
Farah melihat wajah Hans menjadi sedikit murung ketika menjawab pertanyaannya.
"kak Hans, baik-baik saja?" tanya Farah yang menyimpan rasa tidak enak kepada Hans.
"tidak apa-apa, kita teruskan perjalanan" kata Hans mengajak Farah kembali berkeliling.
Farah menjadi merasa tidak enak, dia memberikan pertanyaan yang ternyata jawabnya mengingatkan kak Hans dengan kenangan bersama kakeknya.
Hans sejak satu tahun ini hubungannya menjadi renggang, Hans dijodohkan dengan Anelis, wanita yang pernah mengisi hari-harinya dan mengisi hatinya yang kosong saat mereka berdua duduk dibangku sekolah menengah atas, disingkat menjadi SMA.
saat mereka berdua memutuskan untuk kuliah, Anelis memilih kuliah diluar negeri dan Hans memilih kuliah di Indonesia, dan Anelis mencampakkannya saat kuliah.
"Farah, bisakah nanti malam kita dinner di rumah ku?" kata Hans.
"bisa!" jawab Farah dengan mantap.
"Farah, apa kamu menyimpan rasa untuk Kevin?" tanya Hans yang membuat langkah Farah terhenti mendengarnya.
"aku hanya ingin memastikannya, jika memang kamu lebih memilih dia, katakan saja! aku akan mundur jika itu membuatmu bahagia" sambung Hans sambil memasukkan tangannya ke saku celana, dia sebenarnya takut mendengar kenyataannya.
"aku belum memutuskan" jawab Farah sambil memainkan ujung sepatunya diaspal.
Hans lega mendengar jawaban Farah, dia takut ini adalah kali terakhirnya berkencan bersama wanita yang dia sukai.
mereka kembali berjalan mengelilingi taman yang membuat kencan mereka kali ini benar-benar romantis.
"kak Hans, kita berfoto di sini" ajak Farah sambil mengeluarkan ponselnya.
Hans dan Farah berfoto bersama, foto berlatar belakang pemandangan yang sangat indah.
"aku foto, berdilah disana" ujar Hans sambil meraih ponsel Farah.
Farah berpose dengan berbagai gaya dan menimbulkan senyuman yang menawan, senyuman itu semakin membuatnya terlihat sangat tampan.
"sepertinya aku sudah mulai lelah berjalan, bisakah duduk sebentar?"pinta Farah
"duduklah" jawab Hans.
mereka berdua duduk dibangku yang sama, Farah memijat-mijat kakinya yang terasa lelah dan Hans pergi sebentar meninggalkan Farah.
"minumlah" Hans memberikan botol minuman untuk Farah.
mereka berdua meneguk minuman botol itu, terasa sangat menyegarkan dan seketika dahaga mereka hilang.
__ADS_1
"haah... rasanya menjadi segar kembali" Farah merasakan kesegaran ditubuhnya setelah minum.
"lihat, sebentar lagi sore, kita bisa melihat sunset dari sini" kata Hans dengan menengadahkan kepalanya melihat kearah awan yang sudah mulai terlihat gelap.
Farah juga melihat keawan, dia tidak sabar menanti matahari terbenam yang menurut kebanyakan orang sangat indah ketika dilihat dari taman botani Singapura.
ketika matahari akan turun keperaduan, merupakan sebuah momen yang sangat tepat untuk merenungkan sesuatu dan mengagumi indahnya pemandangan alam.
pemandangan matahari terbenam menjadi salah satu momen yang paling ditunggu. melihat mata hari tenggelam kerapkali memberikan ketenangan di hati, menghilangkan kepenatan dan lelah diri dalam menghadapi kenyataan hidup.
"waaaah, indah sekali" Farah mengagumi apa yang di lihatnya saat ini.
"sangat indah" Hans mengagumi wajah Farah ditengah terbenamnya matahari yang menyinari wajahnya.
*******
mobil Hans melesat dengan cepat sehingga tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai disebuah rumah besar dengan gaya khas perumahan Singapura.
"rumah siap ini?" tanya Farah ketika mereka sampai didepan gerbang sebuah rumah besar.
"rahasia, nanti akan ku perkenalkan dengan pemiliknya" ujar Hans sambil memarkir mobilnya.
mereka membuka seatbelt dan mulai menuruni mobil.
Farah masih bertanya-tanya siapa sebarnya yang tinggal dirumah besar ini dan mengapa Hans mengajaknya kesana.
