
Farah yang sudah dirawat seharian di rumah sakit, kini keadaannya berangsur-angsur membaik, Farah sudah mulai sadarkan diri dan ketika dia sadar Kevin berada satu kamar perawatan medis dengannya.
"kev... Kevin?!" kata Farah sambil berusaha bangun.
Kevin yang sedang tertidur namun tidak terlalu pulas karena dia menunggu Farah siuman.
"Farah," kata Kevin yang langsung bangun dan kini dia sudah berpindah posisi berada didekat Farah.
Farah menyentuh wajah Kevin dengan mata berkaca-kaca, dia memperhatikan tangan Kevin yang di balut oleh perban.
"maafkan aku" kata Farah dengan nada yang sangat menyesal.
"sudah, aku juga tidak apa-apa kok, gimana kamu sendiri udah mulai enakan?" tanya Kevin dengan memasang wajah penuh senyuman.
"sudah, sudah jauh lebih segar" jawabnya.
"kenapa kita bisa satu kamar perawatan?" tanya Farah.
"karena kita suami istri" jawab Kevin dengan sangat percaya diri, senyuman terus mengembang di wajahnya ketika melihat Farah.
"Tuhan, baru kali ini hatinya begitu berdebar dan bahagia melihat dia kembali berada di sisiku" batin Kevin sambil terus menatap Farah.
wajah Farah mulai sedikit memerah, hatinya juga berdebar ketika Kevin bilang mereka suami istri, selama ini Kevin masih belum mengakui dengan jelas kepada Farah, dia hanya terkadang bicara bahwa Farah adalah istrinya disaat-saat kemarin Anelis mencelakainya, berbeda kali ini Kevin bicara sambil terus menatap mata Farah dengan lekat.
Farah bisa merasakan bahwa Kevin bukan mencari pelarian kepadanya, Kevin mungkin kali ini tulus kepada Farah, saat kemarin dia mencoba menolong Farah di gudang pabrik kosong, Farah juga melihat raut kecemasan.
"di mana kak Michael?" tanya Farah.
"Michael sedang pulang dulu, sekitar jam sepuluh pagi dia akan kembali, masih satu jam lagi, kamu istirahatlah lagi" kata Kevin sambil berdiri.
saat Kevin hendak kembali ke tempat tidurnya, Farah mencegahnya, Farah memegang tangan Kevin sehingga Kevin berhenti melangkah.
"Vin, terima kasih, dia kali kamu menolongku" kata Farah.
"tidak perlu berterima kasih, semua ini sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga dirimu! aku minta maaf belum bisa menjagamu seperti seharusnya." Kevin menyentuh tangan Farah dan menepuknya.
"istirahatlah" Kevin meletakkan tangan Farah di tempat tidur dan memperbaiki posisi selimut Fatah.
Farah semakin berdebar saat Kevin memperbaiki posisi selimutnya, dia merasa, Kevin sangat perhatian dengannya.
Farah kembali memejamkan matanya meski sangat sulit karena hatinya yang masih berdebar kencang.
__ADS_1
Kevin terus memperhatikan Farah yang sudah terpejam, Kevin kini benar-benar merasakan debaran yang berbeda saat bersama wanita yang masih berstatus istrinya itu.
ketika Kevin terus melihat kearah Farah tak lama, pintu kamar terbuka dan ternyata Michele datang lebih awal dari janjinya.
"kau sudah datang?!" kata Kevin sambil merubah posisinya dari tiduran menjadi duduk di atas ranjang.
"sudah, hmmm kau istirahat saja, aku yang akan menemani Farah, aku tau kau pasti terjaga semalaman" tebak Michael.
"ah... tidak juga" Kevin merasa malu
"apa wajahku terlihat sangat kentara mengkhawatirkan Farah dan tidak tidur semalaman?" tanya Kevin kepada dirinya sendiri di dalam hati.
"aku tau! kau sangat khawatir sampai matamu menunjukkan kau tidak tidur semalaman" Michael mulai mengolok-olok adik iparnya.
"aku tidur" Kevin membalikkan badannya memunggungi Michael dan menarik selimut hingga menutupi sekujur badannya. di dalam selimut Kevin merasa malu sehingga merutuki dirinya sendiri.
setelah Michael beberapa menit di dalam kamar Farah dan Kevin, dia mulai mengipasi kulit buah untuk adiknya makan setelah bangun tidur, dan setelah dia selesai mengupas buah, Farah terbangun dan melihat ada Michael disampingnya.
"kakak" Farah langsung memeluk Michael.
