
"Ini juga salah satu kesalahan Abah. Dulu, Abah lah yang sudah menjodohkan kalian. Abah juga merasa bersalah, Nath," ujar Abah, "Sebelum kalian ada momongan, Abah minta ceraikan dia!"
"A-pa?" kaget Nathan.
"Tamu tidak akan masuk jika tuan rumahnya tidak membukakan pintu. Tapi, kamu sudah membuka pintu rumah selebar-lebarnya agar orang ke-tiga masuk ke dalamnya," tutur Abah, "Di dalam pernikahan dibutuhkan cinta dan iman. Dua hal itu akan menjadi stimulasi, agar rumah tangga tidak retak," tutur Abah.
"Iya, Bah. Nathan mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan seorang suami kepada istrinya yang sangat tersakiti," lirih Nathan.
Sedih, kecewa dan menyesal berkecamuk di dalam hati Nathan. Andai waktu bisa diulang kembali. Andai dia tidak bertemu Dewi, andai dia bisa menahan nafsunya saat itu. Semua asal permasalahan bersumber pada dirinya sendiri. Jika dia bisa menahan itu semua.
Akankah Allah mengampuni semua dosanya?
Akankah Allah mengasihani dan menolongnya?
Nathan hanya membuang nafasnya kasar. Menimbang-nimbang semua perkataan Abah mertuanya.
"Baiklah, Bah. Nanti Nathan akan mengurus semuanya," lirih Nathan lagi.
"Tidak perlu. Abah sudah mengurus semuanya. Kamu tunggu disini!" ucap Abah. Abah masuk ke dalam dan mengambil sesuatu. Dan dia keluar dengan membawa secarik kertas.
"Abah sudah mengurusnya. Kau tanda tangani saja disini!" suruh Abah.
"Astaghfirullah," ucap Nathan, "Apakah Abah sudah merencanakan ini jauh hari? Bahkan beliau sudah mempersiapkan semuanya. Sebegitu kecewakah Abah denganku," ucap Nathan dalam hati.
"Baiklah, Bah. Nathan akan menandatangani surat perceraian itu," sedih Nathan. Sebisa mungkin dia menahan diri supaya air matanya tidak menetes.
Nathan menandatangani surat perceraian itu di depan ayah mertuanya. Sedih? itulah sekarang yang dia rasakan. Ingin sekali hatinya menjerit, namun dia seorang laki-laki. Pantaskah dia menangis di depan manusia dan mengakui kesalahannya.
"Nathan sudah menandatanganinya, Bah. Sekarang Michelle sudah bukan istri Nathan lagi," ujar Nathan, "Maafkan Nathan, Bah. Sudah membuat Abah dan keluarga kecewa. Nathan bersyukur mengenal Michelle. Dia yang Nathan sakiti, dan dia pula yang merubah Nathan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Mengajari Nathan mengenal Allah. Dan memberikan Nathan semangat untuk belajar ilmu agama. Nathan akan berdoa untuk kebahagiaannya. Dan semoga Abah dan keluarga memaafkan atas semua kesalahan Nathan," ucap Nathan tidak mampu menahan air matanya lagi.
"Iya, Nak,"
"Nathan pulang, Bah. Salam buat Umi dan semua," ucap Nathan menyalami punggung tangan mertuanya dengan takzim. Mungkin hari ini adalah hari terakhir dia menyalami mertuanya.
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam," jawab Abah.
Nathan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Abah dengan perasaan yang hancur. Sebagai seorang laki-laki dan suami, dia tidak mampu untuk memperjuangkan rumah tangganya. Dia merasa menjadi pria dan suami yang tidak berguna.
Ya Allah, aku gagal menjadi suami? batinnya tidak berhenti menyalahkan kegagalannya.
Tidak sengaja Mobil Nathan berhenti di depan Masjid agung Bogor. Dia pun memarkirkan mobilnya, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat taubat dengan khusyuk.
'Ya Allah, hamba meminta pengampunan. Engkau adalah Tuhan Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepada- Mu, Ya Allah.'
'Ampuni semua dosa dan kesalahan hamba, Ya Allah. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kami semua.'
Dengan deraian air mata, Nathan memohon kepada Allah. Dia sadar, mungkin keputusannya adalah jalan terbaik untuk pernikahannya. Dan terbaik untuk kebahagiaan dan ketenangan seluruh keluarga.
Selesai berdo'a, dia pun melanjutkan perjalanannya untuk kembali pulang. Dia pasrahkan segala-galanya kepada Sang Maha Pencipta, Maha Kuasa atas semuanya.
Michelle menatap jalanan yang macet. Entah kenapa, dia membayangkan suaminya sudah datang ke Bogor untuk menjemputnya. Dan mengajaknya pulang ke rumah. Iya, Michelle sangat merindukan rumahnya.
"Mas, Kamu sedang apa? Apakah kamu tidak merindukan ku? Aku sangat merindukanmu," batin Michelle.
Bibir Michelle tersungging senyum, menatap ke arah luar jendela mobil. Dia merasakan kalau suaminya ada di Bogor. Dan sedang merindukannya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil Nathan tidak berhenti berdoa. Dia berharap bisa bertemu istrinya untuk yang terakhir kali. Keduanya seperti saling dapat merasakan satu sama lain.
to be continued ...
Ayo baca karya author yg lain,, OM I LOVE YOU
Bab 14:
"Biarkan putraku yang menggantikan!" ucap Oma tiba-tiba, membuat yang mendengarnya kaget bukan kepalang.
"Di surat itu,Yuda bilang! dia tidak sempat menyentuh mahkota putrimu kan?"
"Jadi aku yakin! Yuda tidak menyentuhnya!"