Farah menginjakkan kakinya di teras rumah besar dan dengan pintu berwarna coklat tua yang cukup tinggi dan memiliki ukuran yang cantik.
Farah dan Hans disambut oleh beberapa pelayan dan Hans mengajaknya langsung ke taman belakang, di sana sudah disiapkan meja untuk mereka makan malam bersama.
Farah semakin terkejut dengan semua hal yang dilakukan Hans hari ini. Farah duduk disebuah kursi begitu juga Hans.
"kita tunggu seseorang" bisik Hans
Farah bingung, siapa yang sedang mereka tunggu sebenarnya dan dirumah siapa mereka.
tak tak tak
seseorang muncul dari sebuah ruangan, seorang pria tampan meski usianya sudah lanjut, pria itu masih sangat terlihat gagah dengan pakaian yang rapih.
"selamat datang Farah" sambutnya.
Farah menundukkan kepalanya tanda menerima sambutannya.
__ADS_1
"Farah, ini kakekku, beliau ingin bertemu denganmu, makanya aku membawamu untuk makan malam bersama" jelas Hans.
Farah sangat terkejut mendengar bahwa pria ini adalah kakek dari Hans, pantas Hans memiliki wajah yang tampan, pasti ini diturunkan dari kakeknya.
"silahkan duduk, kita makan malam bersama, kamu tidak keberatan, kan?" tanya kakek Hans.
"aku sangat tidak keberatan" jawab Farah sambil tersenyum.
"Hans benar, kamu adalah wanita yang sangat ramah dan juga sangat cantik" pujinya kepada Farah.
Farah menjadi tersipu malu karena dipuji oleh kakek Hans.
"silahkan makan, nanti kita teruskan berbincangnya"
mereka bertiga makan malam bersama, makan malam yang menurut Farah sangat berbeda, dulu saat menjalin pernikahan dengan Kevin, Farah tak perlu lagi berkenalan dengan keluarga Kevin, dan Kevin juga tidak perlu memperkenalkan Farah kepada keluarganya, sebab mereka sudah saling kenal. kali ini berbeda dengan Hans, Hans menunjukkan keseriusannya kepada Farah dengan memperkenalkannya dengan kakek Hans, keluarga satu-satunya milik Hans saat ini.
"bagaimana rasa masakannya?" tanya sang kakek kepada Farah.
"enak, kek" jawab Farah.
"kakek dengar, kamu juga pandai memasak, kapan-kapan main lah kemari dan buatkan. kakek masakan" ujarnya sambil terus menikmati hidangan makan malam.
"baik kek" jawab Farah.
Farah semakin berdebar mendengar perkataan kakek Hans, dia benar-benar Aru pertama kali ini diperkenalkan dengan anggota keluarga dari seorang pria yang dikenalnya.
Hans melihat Farah sangat gugup, dia tersenyum dan melihat kearah Farah tanpa berkedip sedikitpun.
setelah makan malam selesai, mereka sedikit berbincang-bincang dan menikmati suasana malam.
"kalian berbincanglah, kakek akan masuk kedalam, sudah tua, tidak sanggup menghadapi dinginnya malam" pamit kakek.
"kau gugup?" tanya Hans ketika kakeknya sudah berada di dalam rumah.
"hah ... aku sangat gugup, tapi sekarang aku sudah merasa lega" ujar Farah.
"terima kasih, sudah bersedia makan malam dengan ku dan kakek, sebelum dia tau kelakuan Anelis, dia selalu mendesakku dan tidak memberikan kesempatan aku untuk memperkenalkan mu" kata Hans dengan senyum sedikit lega.
"pria ini sangat gigih, aku tak tau seperti apa hubungan kak Hans dengan kakeknya, tapi aku merasa kakeknya pria yang sangat baik, dia bahkan menerimaku, terlihat dari cara bicaranya" gumam Farah dalam hati.
Farah dan Hans kembali menikmati suasana malam, Hans sangat bersyukur bisa berkencan dengan Farah hari ini dan bisa seharian berdua dengannya.
ini menjadi kencan paling indah untuknya dan akan dia kenang meski suatu hari nanti Farah tidak memilihnya.
__ADS_1
Hans tersenyum lebar melihat wajah wanita yang sangat dia sukai.
"meski ini akan kencan terakhir kita, tidak akan aku sesali, bersamamu hari ini membuat hatiku bahagia" - Hans