggung tangan suaminya.
Nathan menjalankan mobil dengan perasaan gamang. Tidak hentinya Nathan menyalahkan diri sendiri. Dia merutuki semua kebodohan yang ia lakukan. Jalan satu-satunya, dia harus membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang menularkan penyakit terkutuk itu. Melainkan dirinya yang tertular.
"Ah, Sial!" Nathan memukul-mukul stir mobil, "Aku harus mendapatkan bukti. Bahwa bukan aku yang menularkan penyakit itu. Melainkan Dewi sendiri. Dan aku yakin, sebelumnya Dewi sering melakukan hubungan **** dengan banyak pria. Tapi, Bagaimana caranya aku membuktikan?"
"Aaaaaaaahhhhh," kesal Nathan menjambak rambutnya sendiri.
to be continued ....
__ADS_1