"Kenapa Anda bisa percaya dengan perkataan, ba*******n itu?" tanya papa.
"Aku tidak yakin! tapi aku yakin putri mu tidak akan berbohong!"
"Tanyakan padanya? Apakah Yuda melakukannya atau tidak!"
"Bila jawabannya tidak! Aku akan menyuruh putraku Alan untuk menikahinya!" tegas Oma Sarah.
"Baiklah, Aku akan bertanya!" Roger dan istrinya segera menemui Zee, dan bertanya langsung kepada Zee.
Sedangkan Alan, menatap sedih mamanya.
Alan mengerti, kenapa mama sampai melakukan hal itu.
Dia sudah cukup mendengar lontaran kata-kata kasar yang di tujukan pada keluarganya.
"Mama, percayakan kepada ku!"
"Zee?" panggil papa.
Papa menjelaskan masalah surat itu , Zee nampak terpukul dan sedih.
"Sekarang papa tanya! Apakah Yuda sempat melakukan hubungan itu kepada mu?" papa menatap tajam, meminta kepastian kepada Zee.
"Sumpah demi Allah, Pah!"
"Meskipun bibir dan tubuh Zee tidak suci, tapi mahkota Zee masih utuh! Zee masih menjaga mahkota Zee dengan baik!" papa memeluk putri nya dengan sayang, papa mencium kening Zee dengan deraian air mata.
"Untuk menyelamatkan pernikahan ini, menikahlah dengan Om nya Yuda!" ucap papa.
JEDERRR
Zee sangat tidak percaya ,papa menyuruh Zee menikahi om-om.
Hatinya sangat terpukul, apakah untuk menyelamatkan kehormatan keluarga, Zee harus menikah dengan Om-om.
"Pa, Zee tidak mau menikah dengan om-om?" rengek Zee.
"Papa terpaksa, Nak?"
"Hiks.... hiks.... hiks!" tangis papa.
"Papa sudah tua!"
__ADS_1
"Papa ingin melihatmu bahagia!" Zee benar-benar tidak tega melihat papa yang sangat di sayangi nya harus menangis dan bersedih memikirkan nasib dirinya.
"Baiklah, Pa! Zee bersedia!"
"Semoga Zee bisa menjalani pernikahan tanpa cinta ini!" sedih Zee.
"Apakah om itu bersedia menikah dengan Zee?" tanya Zee tiba-tiba.
"Merekalah yang merencanakan ini semua!" jawab papa.
"Baiklah, Pa!" jawab Zee.
Zee keluar dari ruangan make up, berjalan beriringan dengan sang papa. Zee terlihat sangat cantik dan mempesona, mata laki-laki yang memandang pasti akan langsung bertekuk lutut padanya, termasuk Alan sendiri.
Semua tamu undangan yang melihat, sangat terkagum-kagum dengan kecantikan pengantin wanita. Tidak berhenti mereka memuji dan menghibah.
Termasuk Oma Sarah, dia merasa terkejut dengan calon mempelai wanita, karena dia sepertinya mengenal wanita tersebut.
Alan yang langsung berganti baju, menggunakan baju pengantin yang sebelumnya akan dipakai oleh Yuda, duduk persis di depan penghulu.
Zee duduk di sebelah mempelai pria, tanpa menoleh seperti apa rupa mempelai pria.
"Kalian siap?" pak penghulu bertanya kepada kedua calon mempelai.
"Siap!" jawabnya.
Zee nampak diam saja, banyak berjuta pertanyaan di dalam benaknya. Papa menyenggol lengan Zee, dan berbisik kepada Zee.
"Jawab pertanyaan pak penghulu!" bisik papa.
"Siap!" jawab Zee malas.
Pak penghulu menjabat tangan Alan, dan membacakan janji suci pernikahan.
"Saya terima nikahnya, Zevanya Putri Sabila binti Roger Aghar dengan mas kawin emas seberat 500 gram dan peralatan sholat di bayar tunai !" Alan mengucapkan ijab qobul dengan suara yang lantang dan mantap.
"SAH!!!"
"SAH!!!" semua bertepuk tangan meriah, merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh kedua keluarga.
Alan menyematkan cincin pernikahan, di jari manis Zee. Cincin yang di berikan mama sebelum acara dimulai, Alan tidak sempat membeli cincin, karena dia tidak tahu kalau hari ini menjadi hari pernikahannya.
Alan bersyukur, karena cincin pemberian mama pas di jari Zee.
Masih menundukkan pandangan matanya, Zee mencium tangan suaminya dengan takzim. Tanda bakti pertama istri kepada suaminya.
Selesai acara ijab qobul, mereka duduk di kursi pengantin. Semua orang memberikan selamat kepada kedua pengantin. Terakhir pengantin sungkem kepada kedua orang tua masing-masing.
Pertama sungkem kepada orang tua mempelai wanita, Alan dan Zee mencium punggung tangan papa dan mama. Mama sangat terharu, karena anak gadisnya sekarang di miliki seseorang. Mama mencium Zee dengan sayang.
"Jangan menangis di hari bahagia ini!"
"Mama selalu mendoakan kau akan lebih bahagia dengan Alan!" do'a mama.
"Makasih, Ma!" jawab Zee.
Alan juga mencium punggung tangan mertuanya, meskipun tadi Alan sempat tidak suka dengan sikap papa Zee, namun dia mengerti kalau papa Zee berbuat demikian karena sangat menyayangi putrinya.
__ADS_1
Bergantian mereka melakukan sungkeman kepada orang tua mempelai pria. Mama Alan memeluk Zee dengan sayang .
"Masih ingat,Tante?" Zee nampak berpikir.