
Keesokan Paginya
Malam berganti pagi, mentari bersinar terang menyinari bumi. Kuncup-kuncup bunga bermekaran, seakan-akan ingin menyambut pagi yang cerah ini. Wanita berparas ayu itu, sudah bersiap-siap pergi ke kantor.
Dengan pakaian kerja warna hitam dan celana warna hitam, dipadukan dengan hijab dan sepatu warna hitam juga. Michelle terlihat begitu cantik, dan sangat mempesona. Pria manapun yang melirik, pastilah mereka ingin menjadikan Michelle sebagai kekasih hati.
Michelle sudah bersiap untuk mengais rezeki. Bukan karena Nathan tidak memberikannya nafkah, namun Michelle memang sosok wanita yang mandiri. Dia tetap mencari rezeki, selama dirinya mampu.
"Michie?" panggil Nathan yang baru keluar dari kamar.
"Iya, Mas," jawabnya.
"Kamu mau berangkat kerja?"
"Iya, aku akan berangkat kerja. Ada apa?" ketusnya.
"Apakah kamu sudah menyiapkan sarapan?"
"Sudah. Sarapannya sudah aku siapkan!" jawabnya.
"Bagus. Kamu bisa pergi sekarang!"
"Okey,"
"Tunggu!" Nathan menahan kepergian istrinya. Dia melihat dandanan istrinya begitu berbeda. Dia sangat cantik, bahkan lebih cantik dari sebelumnya.
"Ada apa lagi sih, Mas? Nanti aku terlambat!" kesalnya.
"Jam berapa kamu pulang?" Michelle menoleh ke arah suaminya.
"Apa peduli kamu, Mas?"
"Tentu saja aku perduli. Aku masih suami kamu!" jawabnya.
"Suami? Jika memang kamu suamiku, pasti kamu nggak akan tega menyakitiku kan?" cebik Michelle.
"Apa sih maksud kamu?"
"Sudahlah, Mas. Aku sudah capek!" ujarnya. Michelle berlalu pergi meninggalkan suaminya yang masih berdiri terpaku di sana.
Dia memanaskan mesin mobilnya, kemudian melajukan kendaraannya tanpa berpamitan kepada sang suami.
"Kenapa sih dia? Apakah dia marah gara-gara tadi malam aku mabuk? Ah, sudahlah, sebaiknya aku mandi!"
__ADS_1
Nathan pun memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Selesai mandi dia berkaca di depan cermin, dia baru menyadari banyak terdapat ruam-ruam kemerahan di sekujur tubuh.
"Ish, pasti ini gara-gara Dewi!" Nathan berusaha untuk menghapus bekas tato yang dibuat oleh Dewi, namun tato itu tidak mau hilang.
🍀🍀🍀🍀🍀
Jam makan siang, Nathan memutuskan untuk makan diluar. Dia mengajak Dewi makan siang bersama. Tapi, Dewi tidak bisa karena ada pemotretan di kota Bogor. Terpaksa Nathan harus menikmati makan siangnya sendiri.
Dia melangkahkan kakinya masuk ke sebuah Restaurant ternama. Dia duduk di sudut ruangan, dekat dengan jendela besar, memandang ke arah jalan raya.
Seorang pelayan datang dan memberikan buku menu kepada Nathan. Nathan memesan nasi goreng seafood dan lemon tea sebagai makan siangnya.
Beberapa menit kemudian, nasi goreng seafood dan satu gelas lemon tea tersaji di meja makan. Tanpa menunggu waktu lama, ia menyantap nasi gorengnya dengan lahap. Seketika maniknya menatap sosok sang istri sedang mengobrol dengan seorang pria. Entah siapa pria tersebut, Nathan menatapnya tidak suka.
Nampak terlihat jelas, mereka sedang mengobrol santai sambil menikmati makan siang, kemudian tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, Nathan tidak tahu. Tiba-tiba saja nafsu makannya menghilang.
Dia meremas sendok yang ada ditangannya dan menjatuhkannya ke piring. Terdengar bunyi nyaring yang memekikkan telinga. Tentu saja pengunjung yang paling dekat merasa kaget dibuatnya. Namun Nathan tidak memperdulikannya.
Michelle sedang asyik mengobrol, sejurus maniknya menatap seseorang yang sangat ia kenal, di ujung meja lurus dengan meja tempatnya makan. Dia melihat Nathan makan siang di Restaurant yang sama dengan dirinya. Manik suaminya tidak berhenti untuk menatap, memberikan tatapan tidak suka. Namun, Michelle berpura-pura tidak melihat.
