Pesona Istri Yang Terabaikan

Pesona Istri Yang Terabaikan
Wanita dari masa lalu


__ADS_3

Acara launching menu baru pun selesai dan keseluruhan dari hasil vote para tamu sangat puas dan sangat menantikan menu baru ini.


Tap Tap Tap


suara sepatu nyaring terdengar ditelinga Hans dan Farah yang sedang berbincang-bincang di taman bersama beberapa rekan mereka setelah acara selesai.


"Hai Hans, apa kabar?" seorang wanita muda datang menghampiri Hans Yang sedang asik tertawa karena celotehan Farah.


"Hai Anelis, kabarku sangat baik" jawab Hans yang sudah sangat hafal dengan wajah Anelis.


"Boleh aku bergabung?" tanya Anelis sambil menyesap minuman yang ia bawa.


"silahkan, kami disini hanya sekedar berbincang-bincang saja" jawab Hans.


wanita itu menatap kearah Farah, entah apa yang terjadi sepertinya wanita yang bernama Anelis ini tak begitu menyukai Farah.


Anelis adalah wanita muda dari seorang pembisnis di bidang kuliner yang menjadi salah satu pesaing keluarga William.


"boleh aku berkenalan denganmu?" tanya Anelis kepada Farah.


"nama ku Farah" Farah mengulurkan tangannya kepada Anelis.


"aku Anelis" Anelis pun berjabatan tangan, sebagai tanda salam perkenalan diantara mereka berdua.


"kamu sepertinya baru di Singapura" kata Anelis


"benar, aku baru disini tapi ibuku lahir di Singapura" Farah memberitahukan Anelis bahwa dia juga orang Singapura meski campuran Indonesia.


"aku senang bisa berkenalan denganmu" ujar Anelis


"semoga kita bisa menjadi teman" lantujnya.


Farah mengangguk namun tidak penuh keyakinan sebab ia merasa Anelis memiliki sorot mata yang berbeda.


"Farah, kalau kamu mau pulang biar aku antar" Hans menawarkan tumpangan kepada Farah.


"hmm... enggak perlu kak, sepertinya kak Devan masih ada didalam" kata Farah sambil melihat kedalam restoran.


Kriiiing Kriiiing kriiiing


ponsel Farah tak lama berdering, satu panggilan masuk dan ia langsung melihat layar ponsel untuk tahu siapa yang menghubunginya.


"Iyah kak"


"dek, kakak, papah dan nenek sudah pulang, oh ya, Devan juga sepertinya sudah pergi dia ada urusan sedikit tadi, kamu pulang diantar Hans saja ya" Michael langsung menutup teleponnya tanpa mendengar satu jawaban pun dari adiknya.

__ADS_1


"kak Michael, aku belum bilang Iyah atau tidak malahan langsung ditutup, iiish ngeselin banget sih punya kakak kaya begini" umpat Farah sambil tetap memandangi layar ponselnya.


Hans tertawa kecil melihat tingkah Farah yang sedang kesal persis seperti anak kecil yang sedang merengek ingin dibelikan mainan.


"sudah ... sudah, tadi kan aku sudah menawarkan tumpangan jadi enggak perlu kesal lagi" Hans bicara dengan menahan tawa agar Farah tak kesal berlanjut.


"terimakasih kak Hans, andai aku punya kakak sebaik kak Hans, bukan dua laki-laki yang seringnya bikin emosi" Farah kembali mengumpat kelakuan kedua kakaknya.


"Aku mengantar Farah pulang dulu" kata Hans kepada rekan-rekannya.


"Hans" panggil Anelis yang membuat Hans menghentikan langkahnya.


"Aku akan menghubungimu nanti" kata Hans dengan sedikit menoleh ke arah Anelis.


"kak Hans ayo" panggil Farah yang sudah duluan pergi meninggalkan teman-teman yang masih asik berbincang-bincang.


Hans pergi meninggalkan Anelis.


"Siapa wanita itu? mengapa Hans begitu perhatian kepadanya?" Anelis bertanya-tanya tentang siapa sosok Farah Dimata Hans.


Hans dan Farah berada dalam perjalanan pulang, Farah yang lelah mendadak tertidur pulas dan Hans yang melihat pemandangan indah itu tersenyum.


