
"lepas .... lepaskan aku" Anelis terus berteriak di dalam penjara.
kini Anelis telah ditetapkan sebagai tersangka dari kasus kecelakaan yang dialami Farah dan juga kasus lift.
"kami mau bertanya, apa benar saudara Anelis yang meminta bapak untuk menyingkirkan papan peringatan?" tanya pihak kepolisian kepada penjaga keamanan yang telah ditemukan.
pria itu bersembunyi di rumah orang tuanya, dia diberikan sejumlah uang yang cukup untuk dia bertahan hidup dalam mencari pekerjaan baru untuk dirinya.
polisi meringkusnya ketika dia hendak pergi ke perusahaan yang ia ajukan lamaran pekerjaan, tanpa di sadari, ketika ia mengirim lamaran pekerjaan dan mendapatkan panggilan ternyata itu adalah sebuah jebakan, pria itu bukan dipanggil untuk diwawancarai di sebuah perusahaan, namun diwawancarai di kantor polisi.
*****
"Anelis akan disidang dua hari lagi, proses sangat cepat karena kita memiliki cukup bukti" jelas Kevin.
mereka semua berkumpul di kediaman William, membicarakan tentang proses mengadili Anelis.
"aku tidak percaya wanita itu begitu ambisius!" gumam Hans.
"begitulah wanita jika sudah menyukai pria, dia akan kehilangan akal sehatnya dan dia akan melakukan hal apapun" jelas Kevin.
"aku tidak!" bantah Farah ketika mendengar percakapan Kevin dan Hans.
"minumlah" Farah membuatkan minuman untuk ke empat pria yang sedang asik bergunjing tentang Anelis.
"jadi kamu tidak akan melakukan hal aneh ketika cinta sama pria de?" tanya Michael.
"tentu tidak! aku kan wanita berkelas, buat apa mengejar pria yang hatinya bukan untukku! buang-buang waktu!" cetusnya.
uhuk
Kevin yang mendengar perkataan Farah tiba-tiba tersedak.
"hati-hati Vin, baru minum air buatan Farah ajah udah keselek" ledek Michael yang sudah agak melembut hatinya kepada Kevin.
semua tau kakak Farah sangat membenci Kevin dari peristiwa terakhir Kevin menyakiti adiknya, tapi saat ini Kevin seperti ingin menebus kesalahannya, dia kerap kali menolong Farah disituasi yang sangat tepat.
"Vin, bisa bicara berdua saja" kata Michael.
Kevin dan Michael menyingkir dari dua pria yang entah sedang memikirkan apa dan dari Farah.
"Vin, jika kamu memang menyukai Farah, tapi Farah lebih memilih pria lain, aku mohon kamu mau melepaskannya!" kata Michael.
"kau bicara seperti ini ingin memberikan kode juga?" kata Kevin.
"kode? maksudnya?" Michael tak mengerti.
"kode kalau kau menyetujuiku untuk mendekati dan mendapatkan hati Farah lagi" jelas Kevin.
"ya! aku mengizinkanmu mendekati Farah lagi, tapi jika kau membuat Farah tersakiti lagi, aku yang akan menghabisimu, tidak ada kata ampun bagi siapapun!"ancam Michael.
"thanks bro! aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya" janji Kevin.
mereka kembali duduk bersama, Hans dan Devan masih juga melamun.
__ADS_1
"Dev" teriak Michael
"Iyah, Shania" Devan menyebut nama seorang wanita tanpa dia sadari.
"what's up bro?" tanya Michael yang baru pertama kalinya dia mendengan Devan menyebut nama wanita tanpa sadar.
"siapa itu Shania?" tanya Farah.
"waooow kau punya wanita ternyata, Dev?!"
mereka semua kini menghujani Devan dengan berbagai pertanyaan. Devan menjadi salah tingkah dan bingung harus menjelaskan dari mana.
******
Farah dan kedua kakaknya bersiap untuk menghadiri persidangan Anelis.
"sudah siap?" tanya Devan kepada kedua adiknya.
"sudah"
mereka bertiga berangkat bersama menggunakan satu mobil.
*****
"sudah siap?" tanya Ronal kepada Kevin.
"let's go Ronal, kita akan menjebloskannya kedalam penjara, yeeeay" lompat Kevin, dia puas bisa menangkap pelaku kriminal.
******
Hans siap menghadiri persidangan wanita yang pernah dijodohkan dengannya, kini dia bisa bebas mendekati Farah.
********
tok tok tok
hakim mengetuk palu persidangan tanda sidang di buka.
