
Michelle duduk di Musholla Rumah Sakit seraya berdzikir, memohon ampunan kepada Allah atas kesalahannya, kesalahan suaminya. Ujian yang datang kali ini adalah ujian yang sangat berat baginya. Namun sebisa mungkin ia harus tegar dan kuat menjalani semua.
'Ya Allah, Ampunilah dosaku. Ampunilah dosa suamiku. Sesungguhnya Engkau akan menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut). Ya Allah, berikanlah aku pelangi disetiap hujan, senyuman untuk setiap tangisan, Rahmat untuk setiap cobaan, dan kekuatan untuk setiap dugaan. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!" dengan deraian air mata, Michelle meminta dimudahkan permasalahannya.
"Michie!" panggil seseorang dari arah belakang.
"Umi," isak Michelle, memeluk tubuh yang sudah tua itu.
"Umi mengerti dengan perasaan kamu. Umi akan selalu berdoa untuk kebaikan rumah tanggamu," tutur Umi
"Terimakasih, Umi. Umi mau mengerti perasaan Michie. Doakan Michie kuat, Umi!"
"Tentu saja, Nak. Semua orang tua pasti selalu berdoa untuk anak-anaknya. Kamu harus tabah dan sabar menghadapinya!"
"Iya, Umi," jawab Michie. Michelle menidurkan kepalanya dipangkuan Umi. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Umi membelai kepala Michelle.
"Kamu harus tabah, Nak. Setiap rumah tangga pasti ada masalah. Tapi, kamu harus yakin, semua masalah pasti ada penyelesaiannya. Yang terpenting kamu harus yakin, pertolongan Allah itu ada. Banyak-banyak berdoalah, Sayang!"
"Terimakasih, Umi," jawab Michelle.
Mentari pagi menyambut bumi. Sinar hangatnya membangunkan seluruh makhluk di muka bumi untuk memulai segala aktivitas. Nampak Nathan mengerjapkan mata, ketika sinar sang Surya menyilaukan indera penglihatan.
Memang setelah sholat subuh, ia memejamkan mata sebentar, meskipun masih lengkap dengan pakaian sholatnya. Nathan baru bangun ketika sinar matahari menerobos masuk lewat celah-celah korden, dan mengenai maniknya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Ia pun bergegas, mandi dan bersih-bersih.
Rencananya, Nathan ingin ke Rumah Sakit. Dan menunjukkan bukti itu kepada Abah. Setidaknya ada bukti untuk membuat Abah sedikit percaya kepadanya.
Selesai mandi, Nathan sudah bersiap-siap dengan mengenakan kaos oblong warna putih, dipadukan dengan jeans hitam. Tidak lupa, ia membawa bukti tersebut. Ia masukkan ke dalam amplop coklat bertuliskan nama Rumah Sakit yang merawatnya dulu.
Mobil Nathan melaju dengan kencang menuju Rumah Sakit. Hatinya terasa sangat rindu dengan sang istri. Apakah istrinya juga sangat merindukannya seperti dirinya saat ini?
__ADS_1
Mobil sampai di parkiran Rumah Sakit. Dengan gegas Nathan menuju ruang rawat ayah mertua. Namun, ruangan sang ayah mertua sudah kosong. Ada petugas RS yang sedang membereskan tempat tidur ayah mertuanya.
"Mas, kemana pasien disini?"
"Pasiennya sudah pulang, Pak," jawab petugas tersebut.
"Pulang?" Nathan nampak berfikir, "Apakah pasiennya sudah diperbolehkan pulang?" tanya Nathan lagi.
"Sudah, Pak,"
"Baiklah, terimakasih," jawab Nathan.
Nathan keluar dari ruangan tersebut. Dia bingung, kenapa istrinya tidak memberitahu kalau Abah sudah diperbolehkan pulang.
"Kenapa Michie tidak mengirimkan pesan apapun?" gumam Nathan membuka notifikasi pesan ponselnya. Dan tidak ada pesan apapun di sana.
"Apakah mereka pulang ke Bogor?"
Nathan berusaha untuk mengirimkan pesan ke ponsel sang istri. Namun status pesannya belum terbaca. Membuat banyak pertanyaan menggelayut di benaknya.
"Kenapa tidak dibaca? Apakah ponsel Michie mati?" batin Nathan. Karena tidak biasanya sang istri mematikan ponsel.
