
Burhan dan istrinya duduk santai di teras menemani Vano bermain. Sesekali anak itu begitu bergembira dengan mainan robot-robotannya yang ia dapatkan dari Kakek dan neneknya. Tentu Kakek dan neneknya tersenyum senang.
Sementara Indah sedari pagi dia sudah berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk mencari pekerjaan. Bagaimanapun dia harus mencari penghasilan sendiri, mengingat dia sebentar lagi akan menyandang status janda. Dan harus menghidupi Vano.
"Bu, Bagaimana Nathan menurut Ibu?" tanya Burhan pada istrinya.
"Maksud, Ayah?" Istrinya menatap lekat manik suaminya.
"Dulu, Nathan sangat dekat dengan keluarga kita. Bahkan dia sudah Ayah anggap seperti anak sendiri. Sepertinya setelah Indah bercerai dengan suaminya, Ayah ingin Nathan yang menjadi menantu kita!" ucap Burhan.
"Ih, Ayah, memangnya Nak Nathan mau menikahi putri kita? Secara Indah kan sudah janda, punya dua anak lagi!" ujar istrinya, "Kita kan juga nggak tahu, apakah Nathan sudah menikah apa belum!"
"Iya juga sih! Tapi sudah menikah pun menurut Ayah nggak apa-apa kan? Nggak ada salahnya juga!"
"Itu sih menurut ayah! Lagian ya, Yah. Di dunia ini nggak ada seorangpun wanita yang mau di madu! Dijadikan yang kedua!"
"Iya, Ayah hanya bisa berdoa, Semoga dia belum punya istri!" ujar Burhan.
"Oya, Yah, dilihat dari penampilan, sepertinya kehidupan Nathan sudah berubah ya, Yah!"
"Iya, Bu. Ayah kemarin lihat dia membawa mobil mewah," ucap Burhan, "Ayah nggak nyangka kalau Nathan yang kita kenal menjadi seorang yang sukses!"
"Beruntungnya jika putri kita menjadi istrinya!"
"Karena itu, Bu! Ayah ingin dia menjadi menantu kita. Ayah yakin kok, Nathan masih memiliki perasaan dengan Indah."
"Iya, Yah!"
____
____
Indah menyeka keringatnya, dia duduk bersandar di kursi taman. Sudah beberapa tempat dia melamar pekerjaan, namun belum juga dia mendapatkannya.
Hufftttt ...
"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan?" gumamnya lirih.
Setelah rasa lelahnya hilang, dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
°°°°°
Michelle menyusul ke Cafe suaminya dengan menggendong Agam. Semua karyawan menyambutnya dengan ramah, karena memang mereka sudah mengenal baik istri dari bos mereka. Michelle juga tidak kalah ramahnya menyapa mereka.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam," Nathan sedikit terkejut dengan kedatangan istrinya, "Sayang!"
"Mas, Aku ganggu ya!" sepertinya sang suami sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Iya, nggak lah. Masa ganggu!" kekeh suaminya, "Hey, anak ayah. Tambah gembul aja sih pipinya!" Nathan menoel pipi putranya.
"Mas sedang sibuk?"
"Nggak juga sih, Mas lagi memeriksa pembukuan Cafe!"
"Oh," Michelle tersenyum.
"Naik apa kesini?"
"Taksi,"
"Harusnya tadi nelfon, Mas kan bisa menjemput kamu!"
"Nggak usah, Mas! Michie tahu kalau jam segini pasti sibuk!"
"Iya sudah, aku selesaikan pekerjaanku dulu ya! Nanti kita makan siang bareng!"
"Oke, aku dan Agam tunggu sini!"
_____
_____
Jam makan siang telah tiba. Sedari tadi Agam sudah nggak anteng, dia agak rewel. Michelle bingung, karena nggak biasanya Agam seperti itu.
"Cup, cup, cup! Diem dong, Sayang! Kamu mau ***** ya!" ucap Michelle sambil memberikan sumber kehidupan untuk putranya.
"Nggak tahu nih, Mas. Tiba-tiba nangis!" jawab Michelle.
"Iya sudah, Ayah cuci tangan dulu. Nanti kita pulang ya!"
Setelah mencuci tangannya, Nathan langsung menggendong putranya. Seketika Agam langsung terdiam. Michelle jadi heran.
"Oh, sepertinya dia kangen sama kamu, Mas!"
"Masa sih? Padahal setiap hari kan bertemu di rumah!" gelak Nathan.
"Oh, anak ayah yang ganteng. Anak ayah gembul. Kamu kangen ya sama Ayah!" Nathan menciumi pipi gembul putranya.
"Kita makan siang di sini saja, Mas!" tawar istrinya.
"Yakin mau makan siang disini?"
"Lho, kenapa? Makanan disini juga enak-enak!"
"Iya, sudah aku pesankan makanan kesukaan kamu!"
"Terimakasih, Mas!"
__ADS_1
Nathan keluar ruangan untuk memesan makanan pada karyawannya.
Sementara itu, di dalam ruangan suaminya, ponsel Nathan terus berdering. Sudah tiga kali ponsel itu berdering.
Michelle menoleh ke arah ponsel suaminya. Nama Pak Burhan yang tertera di layar ponsel suaminya. Dia bingung antara ingin mengangkatnya atau dia biarkan begitu saja. Tapi orang dengan nama Burhan itu terus menelfon, mungkin penting, pikir Michelle.
"Assalamualaikum!" Michelle memutuskan untuk menerima panggilannya. Tapi setelah diangkat ternyata sudah mati.
"Kok mati!"
"Siapa, Sayang?" tanya suaminya baru masuk ke dalam ruangan membawa makanan untuk istrinya.
"Pak Burhan," jawab Michelle.
"Pak Burhan!" Nathan mengernyitkan alisnya, "Mau apa dia?" Michelle mengedikkan bahunya, karena memang dia tidak sempat berbicara sudah mati.
"Iya sudah, nanti aku telfon balik!" ujar suaminya, "Nih aku bawa makanan kesukaan kamu, Sayang!"
"Asyik,"
Dua porsi ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan nya, cah jamur tiram, dan lauk lainnya, sekaligus dua lemon tea sudah tersaji di meja makan. Dan suaminya yang menyiapkannya.
"Ayo kita makan! Letakkan Agam di sofa mumpung dia anteng!"
"Iya, Mas!"
Mereka pun menikmati makan siangnya dengan lahap. Nathan sangat memperhatikan kebutuhan sang istri. Dari pola makannya setiap hari, hingga susu Ibu menyusui sebagai penunjang ASI.
Nathan menyuruh sang istri untuk makan sayur dan buah-buahan. Karena itu sangat bagus untuk vitamin sang buah hatinya.
"Gimana? Enak?"
"Enak banget, Mas! Chef-nya memang pinter banget buat ayam bakar seenak ini!"
"Bagus kalau kamu suka. Ayam bakar ini menjadi favorit di Cafe kita!"
"Wow, hebatnya!"
"Setelah dua Cafe kita sukses, aku juga ingin membuka showroom mobil, Sayang! Bagaimana menurut kamu?"
"Michie sih cuma bisa berdo'a, semoga suami Michie sukses, dan yang paling penting tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang muslim! Biasanya orang semakin sukses itu lalai dengan akhiratnya, karena dia terus mengejar duniawinya saja!"
"Insyaallah, Mas nggak kayak gitu!"
"Alhamdulillah,"
To be continued ...
Maaf kamarin ada sedikit kendala pada sistem, jadi ke upgrade dari sistemnya dua kali.
__ADS_1
Mohon maaf atas ketidak nyamanannya....🙏