Farah dan Michael menangis bersama, Michael dengan perasaan bersalah tak mampu menjaga adiknya , sedangkan Farah merasa dirinya bersyukur masih bisa melihat anggota keluarganya lagi.
"maafkan kakak, gerakku terlalu lambat sehingga kamu baru ditemukan selama dua hari dan ditemukan oleh Kevin" kata Michael.
"kak, aku rasa tidak cocok tinggal di Singapura, aku lebih merasa aman tinggal di Indonesia" kata Farah.
"yes!" Kevin berbisik senang di dalam hatinya mendengar perkataan Farah yang ingin pulang ke Indonesia.
"aku mengerti, tinggalah di sini sebentar lagi, kakak akan mengurus kepulanganmu ke Indonesia!" kata Michael yang menyetujui keputusan adiknya.
selama Farah tinggal di Singapura sudah tiga kali dia mengalami hal mengerikan seperti ini, selama tujuh bulan dia tinggal di Singapura, membuat dia merasa tak aman.
Farah lebih menguasai Indonesia karena memang dia tumbuh di sana, baginya di Indonesia dia berkuasa dan bisa lebih menjaga dirinya dengan lebih baik lagi.
di Singapura banyak tempat yang belum dia ketahui dan belum bisa memprediksi keamanannya, Farah tau Singapura adalah kampung halamannya juga tapi dia merasa tidak cocok untuk menetap di sini.
"Kevin, kamu jaga Farah lagi! aku tau kamu tidak tidur dan mendengar semua percakapanku dengan Farah" kata Michael sambil berdiri.
Kevin membuka perlahan selimut yang menutupi tubuhnya itu, Fatah yang melihat itu tertawa geli.
"ah, ternyata dia tau aku berpura-pura tidur" kata Kevin sambil menahan malu.
__ADS_1
"suaramu terdengar saat berteriak kegirangan tadi!" kata Michael sebelum meninggalkan ruang perawatan medis.
Kevin kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut karena tak mampu menahan malu untuk kedua kalinya.
Farah masih menertawakan Kevin, kini Fatah mengerti maksud hatinya, kini dia sudah bisa menetapkan hatinya, kemana dia harus berlabuh, kemana dia harus menyandarkan diri dan kemana dia harus pulang.
"kejadian ini, membuat aku takut tapi sekaligus membantuku menentukan pilihanku" batin Farah.
*****
"syukurlah kamu sudah pulang sebelum nenek pulang, aku khawatir nenek akan terkena serangan jantung jika tau kemarin kamu di culik!" kata Michael sambil membantu Farah duduk di sofa.
"Vin, kamu mau minum apa?" kata Michael.
"apa saja, jus boleh, kopi boleh, teh hangat boleh, air putih pun boleh, saat ini semua rasa sama untukku, manis dan pastinya mampu menghilangkan dahagaku!" Kevin melirik ke arah Farah dan mengerlingkan satu matanya.
Farah menjadi kikuk karena kelakuan Kevin.
flashback on
"Kevin" panggil Farah.
"hmm" jawab Kevin
"kamu belum tidur kan?"
"belum" jawab Kevin yang kemudian duduk menyandar.
"aku mau tau, apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu kepadaku? perasaan itu pelarian atau bukan?" tanya Farah.
"tentu saja buka, ah aku malas mengakui hal ini sebenarnya!" Kevin mengusap kasar wajahnya.
"kenapa? apa yang mau kamu akui?" tanya Farah penasaran.
"sebenarnya... sebenarnya... aku sudah mulai menyukaimu sejak kita ada satu projek dengan mu" Kevin mengakui perasaannya.
"tapi aku terus menampiknya karena Santi masih bersamaku, saat itu makanya aku jarang bersama Santi, meskipun bersamanya hati ini terasa sangat hampa, saat Santi ketahuan selingkuh aku mulai merasa seperti orang yang bebannya hilang, hati ini tidak terasa berat lagi dan saat kamu pergi meninggalkanku, tak ada satupun yang beres dalam ke seharian ku" sambung Kevin.
Farah merasa lega Kevin mulai mengakui perasaannya sehingga dia bisa memantapkan pilihan hatinya saat ini.
Farah terus tersenyum sepanjang malam dan terus terngiang ucapan pengakuan Kevin sehingga membuatnya terus tersipu malu sendirian.
__ADS_1
Farah bukan tak mempermasalahkan hubungan Kevin selama ini dengan Santi, tapi dia juga merasa diluar sana banyak orang yang berbuat salah sebelum menyesalinya dan kembali ke jalan yang benar.