Michelle duduk di kursi belakang bersama Umi dan Ratna. Sedangkan Abah duduk di kursi depan, di samping Faiz yang sedang mengendarai mobil. Jadi tadi malam, Abah menghubungi Faiz untuk menjemput mereka. Pagi-pagi buta, Faiz sudah sampai di Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan Michelle hanya diam. Bahkan saat Ratna dengan riang bercerita hal yang lucu dan membuat semua orang tertawa, Michelle sibuk dengan pikirannya sendiri.
Pikirannya sedang berada jauh, memikirkan sang suami. Dia yakin, pasti suaminya datang menyusul ke Rumah Sakit. Lalu, bagaimana suaminya datang, dan dia sudah tidak ada di sana. Michelle dilanda kegelisahan, namun, sama sekali keluarganya tidak perduli dengan perasaannya saat ini.
Hati Michelle benar-benar sangat kesal. Harusnya dia menghubungi sang suami, sekedar memberikan kabar, bahwa Abah sudah diperbolehkan pulang. Ponsel Michelle justru kehabisan kuota, dan beterai lemah.
HUFT ...
Michelle hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia harus bisa bersabar lagi menghadapi ujian demi ujian. Di depan masih banyak ujian yang harus dia hadapi dengan sang suami.
Akankah dia mampu menjalani ujian itu?
Akankah dia bersabar dan tabah menjalaninya? Ataukah pada akhirnya dia akan berpisah dengan sang suami?
Pikiran seperti itu yang terus mengganggu otaknya. Pikiran perpisahan sudah ada di depan mata. Mampukah dia hidup tanpa seorang suami?
Tidak terasa buliran bening mengalir ke pipinya. Umi bisa melihat kesedihan dan kepedihan anaknya. Umi menggenggam erat tangan Michelle. Membuat hati Michelle yang beku karena sebuah tekanan, mendadak mencair seperti es batu yang terkena sinar matahari.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai oleh Faiz, akhirnya sampai di kediaman Abah. Rumah besar dengan dua lantai. Rumah bergaya klasik milik Abah, terbilang cukup besar. Dengan halaman rumah yang cukup luas. Abah termasuk orang yang cukup berada dibandingkan dengan kakak-kakak Abah yang lain.
Di Bogor sendiri, Abah termasuk orang yang cukup terpandang. Abah memiliki tiga Toko bangunan. Dan dua Minimarket yang terletak dipusat kota. Belum lagi perkebunan yang terletak di desa-desa.
Anak Abah sendiri ada empat. Semuanya anak perempuan. Anak pertama sudah meninggal. Anak kedua, Kak Siti sudah menikah dan tinggal di Surabaya dengan suaminya. Yang ketiga, Michelle sendiri. Dan yang bungsu, Ratna, adik Michelle.
Mereka semua turun dari mobil. Seorang asisten rumah tangga keluar dan menyambut senang kedatangan mereka.
"Akhirnya Abah dan Umi pulang. Wah, Mba Michelle juga ikut pulang," ucap Bi Ijah senang. Michelle hanya tersenyum simpul.
"Bi, bersihkan kamar Michelle!" suruh Umi.
"Kalau kebersihan sih, Jangan khawatir Umi. Setiap hari, kamar Mba Michelle selalu Bibi bersihkan," ujar Bi Ijah.
"Oh, kalau begitu langsung ke kamar saja, Nak. Kamu pasti capek!"
"Iya, Umi. Michie langsung ke kamar saja ya!"
"Ratna juga langsung ke kamar, Umi. Pinggang Ratna pegel," ucap Ratna.
"Iya, sudah. Kamu istirahat sana!" suruh Umi.
"Faiz, ikut Paman!" ajak Abah kepada Faiz.
"Baik Paman," sahutnya.
Paman mengajak Faiz duduk di teras. Sedangkan Umi masuk menyusul kedua anak perempuannya.
"Faiz, Katakan kepada ayahmu! Paman sudah membawa Michie pulang ke rumah! Dan Paman juga sudah menyuruh besan, untuk membujuk putranya agar segera mengurus surat perceraian. Sebagai seorang adik, Paman sudah menuruti permintaan ayahmu!" ucap Abah.
"Iya, Paman. Nanti Faiz sampaikan. Sekarang Faiz pulang dulu! Mohon pamit, Paman!"
"Iya, terimakasih sudah menjemput Paman dan keluarga," ucap Abah.
__ADS_1
"Baik, Paman,"
to be continued ...