Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 38 : Keyakinan


__ADS_3

Keesokkan Paginya


Setelah mengantarkan istrinya ke kantor, Nathan menemui Byan di Restaurant. Rencananya, Byan ingin mempertemukan Nathan dengan seorang teman yang akan menjual kedai rotinya. Baru sampai di parkiran, ternyata Byan sudah menunggu di depan Restaurant.


"Hey, Bro. Ayo kita langsung berangkat ke lokasi! Temenku sudah menunggu kita di sana!"


"Okey, Bang. Kita berangkat ke lokasi," jawab Nathan. Mereka ke tempat lokasi dengan menggunakan mobil masing-masing. Sekitar dua puluh menit mereka sampai di lokasi. Teman Byan melambaikan tangan menyambut kedatangan tamunya.


"Apa kabar, Bro?" sapa Byan kepada temannya.


"Baik, gue baik," jawabnya, "Apakah dia yang mau melihat toko saya?"


"Iya, Bro. Namanya Nathan. Dan Nathan ini Marco. Temen aku," ucap Byan memperkenalkan Nathan ke Marco, juga sebaliknya. Mereka saling berjabat tangan.


"Ayo kita duduk di sana!" tunjuk Marco ke salah satu tempat duduk yang kosong.


"Silahkan duduk!"


"Gimana-gimana? Apa yang bisa gue bantu?"


"Gini, Co. Si Nathan ini berencana mau buka cafe. Dan dia sedang mencari lokasi yang bagus untuk Cafenya. Dan, gue inget sama, Lu. Lu pernah nawarin toko Lu ke gua kan? Toko Lu belum dijual kan?" tanya Byan.


"Kalian beruntung banget. Toko gue memang belum laku. Jika Nathan memang tertarik, gua jual deh sama Lu, Nath!"


"Beneran, Bang?"


"Iya,"


"Masalah harganya?" tanya Nathan.


"Masalah harga bisa di nego. Lu punya berapa, bisa kasih ke gue dulu. Dan sisanya, bisa Lu cicil juga nggak masalah," ujar Marco, "Karena gue sama keluarga mau balik ke Australia. Gue mau nerusin toko roti di sana! Terpaksa toko disini gue jual saja. Nah, Lu, beruntung karena langsung bertemu sama gue. Lu, bisa beli dan langsung tempatin. Masalah pembayaran gampang lah sama gue!" gelak Marco.

__ADS_1


"Thanks ya, Bro. Tapi, Insya Allah sisanya saya cicil," ujar Nathan.


"Nyantai, Bro," kekeh Marco, "Lu, mau lihat-lihat dulu?"


"Boleh,"


"Ayo!" ajak Marco.


Toko yang cukup besar. Bisa ia jadikan sebagai cafe. Nathan tersenyum senang. Rencana membuka cafe akan segera terlaksana. Selesai pertemuannya dengan Bang Byan, Nathan meminta izin untuk pulang duluan. Dia ingin melaksanakan sholat dhuhur.


Nathan membelokkan mobilnya di sebuah Masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tadi. Dia turun dari mobil dan langsung bergegas mengambil wudhu. Melaksanakan kewajibannya yaitu sholat dhuhur berjamaah.


Setelah sholat, Nathan duduk sebentar di depan mesjid. Dia memperhatikan seorang anak kecil, mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari sakunya. Dan ia masukkan ke kotak amal. Nathan nampak mengernyitkan alisnya. Kemudian, Nathan pun mendekati anak tersebut dan duduk di sampingnya.


"Assalamu'alaikum?"


"Walaikumsalam,"


"Hey, Adek baru sholat?"


"Iya," jawabnya.


"Perkenalkan, Saya Nathan. Panggil saja Om Nathan," ucap Nathan memperkenalkan diri, "Boleh Om tahu nama kamu?" anak ini mengangguk pelan.


"Nama saya Raka, Om," jawabnya sopan.


“Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'”


"Oh .. nggak, Om, saya dikasih uang jajan sama ayah sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.” ujarnya.


“Jadi yang kamu kasih ke kotak amal tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?” tanya Nathan semakin tertarik.

__ADS_1


“Betul Om, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk bunda saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah, ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya rajin bersedekah, Om," anak SD itu berbicara dengan fasihnya. Nathan pegang bahu anak itu.


” Sejak kapan ibumu meninggal, Raka?”


“Ketika saya masih TK, Om!" tak terasa air Nathan menetes.


“Hatimu sangat mulia, Nak, ini Om ganti uang kamu!" kata Nathan sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan Raka. Tapi dengan sopan Raka menolaknya.


“Terima kasih banyak, Om. Tapi untuk keperluan Om saja. Saya masih anak kecil tidak punya tanggungan. Tapi Om masih punya tanggungan, jadi, uangnya buat Om saja!" ucap Raka membuat Nathan terharu, "Maaf, Om, Raka permisi dulu! " ucapnya. Raka menyalami tangan Nathan dan menciumnya. Seulas senyum terbit dibibir Nathan.


“Allah menjagamu, Nak!" jawab Nathan lirih.


Nathan pun beranjak dari tempat duduknya. Dia mendekati kotak amal, dan memasukkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Ya Allah. Betapa aku selama ini tidak pernah bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki. Aku memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Istri yang begitu mencintaiku, tapi, justru aku terus menyakitinya. Hamba berjanji Ya Allah, hamba akan menyayangi istri hamba dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hamba mohon jadikan keluarga hamba sakinah, mawadah dan warahmah. Amin," batin Nathan. Nathan kembali melajukan kendaraannya untuk pulang.


to be continued ..


☄️☄️☄️☄️☄️


Ayo mampir ke cerita KADARSIH


Blurb :


Kadarsih terobsesi ingin mempercantik diri dengan memakai pelet pengasihan lintrik untuk membalas semua dendam dan sakit hatinya kepada orang-orang yang sudah merendahkan, menghina, mencaci, menghujat, membully dan membunuh kedua buah hatinya. Pelet ini membuat seseorang suka dan jatuh cinta kepada pemakainya. Orang yang terkena pelet ini hidupnya akan seperti mayat hidup.


Untuk memiliki pelet tersebut, Kadarsih harus berusaha keras mengikuti ritual demi ritual dan menjadi sekutu iblis. Karena untuk memiliki ilmu lintrik, pemakainya harus memiliki mental yang kuat dan nyali yang besar.


Bagaimana kisah horor selanjutnya? Ayo ikuti kisahnya...


Jangan boomlike, baca pelan-pelan. Kasih dukungan dengan tap love, like, komentar, dan bunga.

__ADS_1


Kisah ini hanya sekedar pandangan dari penulis saja, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat atau kejadian...🙏🙏


Ayo teman-teman, bantu like, vote, rate bingung lima, dan bunganya....


__ADS_2