Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 87 : Bertambah Kebahagiaan


__ADS_3

Setelah dinyatakan sehat akhirnya Michelle dan Baby Agam diperbolehkan pulang oleh Dokter. Michelle begitu bahagia. Rasanya sudah bosan berhari-hari di Rumah Sakit. Michelle sudah tidak betah, ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


Semuanya sudah dipersiapkan. Nathan membantu mengemas semua barang-barang istrinya ke dalam tas besar. Sementara Umi membantu menggendong baby Agam dengan gendongan bayi.


Setelah membayar semua biaya Rumah Sakit, mereka pun menunggu mobil di lobi. Nathan sedang mengambil mobilnya di parkiran Rumah Sakit.


Hati Michelle begitu bahagia. Dia masih tidak percaya sudah menjadi seorang ibu. Sepertinya baru kemarin dia mengecek kandungan, dan hasilnya positif.


Mobil suaminya sudah siap. Mereka siap untuk pulang ke rumah. Dan mengenalkan Baby Agam pada dunia.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Nathan tidak berani jika harus melaju kencang. Dia sedang membawa istri dan bayinya di dalam mobil. Sementara mobil Abah mengekor dibelakang.


Tidak terasa, mereka sudah sampai di depan halaman rumah Pak Bara. Semua keluarga sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Mereka sangat antusias menyambut Baby Agam ditengah-tengah mereka.


Bukan hanya keluarga yang berkumpul, ternyata di rumah juga sudah ramai orang. Semua karyawan Cafe datang ikut menyambut. Bahkan mereka bekerja keras, membuat hiasan tulisan dan balon hanya untuk menyambut kedatangan Baby Agam.


"Hati-hati Sayang!" Nathan membantu istrinya turun dari mobil.


"Selamat datang!" ucap mereka serentak dan sangat ramai.


Michelle sangat bahagia mendapatkan kejutan seperti itu. Dia tertawa senang dan mengucapkan terimakasih kepada mereka semua.


Mereka berebut ingin menggendong Baby Agam. Tapi Umi melarang keras. Umi takut, Baby tampan itu terbangun dari tidur pulasnya. Semuanya tertawa geli melihat Umi ngomel-ngomel.


"Umi letakkan saja di boks bayi!" suruh Nathan.


"Sebaiknya memang di taruh di boks bayi!" ujar Umi, "Hey kalian semua! Jangan pada ribut, Agam sedang tidur! Awas saja kalau kalian membuatnya terbangun!" ujar Umi ngomel-ngomel.


Aku dan Mas Nathan terkekeh geli melihat Umi ngomel-ngomel. Sedangkan Abah menutup kuping, tidak mau mendengar omelan istrinya.


"Sudah-sudah, daripada kalian ribut-ribut! Ayo kita makan saja!" ucap Mba Retno. Menyuruh semua orang makan masakan Mba Retno.


Mba Retno sengaja meliburkan semua karyawan dan menutup cafe. Karena baginya ini adalah hari penting untuk menyambut kedatangan kami. Dia memasak dalam porsi besar, dengan dibantu Ibu, Teh Siti dan Ratna.


Mereka menggelar tikar dan karpet di teras. Memang rumah Pak Bara memiliki teras yang cukup luas, nyaman dan adem. Hingga sangat cocok untuk acara seperti ini. Ditambah banyaknya tanaman mangga membuat suasananya jadi asri.


Mereka makan bersama di teras dengan beralaskan tikar dan karpet. Saling berbincang hangat dan kekeluargaan. Michelle dan suaminya juga larut didalamnya.


____


____


Selepas mereka pulang, datang Bang Byan dengan Tasya. Michelle sangat terkejut dengan kedatangan mereka. Ada sesuatu yang lain diantara mereka, Apa ya?


"Michelle, Selamat ya! Akhirnya kau jadi seorang Ibu!" ucap Tasya memeluk sahabatnya.

__ADS_1


"Selamat ya, Elle! Akhirnya kau jadi seorang Ibu!" ucap Byan.


"Terimakasih Bang, Terima kasih Tasya! Silahkan duduk!"


Michelle mengobrol dengan Tasya, sementara Mas Nathan mengajak Bang Byan mengobrol di teras. Katanya di depan tempatnya adem.


"Terimakasih banyak! Kenapa baru menjengukku?" manyun Michelle.


"Iya, Michelle. Aku minta maaf! Sebenarnya aku ... !" suaranya terbata.


"Aku apa?" Michelle jadi penasaran.


