Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 19 : Penyesalan Nathan


__ADS_3

Michelle bisa bernafas lega setelah mengetahui hasil tesnya negatif. Namun dia masih belum tenang, sebelum mendengar penjelasan langsung dari suaminya yang masih terpejam di tempat tidur. Mungkin efek obat yang disuntikkan Dokter ke tubuhnya.


Sembari menunggu suaminya siuman, Michelle mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, sholat subuh dua rakaat. Dia menangis sedih di atas sajadahnya dengan linangan air mata. Dia bingung harus berbuat apa. Dilain sisi dia merasa tidak tega meninggalkan suaminya begitu saja, di sisi lainnya hatinya masih merasa sakit dan hancur.


Sayup-sayup Nathan mendengar suara seseorang melantunkan ayat suci Al-Quran. Suaranya sangat merdu mendayu-dayu. Dia mengerjapkan matanya, dan mencari suara merdu tersebut. Ternyata itu adalah suara indah istrinya.


"Michie!" panggilnya terbata. Michelle yang mengetahui Nathan sudah terbangun, dia mendekati tempat tidur suaminya.


"Apakah Mas membutuhkan sesuatu?" tanya Michie.


"Minum," pintanya.


"Minum?" Michie langsung mengambil air mineral yang berada di atas nakas. Dia membantu Nathan untuk duduk, dan meminum airnya.


Glek ... Glek ... Glek


Satu gelas air putih tandas tidak tersisa. Michelle kembali meletakkan gelas tersebut di atas nakas.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu, Mas? Apakah jauh lebih baik?" tanya Michelle. Nathan mengangguk pelan.


"Terima kasih banyak," ucapnya lirih namun masih bisa terdengar di telinga Michie.


"Kamu harus fokus untuk kesembuhan kamu dulu, Mas," ujar istrinya. Seketika Nathan menundukkan kepalanya karena merasa sangat malu.


"Maafkan aku," ujarnya lirih. Michelle menghela nafasnya panjang.


"Bagaimana bisa kamu terjangkit penyakit itu, Mas?" tanya Michelle. Nathan menundukkan kepalanya. Dia benar-benar tidak berani menatap istrinya. Rasa malu yang luar biasa, yang sekarang dia rasakan.


"Ini semua karena Dewi," jawab suaminya lirih. Sontak Michelle terkejut.


"Aku bersumpah, aku hanya melakukannya dengan Dewi," terangnya. Michelle melangkah mundur. Sakit, itulah yang sekarang dia rasakan. Apakah ini adalah sebuah karma yang diberikan Allah untuk mereka? pikir Michelle.


"Jadi, Dewi juga ...?"


"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Aku benar-benar menyesal. Aku mohon maafkan aku. Aku bersalah, aku sangat bersalah. Sekarang aku menerima karmaku," isaknya sedih, "Jika memang kau akan pergi dari hidupku, Aku siap, aku ikhlas, aku akan membebaskanmu," ujarnya dengan linangan air mata.

__ADS_1


Perih, sedih, sesak dan kebimbangan itulah yang sekarang Michelle rasakan. Bagaimana tidak, pernikahan yang hampir lima tahun ia jalani dengan sang suami, sekarang sedang diujung tanduk. Michelle bingung harus menjawab apa, dia hanya terdiam melihat Nathan menyesali perbuatannya.


"Berhentilah menyalahkan diri sendiri, Mas. Percuma saja kamu menyalahkan diri sendiri. Semuanya juga sudah terjadi. Yang terpenting kamu harus bertaubat, Mas. Mohon ampun kepada Allah. Karena perbuatan zina di dalam agama tidak dibenarkan!" tutur Michelle.


"Maafkan, Aku. Aku memang bersalah. Aku berdosa. Maukah kau mengajariku!" pinta Nathan.


"Aku bukanlah ustadzah. Aku juga sedang proses belajar. Kalau kamu mau, aku bisa mendatangkan seseorang untuk kamu sharing!" ucap Michelle.


"Iya, aku mau," jawab Nathan, "Aku ingin berubah. Aku ingin bertaubat. Aku menyesalinya, Michie," isaknya lagi. Michelle menghela nafasnya berat.


Sudah tiga hari berlalu, Nathan di Rumah Sakit. Michelle terpaksa harus ambil cuti, karena tidak mungkin juga dia membiarkan suaminya sendiri di Rumah Sakit.


Semua keperluan suaminya ia yang menyiapkan. Dari makan, minum obat, sampai pergi ke kamar mandi. Michie juga membantu suaminya untuk membersihkan tubuh dan mengganti bajunya.


"Terima kasih banyak," ucap Nathan lagi.


"Sama-sama. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri," jawab Michelle tersenyum manis, "Oya, Mas. Nanti sore, salah satu temanku akan datang. Semoga dengan kedatangannya, hatimu bisa lebih terbuka dan bisa mengambil pelajarannya," tutur Michelle.

__ADS_1


"Baiklah, nanti mas coba ya," jawab Nathan lebih lembut. Michelle hanya mengulas senyum.


to be continued....


__ADS_2