Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 85 : Melewati Masa Kritis


__ADS_3

Dewi merasa ketakutan saat dirinya sudah berada di kantor polisi. Mungkin nasibnya kali ini akan berakhir dipenjara. Apalagi bukti sudah jelas ada ditangan polisi. Dia tidak bisa mengelak ataupun menyangkal perbuatannya.


Tidak ada yang bisa dia salahkan. Memang apa yang terjadi adalah kesalahannya sendiri. Perbuatannya sudah termasuk perbuatan kriminal. Dia sadar itu. Namun karena rasa benci dan iri yang sudah menutupi hatinya, dia bersikeras melakukan tindakan tersebut.


Sekarang penjara adalah rumah barunya. Dewi harus menghabiskan waktu di balik jeruji. Demi untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.


Dewi memejamkan mata. Dia membayangkan bagaimana nasibnya jika selama berbulan-bulan dia tidur di lantai hanya beralaskan tikar, dengan udara yang dingin.


"Hey, Bangun!" kata salah seorang tahanan wanita menendang kaki Dewi.


"Ada apa?"


"Ini adalah tempat kami! Pindah sana!" ujar wanita bertubuh besar itu.


"Aku rasa semua orang berhak tidur dimana saja!"


"Memang. Tapi nggak buat kamu! Sekarang pindah!"


"Kalau aku nggak mau, Kamu mau apa?" Dewi menantang tahanan bertubuh besar itu.


"Oh, berani ya! Rasakan ini!" aksi jambak menjambak pun terjadi. Mereka bertiga melawan Dewi yang hanya seorang diri.


Dewi yang kalah jumlah akhirnya jatuh tersungkur dengan rambut yang acak-acakan. Entah berapa rambut yang terlepas paksa dari akarnya.


Dua polisi memisahkan mereka. Sementara Dewi terjatuh disertai dengan sesak nafas. Bergegas mereka membawa Dewi ke ruangan medis.


Seorang Dokter memeriksa keadaan Dewi selama satu jam. Memeriksa kondisi pasien lebih teliti lagi. Takutnya bukan hanya sesak nafas, tapi ada luka memar di tubuh pasien.


Dokter tidak menemukan luka memar ataupun lebam. Dokter justru menemukan banyak ruam di seluruh tubuh pasiennya.


"Apakah Anda sedang sakit?" tanya Dokter memastikan.


"Iya, Dokter! Saya mengidap HIV!" uvao Dewi terbata.


"A-pa?" Dokter nampak terkejut, "Sudah berapa lama?"


"Satu tahun lebih, Dok!"


"Apakah Anda rutin mengonsumsi ARV?"


...Antiretroviral (ARV) merupakan bagian dari pengobatan HIV dan AIDS untuk mengurangi penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV....


"Satu bulan ini saya tidak mengonsumsinya, Dok!" lirih Dewi.

__ADS_1


"Kenapa?" Dokter sedikit terkejut, "Anda sudah tahu kan, kalau penyakit mematikan itu tidak ada obat untuk menyembuhkannya! Justru dari Anda sendiri yang harus menjaga kondisi tubuh Anda! Melewatkan konsumsi obat dalam jangka waktu lama akan membuat virus HIV berkembang lebih cepat dan memperburuk kondisi Anda sendiri! Sekarang hasilnya bisa Anda rasakan sendiri kan?"


"Iya, Dok. Sekarang apa yang harus saya lakukan? Badan saya terasa lemah, Dok!"


"Untuk sementara ini Anda disini dulu! Saya akan membicarakan masalah ini dengan Kepala Polisi! Semoga saja Anda bisa dirujuk ke Rumah Sakit besar! Untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif!"


"Terimakasih banyak, Dok!"


°°°°°°


Michelle berhasil melewati masa kritisnya. Secara perlahan dia mulai membuka matanya. Dia mengerjapkan mata, mengingat apa yang terjadi hingga dia sampai masuk ke Rumah Sakit.


Kemudian dia meraba perutnya sendiri yang terasa kempes. Suster melihat keadaan pasien mulai tidak tenang, ia berusaha untuk memanggil Dokter. Beberapa detik kemudian seorang Dokter datang untuk memeriksa kondisi pasien, karena Michelle sedikit mengalami depresi ringan.


Dokter berusaha untuk menyadarkan pasien. Memberikan ketenangan bagi pasien, membuatnya sedikit rileks, dan menghindari ketegangan dalam berpikir.


"Dimana anak saya?" tanya Michelle yang merasa ketakutan kalau anaknya diambil oleh Dewi.