"Satu Minggu ini, aku diajak Bang Byan ke Bogor. Aku diperkenalkan Bang Byan ke keluarganya! Berkat dorongan dan juga desakan keluarga, akhirnya kami memutuskan untuk bertunangan!" lirih Tasya.


"A-pa? Jadi kalian!" Michelle tidak percaya. Ternyata Bang Byan dan Tasya memutuskan untuk serius.


"Subhanallah! Aku seneng banget, Sya! Kamu dan Bang Byan itu sangat serasi!" gelak Michelle.


"Rencananya, kapan kalian akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi?"


"Insyaallah secepatnya! Nanti aku kasih undangan khusus buat kamu!"


"Aku seneng banget deh! Selamat ya, Sya! Kok bisa sih akhirnya kamu jatuh cinta sama Bang Byan?" tanya Michelle heran. Tasya tersipu malu menceritakan kisah cintanya dengan Byan.


"Jadi kamu sudah mengenal anaknya Bang Byan?"


"He'em. Dia gadis yang manis! Kebetulan aku suka anak kecil. Pertama Amira bertemu denganku, dia juga sudah memanggil ku dengan sebutan Mama!"


"Wah, selamat ya! Itu berarti anaknya Bang Byan menyukaimu! Aku akan selalu berdo'a, semoga rencana kalian untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah terkabul!"


"Amin."


"Oya, Ngomong-ngomong dimana keponakan ku? Aku jadi ingin menggendongnya?"


"Ada di kamar, Yuk masuk!" Michelle mengajak Tasya ke kamar, melihat Baby Agam yang tertidur pulas.


"Aduh tampannya keponakan ku! Siapa namanya?"


"Agam, Aunty!" Michelle menirukan suara anak kecil. Tasya terkekeh geli.


"Ini Aunty bawakan kado buat kamu!" Tasya menaruh paper bag besar di tempat tidur Michelle.


"Terimakasih banyak, Aunty!"


"Aku jadi iri deh! Pengen secepatnya punya Baby yang menggemaskan ini!"

__ADS_1


"Hey, kamu itu harus menikah dulu, baru punya Baby! Jangan punya Baby dulu baru nikah!" ledek Michelle.


"Ih, amit-amit! Aku nggak seperti itu ya, Beb!" manyun Tasya. Michelle tergelak.


____


____


Karena sudah sore, Bang Byan dan Tasya berpamitan. Michelle memeluk sahabatnya sekali lagi. Dia begitu bahagia mendapatkan perhatian-perhatian kecil dari sahabat dan teman-temannya.


"Jangan lupa undangannya!" sindir Michelle. Bang Byan garuk-garuk kepala. Sedangkan Tasya tersipu malu. Sementara Nathan tidak tahu apa yang mereka bahas.


Agam kembali menangis. Sepertinya dia haus. Dengan dibantu oleh Umi, Michelle berusaha menyusui anaknya.


"Aku yakin Sayang! Kamu pasti bisa!" Nathan memberikan semangat.


"Iya, Mas!" Michelle terkekeh.


ASI-nya sudah mulai keluar banyak. Awalnya Baby Agam tidak mau meminum ASI Michelle. Namun Michelle berusaha keras supaya putranya menyusu padanya, sedikit demi sedikit akhirnya Agam mau juga.


Baby kecil itu semakin menggemaskan saat sedang meminum ASI. Dia sangat menikmati sumber kehidupannya tanpa perduli dengan sekeliling.


"Jangan dihabiskan dong, Sayang! Ayah juga mau!" goda Nathan sambil memajukan bibir. Michelle mencebikkan bibirnya merasa geli dengan kata-kata sang suami.


"Kamu harus banyak makan buah dan jus, Sayang! Biar ASI mu lancar, itu anjuran dari Dokter!"


"Iya, Mas!" cicitnya, "Aku bahagia banget, akhirnya kita bisa berkumpul seperti ini! Terimakasih banyak ya, Mas! Mas selalu ada untukku!"


"Kamu ngomong apa sih? Kita kan suami istri, susah senang kita ya harus bersama!"


"Oya, tadi maksudnya apa ya? Kamu menunggu undangan apa?"


"Oh, itu! Bang Byan sama Tasya, Mas! Mereka sudah bertunangan, dan sebentar lagi mereka akan membina rumah tangga!"


"Alhamdulillah, Aku ikut senang, Sayang!"


"He'em. Nanti kita datang ke pernikahan mereka ya, Mas!"


"Insyaallah."


To be continued ....


Mana dukungannya????


Vote ...

__ADS_1


Vote ....


Vote ...


__ADS_2