
dua hari setelah insiden Farah terjebak di lift, Michael menghubungi Hans dan memintanya menjaga Farah dirumah sakit.
"Michael"
"hai Hans"
Hans dan Michael berbincang sedikit seputar kronologi kejadian Farah terjebak didalam lift, Hans yang mendengar pemaparan Michael yang menduga bahwa Anelis kemungkinan dibalik semua ini, semakin murka dan membenci wanita yang kakeknya jodohkan.
"aku akan ikut menyelidiki semua ini, aku juga akan membuat Anelis mengaku jika memang semua bukti mengarah kepadanya" geram Hans.
*****
Hans masuk kedalam ruang perawatan Farah dan seketika matanya terbelalak melihat Kevin yang tertidur di sofa.
Kevin yang mendengar suara pintu terbuka langsung terbangun dan membenarkan posisinya dari tiduran menjadi duduk disofa.
"kau Hans" kata Kevin dengan pandangan samar-samar setelah bangun tidur.
"hmm" jawab Hans.
"aku pergi ke kantin dulu untuk membeli kopi, apa kau mau aku bawakan juga?" tanya Kevin
"tidak perlu" jawab Hans dengan sangat singkat.
Hans merasa kesal karena ternyata Kevin berada di sisi Farah di rumah sakit.
__ADS_1
******
kriiiing Kriiiing
ponsel Michael berdering saat dia sedang mengendarai mobilnya.
"hallo Hans," jawab Michael.
"aku ingin memberitahukan bahwa Kevin ada di kamar perawatan Farah" kata Hans melalui sambungan telepon.
"maaf Hans, aku lupa memberitahukanmu, Kevin adalah orang yang menolong Farah saat terjebak didalam lift, dan dia meminta kepadaku untuk menemani Farah sampai sembuh" papar Michael.
"Kevin yang menolong Farah?" heran Hans
"dia mengenal Anelis?" tanya Hans lagi dengan nada terheran.
"dia tidak mengenal Anelis, hanya saja dia melihat Farah dan Anelis bertengkar tempo hari di restoran, sampai Anelis mendorong tubuh Farah" Michael kembali memaparkan apa yang Kevin ceritakan kepadanya.
*****
"aku akan segera menyelidikinya, aku tutup dulu teleponnya" Hans menutup teleponnya dan meremasnya kuat-kuat sangking kesal kepada Anelis.
Hans merasa Anelis cemburu berlebihan kepada Farah, padahal dia belum resmi menjadi tunangannya.
Kevin kembali ke kamar perawatan Farah dengan membawa dua cup kopi dan beberapa roti.
__ADS_1
"aku bawakan kopi dan roti untuk mu agar kita bisa satu frekuensi dalam menjaga Farah" tutur Kevin sambung mengangkat satu cup kopi.
Hans melihat kearah Kevin dan sedikit menunjukkan senyumnya.
"dulu aku tidak tahu kalau kau suami dari Farah!" Hans mulai berbicara.
"kalau kau tahu, apa yang akan dilakukan?" tanya Kevin dengans sedikit menyeringai.
"aku mungkin akan merebut Farah sebelum kau mengejarnya!" Hans menunjukkan maksudnya kepada Kevin.
"seperti yang kau lakukan saat ini?" tanya Kevin yang bermaksud untuk menyindir pria yang sedang mencoba memikat hati istrinya.
"hmm ... benar!" Hans menyesap kopi yang sudah dia pegang.
"apa sudah berhasil?" sindirnya
Hans menoleh kearah Kevin, begitu juga Kevin menoleh ke arah Hans dengan menaikan satu alisnya.
"mungkin sekarang belum, tapi suatu hari aku pasti bisa membuatnya jatuh hati!" Hans bicara dengan percaya diri.
"Hans, aku tidak tau apakah hal itu akan terjadi atau tidak tapi satu hal yang perlu kau tau...,"
"kau jangan terlalu percaya diri dan terlalu berharap, aku takut kau akan patah hati untuk yang kedua kali!" sambung Kevin.
Hans berusaha menahan emosinya. Hans sadar diri ini adalah rumah sakit dan Farah sedang dalam kondisi belum sadarkan diri, dia tidak mau membuat keributan di rumah sakit. Hans kali ini mengalah untuk menang suatu hari nanti.
__ADS_1