"Tenang ya, Bu! Anak Ibu aman kok! Sekarang malah sedang bersama ayahnya!"


"Ayah? Ayah siapa?" Michelle terlihat panik lagi.


"Kalau Ibu tenang, nanti saya panggilkan suaminya!"


"Sayang?" suara Nathan sedikit menenangkan hati Michelle. Suara yang dirindukannya selama ini, memanggil dirinya. Mimpikah dia? Atau sekedar halusinasi semata.


Michelle menoleh ke arah suara tersebut. Dan benar saja, itu adalah suaminya. Akhirnya dia bertemu dengan suaminya.


"Mas!" seperti mimpi. Michelle kembali melihat suaminya. Suami yang selalu ada dalam do'anya.


"Sayang!"


Nathan mendekat ke ranjang istrinya. Dia begitu bahagia, melihat sang istri melewati masa kritis, dan langsung sadar. Dan ini adalah suatu mukjizat yang luar biasa baginya. Berkali-kali ia mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga.


Nathan memeluk tubuh kurus itu. Semenjak disekap, makannya memang tidak teratur. Ditambah kritis di Rumah Sakit, selama satu Minggu tanpa makan dan minum, membuat badannya sedikit kurus. Wajahnya tirus, namun tidak mengurangi kecantikannya sebagai bidadari sang suami. Dan selang infus sebagai penopang tubuhnya agar tetap hidup.


"Mas, Apakah benar itu kamu?"


"Iya, Sayang. Ini aku suamimu!" Nathan sudah tidak bisa menahan air matanya yang menetes, "Aku sangat merindukanmu, Michie!"


"Mas, Aku juga!" begitu juga Michelle.


Dia juga tidak bisa membendung rasa rindu yang sudah terpatri di dada. Begitu rindunya, hingga dia sempat berhalusinasi sendiri. Untunglah Allah Maha Penyayang. Sejauh ini dia menjadi seorang wanita, istri dan ibu yang sangat kuat.

__ADS_1


"Mas dimana anak kita?"


"Ada, Sayang. Nanti kita bertemu dengannya ya! Sekarang kamu tenang dulu, biar Dokter memeriksa keadaan kamu dulu!"


"Tapi anak kita baik-baik saja kan, Mas? Aku takut sesuatu terjadi pada anak kita!"


"Nggak, Sayang. Kamu percaya ya sama aku. Anak kita baik-baik saja!"


"Kamu nggak bohong kan, Mas?"


"Nggak, Sayang!"


Nathan membelai rambut istrinya yang terurai indah. Kemudian mencium keningnya. Melepaskan semua rindunya dengan ciuman kehangatan penuh damba.


Sementara itu, Dokter memeriksa kondisi Michelle. Selang oksigen pun dilepas, karena memang Michelle sudah tidak membutuhkannya lagi.


"Selamat ya, Pak! Ibu Michelle sudah kembali ditengah-tengah kita. Dia berhasil melewati masa kritisnya!" ujar Dokter, "Nanti Bapak bisa mengurus kamar rawat untuk istri Bapak!"


"Terimakasih banyak, Dokter! Terimakasih atas kerja kerasnya selama ini!"


"Sama-sama! Saya sangat bahagia melihat Anda dan keluarga bisa berkumpul kembali! Semoga kebahagiaan melingkupi keluarga kecil kalian!"


"Amin, Amin, Dok! Terimakasih atas do'anya!"


"Baiklah saya permisi!"


"Silahkan, Dokter!"


____


___


Hari itu juga, Nathan memindahkan istrinya ke ruang rawat. Nathan memilih ruangan VIP untuk istrinya. Dia ingin istrinya merasa nyaman dan aman dikelilingi oleh keluarga yang sangat menyayangi Michelle.


To be continued ....


Mana dukungannya???


...Penghentian obat ARV juga bisa sebabkan resistensi obat. Sehingga pengobatan yang tidak teratur akan menimbulkan kekebalan terhadap virus di dalan tubuh. Kemudian, infeksi HIV-AIDS jika dibiarkan mrningkatkan risiko menularkan kepada orang lain....


...Pengobatan antiretroviral (ARV) kombinasi merupakan terapi terbaik bagi pasien terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) hingga saat ini. ...


...Tujuan utama pemberian ARV adalah untuk menekan jumlah virus (viral load), sehingga akan meningkatkan status imun pasien HIV dan mengurangi kematian akibat infeksi oportunistik....

__ADS_1


__ADS_2