"kepada terdakwa yang bernama Anelis, telah melakukan tindak kejahatan kepada seorang wanita bernama Farah Quinn Praga, silahkan pengacara dari terdakwa memberikan pembelaannya" pinta hakim
"terima kasih bapak hakim" pengacara Anelis memberi hormat kepada hakim pengadilan.
"di sini, saudara Anelis bukan melakukan tindak kejahatan, akan tetapi dia hanya ingin menyelamatkan hubungannya dengan pria yang sudah dijodohkan, saudara Anelis sendiri dalam tekanan karena saudara Farah ...," ujar pengacara.
"tekanan bagaimana?" Segah pengacara keluarga Farah.
"tenang-tenang" hakim mengetuk palu lagi.
"silahkan dilanjutkan" kata hakim kepada pengacara yang membela Anelis.
"saudara Farah bilang, kalau dia tidak menggoda saudara Hans, sedangkan disana saudara Anelis melihat betul wanita itu memberikan kue dan merayu pria yang menjadi tunangannya, sekian penjelasan saya" kata pengacara pembela Anelis.
"apa-apaan ini, sungguh pernyataan yang ngawur" sungut Farah.
__ADS_1
"sabarlah, kita sudah pasti menang"
Farah menoleh setiap sudut ruangan persidangan, mencari sesosok yang belum juga hadir diruangan ini.
proses persidangan berjalan sangat panjang, banyak saksi yang dipanggil dan memberikan kesaksiannya, tidak terkecuali untuk Farah, Kevin dan Hans yang terlibat dalam masalah ini.
"kepada saksi kedua, Hans, silahkan duduk dikursi saksi"
Hans memberikan kesaksiannya terkait perkataan Anelis dan pernyataan Anelis yang mengklaim bahwa dia adalah tunangannya dan Farah menggodanya, semua dibantah olehnya dan semakin menyudutkan Anelis.
"baik, terimakasih saudara Hans"
"selanjutkan saudari Farah Quinn Praga, silahkan masuk dan duduk dikursi saksi" sambungnya.
Farah ragu-ragu untuk berdiri, sampai akhirnya seseorang membuka pintu persidangan.
"maaf saya terlambat" ujar Kevin.
Farah melihat kearah Kevin dan dia berjalan maju menuju kursi saksi.
"saudari Farah, apa benar saudari anelis menemui anda dirumah sakit dan mengancam?" satu pertanyaan dilontarkan kepada Farah.
"benar pak hakim, dia mengancam saya, dan mengatakan bahwa dia lah yang melakukan semua hal itu, dan dia juga mengancam akan mencelakai saya lagi, disana saya semakin terguncang" kata Farah.
"tapi menurut informasi terdakwa tidak dapat dikenali karena dia memakai masker saat itu?!"
"benar pak hakim, tapi saat dia hendak keluar dari kamar perawatan dia membuka sedikit maskernya dan disana saya sadar bahwa itu adalah dia"papar Farah.
"tapi anda juga saat ditanya, menjawab anda tidak tau siapa yang datang?!" tanya hakim lagi.
"Farah menjadi gemetar dengan pertanyaan hakim, dia masih takut mengingat hal yang terjadi hari itu, apa yang dilakukan Anelis masih membekas.
"be-benar, saya mengalami syok dan tidak mengingatnya sesaat" Farah mengakui bahwa dia terkena mentalnya saat itu.
Anelis tersenyum menyeringai ketika mendengar Farah mengakui dirinya mengalami syok mental.
"terimakasih saudari Farah, silahkan kembali ke bangku anda" kata sang hakim.
"saudara Kevin silahkan memberi kesaksiannya"
Kevin maju kedepan menceritakan awal mula kecurigaannya kepada sang hakim, dan bagaimana dia memiliki ide untuk menjebak Anelis agar mau mengakui semua perbuatannya.
"terimakasih saudara Kevin atas kesaksian dan bantuannya"
Kevin kembali ke kursinya dan dia tersenyum saat melewati kursi yang diduduki oleh Farah.
Farah membalas senyuman Kevin, melihat hal itu Hans sedikit merasa cemburu dan khawatir Farah akan kembali kepada Kevin.
"terdakwa Anelis, akan dihukum selama dua tahun penjara" keputusan pengadilan sudah ditetapkan dan kini Anelis mendekam di penjara.
"awas kau Farah! kau tidak akan pernah bahagia karena telah merebut kebahagiaan ku" teriak Anelis.
Farah tak lagi merasa takut, karena dua tahun adalah waktu yang cukup lama, dia berharap Anelis akan merenungi apa yang telah diperbuatnya dan menjadi pribadi yang lebih baik.
__ADS_1
mereka semua keluar dari ruang persidangan dengan hati dan nafas yang lega, kini tidak akan ada lagi yang membuat kerusuhan.
"Good bye, Anelis" batin Hans.