"meski kau sedang tertidur wajah cantikmu tak pernah redup" bisik Hans sambil merapihkan rambut Farah yang menjuntai kedepan.


Hans menghentikan laju mobilnya sesaat.


"andai aku bisa mengisi hati mu yang kosong*". batin Hans dan kembali melajukan mobilnya, mengantar Farah pulang kerumah.


*******


"sudah sampai" Hans menarik rem tangan yang ada disebelahnya untuk menghentikan laju mobilnya.


Hans kembali menoleh kesamping, ternyata Farah masih tertidur pulas, ia pun turun dari mobil.


ceklek


Hans membuka pintu mobilnya dan Farah terbangun karena pintu mobil terbuka yang terbuka membuat terhuyung.


"Aaaaw" Farah memegang kepala yang sedikit sakit karena terbentur pintu mobil saat dibuka.


"hahahaha" Hans tertawa.


"kak Hans, ternyata kalian bertiga sama saja senang menganggu orang" sungut Farah.


"maaf, habis aku tak tega membangunkan mu yang tertidur pulas" kata Hans sambil terus menahan tawanya.

__ADS_1


"enggak tega bangunin tapi bikin kaget orang buka pintu, sakit tau kepala aku kebentur" Farah kembali menggosok kepalanya.


"baru tadinya mau aku gendong kaya diadegan putri salju, eh udah kebangun duluan putrinya"


"udah deh, enggak usah ngelucu, sebel aku sama kak Hans, udah sana pulang" kata Farah yang masih sedikit kesal dengan kelakuan Hans.


Farah berjalan menaiki tangga teras rumahnya.


"terimakasih" teriak Hans


"sama-sama" Fatah melambaikan tangannya.


"dasar Farah ... Farah" tak henti Hans terus tersenyum, Hans memang selalu tertawa atau tersenyum saat bersama Farah senggi tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.


Kriiing Kriiiing Kriiiing


ponsel Hans berbunyi saat ia hendak membuka pintu mobil.


"Anelis" Hans terkejut melihat Anelis menghubunginya.


"Ada apa Anelis?" tanya Hans dengan nada tak suka.


"kenapa kamu selalu bersikap sinis kepada ku tapi sangat manis dengan wanita yang tadi kamu antar pulang, siapa dia?" tanya Anelis penuh selidik.


"bukan urusan mu" ujar Hans yang hendak menutup teleponnya.


"Hans" panggilan Anelis membuat Hans mengurungkan niatnya untuk menutup sambungan telepon.


"hmm" kata Hans karena sudah malas berbicara dengan Anelis.


"aku mungkin dari masalalu mu dulu, tapi ingat perkataan kakek mu" ujar Anelis yang kemudian mengakhiri teleponnya.


Hans meremas ponselnya setelah mendengar kata-kata Anelis yang mengingatkannya pada momen pertemuan antara Hans dan kakeknya tempo hari.


Hans menaiki mobilnya dan kembali mengendarai mobil untuk pulang kerumahnya.


Hans saat ini tidak tinggal bersama kakeknya yang asli orang singapura, dia lebih memilih mengisi rumah nya yang ia beli dua tahun lalu yang ia harap bisa ditempati olehnya dan Farah sebelum tau Farah sudah dijodohkan dengan orang lain.


"Anelis, aku tidak pernah mau bersama wanita yang sudah meninggalkanku bertahun-tahun lamanya tanpa alasan yang pasti, lima tahun lalu mungkin aku menyukaimu, tapi setelah kita berpacaran selama satu tahun kau meninggalkanku tanpa berpamitan, aku sudah menemukan pujaan hati ku saat ini!" ujar Hans pada dirinya sendiri sambil terus fokus dengan jalan yang ada di depannya.


******


"Farah" panggil Devan yang melihat Farah hendak menaiki tangga yang menuju kamarnya.


"Kak, bicara besok saja, aku sangat lelah" kata Farah dengan tidak bertenaga.

__ADS_1


"baiklah, kamu istirahat, besok pagi kakak ingin berbicara dua hal penting dengan mu" tutur Devan yang tak tega melihat adiknya sudah mengantuk berat.


"


__ADS_2