Setelah membayar bill, Nathan pergi dari sana. Dia berjalan dan tidak berhenti menatap sang istri. Nathan tidak memperhatikan jalan, ia menabrak dinding yang berada didepannya.
"Auw, Sial!" pekiknya sambil mengelus dahinya. Pengunjung yang melihat kejadian tersebut tertawa. Termasuk Michelle, dia tersenyum tertahan. Namun dia tetap saja cuek dan pura-pura tidak tahu.
🍀🍀🍀🍀🍀
Michelle mengucapkan terima kasih karena sudah ditraktir makan siang di Restaurant mewah.
"Bang Byan, terima kasih banyak atas traktirannya!" ucap Michelle.
"Iya, Elle. Aku senang bisa mentraktirmu. Datanglah kesini jika ada waktu!" ucapnya.
"Ah, nggak mau. Nanti jika setiap hari aku datang ke Restaurant mu, kau bisa rugi, Bang!" ucap Michelle terkekeh geli.
"Siapa bilang? Aku tidak akan rugi, walaupun setiap hari kamu makan disini! Aku justru sangat bahagia setiap hari kau datang kemari!" ucap Byan.
Fabyan adalah tetangga Michelle dikampung halaman, dia merantau di Kota J mencari peruntungan di kota besar ini. Dia membuka Restaurant dikota J. Awalnya masih skala kecil, namun karena kegigihan dan keuletannya, dia menjadi seorang pengusaha Restaurant terkenal di Kota ini. Dia juga sudah membuka cabang baru di beberapa kota.
Michelle tidak tahu bahwa pemilik Restaurant tersebut adalah teman sekampungnya dulu. Saat dia makan siang di sana, tiba-tiba saja Fabyan memanggil namanya. Sontak Michelle terkejut dan juga senang bisa berjumpa dengan teman sekampung.
"Sekarang kau bekerja di mana?" tanya Fabyan.
"Aku bekerja di PT Nusantara Surya, Bang, sebagai sekretaris," jawabnya.
"Wah, hebat kamu. Kamu sekretaris di Perusahaan besar. Aku salut sama kamu, Elle!" ucap Byan. Hanya Byan yang memanggil Michelle dengan panggilan Elle.
__ADS_1
"Ah, kamu juga hebat, Bang. Nyatanya kamu seorang pemilik Restaurant besar di Kota J. Padahal, untuk menjadi seorang yang sukses di kota besar ini, kita harus bersaing dengan banyak pengusaha Restaurant yang lain lho!"
"Ha .... Ha .... Ha."
"Aku cuma pengusaha kecil, Elle. Aku hanya remahan rengginang!" ujar Byan.
"Bang Byan suka merendah," kekeh Michelle.
"Kapan-kapan ajaklah suamimu kesini!" ucap Byan tiba-tiba. Michelle terdiam sejenak.
"Ada apa, Elle? Pernikahan mu baik-baik saja kan?"
"Eh, iya, aku baik-baik saja," jawab Michelle, "Aku dengar, kau juga sudah menikah, Bang?"
"Ha ... Ha ... Ha." tawanya renyah.
"Iya, aku sudah menikah, tapi, aku juga sudah bercerai," ucapnya.
"Lho kenapa?"
"Aku hanyalah anak orang miskin, Elle. Keluarga mantan istriku orang kaya. Kedua orangtuanya tidak menyetujui pernikahan kami. Dan mantan istri ku lebih memilih kedua orang tuanya. Dia tidak siap hidup miskin denganku. Dan akhirnya kami berpisah," jelas Byan.
"Maaf, Bang. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalumu!" jawab Michelle.
"Tidak apa-apa. Aku senang bisa berbagi denganmu. Dengan begitu beban ku sedikit berkurang," jawabnya. Michelle tersenyum manis.
"Baiklah, Bang. Jam makan siangku sudah hampir selesai. Aku pamit ya, Bang!"
"Oh, baiklah. Oya, boleh aku minta nomor ponselmu? Jadi kalau ada apa-apa aku bisa menghubungimu!"
"Ehm, boleh. Sini ponsel Abang!" Michelle mengetik nomornya di kontak telepon milik Fabyan.
"Itu nomorku, Bang!"
"Baiklah, terima kasih banyak!"
"Aku pamit ya, Bang!"
"Baiklah. Sering-seringlah mampir kesini!"
"Baik, Bang!"
Michelle pun harus kembali ke kantor karena jam makan siang sudah usai. Biasanya, dia akan makan siang bersama Tasya. Namun kali ini, Tasya tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Tasya sedang dikejar target pengiriman barang. Dan Tasya bertanggung jawab penuh atas kepemimpinannya sebagai seorang manager marketing.
to be continued.....
__ADS_1